Membangun Profesionalisme Pendidik Dalam Menghadapi Millenium

Para ilmuan futurology semacam Alvin Toffler dan Ziauddin Sardar melihat bahwa masa pada Millenium III akan banyak mengandung situasi baru yang tidak akan dapat kita hadapi dengan pola pola prilaku yang kita kuasai selama ini. Pernyataan ini mengandung arti bahwa situasi situasi yang selama ini telah menjadi bagian dari pola kehidupan kita sehari hari akan hilang diganti oleh situasi situasi baru yang sampai saat ini belum pernah muncul dalam sejarah kehidupan umat manusia . Zaman dahulu sebelum datangnya kemerdekaan, problem dalam dunia pendidikan belum sangat tinggi, berbeda dengan permasalahan pendidikan di era modern ini, pada saat ini manusia harus dapat mengarungi masa depan tersebut dengan baik, kita harus mengembangkan pola pola perilaku yang baru, yang sesuai dengan situasi situasi baru itu sendiri. Pada saat millennium ketiga ini yang menjadi sebuah permasalahan besar adalah dampaknya dari era globalisasi itu sendiri, serta banyaknya tantangan tantangan dalam dunia pendidikan khususnya. Selanjutnya langkah apa sajahkah yang harus dihadapi dan dipesiapkan oleh para guru pendidik, dalam menghadapi era globalisasi ini atau pada abad millenium ini? Karena pendidikan dengan guru sebagai ujung tombaknya dalah institusi yang berada pada barisan terdepan dalam mengawal perjalanan umat manusia,dengan profesionalnya yang handal. Dalam konteks pemikiran itulah kita perlu melihat pentingnya membangun professionalisme pendidik dalam menghadapi millennium ketiga ini.

PEMBAHASAN
Sebelum kita membahas lebih jauh tema ini alangkah baiknya kita mengerti lebih dalam lagi mengulang kembali makna dari Profesional, profesionalisme, dan profesionalisasi terlebih dahulu.
Professional menurut Danim Sudarwan (2002) makna profesioanl merujuk pada dua hal,. Pertama, orang yang menyandang suatu professi. Orang yang profesional biasanya melakukan pekerjaan sesuai denan keahliannya dan mengabdikan diri pada pengguna jasa dengan disertai rasa tanggung jawab atas kemampuan profesionalnya itu. Kedua, kinerja atau performance seorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya.
Professionalisme berasal dari bahasa inggris professionalism yang secara leksikal berarti sifat professional. Profesionalisme dapat diartikan sebagai komitmen para anggota suatu professi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan strategi strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu.
Profesionalisasi merupakan peningkatan kualifikasi atau kemampuan para anggota penyandang suatu profesi untuk mencapai kriteria standar ideal dari penampilan atau perbuatan yang diinginkan oleh profesinya itu.
A. Milenium Ketiga dan Dampaknya
Milenium ketiga dengan ciri ciri dan tantangannya sebagaimana akan disebutkan berikut ini akan membawa kita pada apa yang disebut era globalisasi. Suatu keadaan dimana antara manusia dengan manusia yang lain yang berbeda keadaan, geografis, budaya, nilai nilai, bahasa, dan lain sebagainya sudah dapat disatukan melalui teknologi komunikasi seperti telepon, komputer, faksimile, dan sebagainya. Melalui berbagai alat tersebut manusia akan mengetahui berbagai keadaan yang terjadi dibelahan dunia dalam waktu yang bersamaan.
Seperti menampak dikehidupan sehari hari, dengan teknologi dan perindustrian dinamika kehidupan didorong secara kuat ke dalam persaingan tanpa batas demi mendapatkan keuntungan material secara maksimal. Akibatnya kehidupan masyarakat dunia dewasa ini diliputi dengan pertikaian, perseteruan dan peperangan dan sebagainya tanpa dasar dan alasan yang jelas dan real. Seperti yang terjadi saat ini peperengan antara Israil dan Pelastina, invasi Amerika Serikat ke Irak , dan sebagainya baru baru ini umumnya merupakan bukti bahwa terjadi pemberdayaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perindustrian secara tidak terdidik dengan baik. Sebagaimana kita ketahui bahwasannya dalam islam tidak pernah ada pertentangan (dikotomi) antara ilmu pengetahuan dan agama, bahkan sains dan teknologi dalam prespektif islam adalah bagian integral dari ajaran agama, karena menuntut ilmu pengetahuan adalah kewajiban bagi setiap umat islam baik laki laki maupun perempuan . Dan lebih anehnya lagi pada era globalisasi ini masih ada saja para ilmuan di barat yang tidak lagi percaya agama, bahkan agama dianggap sebagai penghambat pertumbuhan ilmu dan cara berfikir ilmiah . Pada era informasi yang sangat maju ini, akan menjadikan lingkungan sosial semakin luas karena disatukan oleh teknologi dibidang komunikasi. Disinilah muncul era globalisasi pesanan elektronik yang semakin besar akan mengeser sosialisasi yang tradisional, seperti orang tua, guru, pendeta, pemerintah dan sebagainya. Komputer dapat menjadi teman bermain orang tua yang akrab, pendeta yang member nasehat juga sewaktu waktu dapat memberikan jawaban yang eksistensial dan mendesak.
B. Upaya Membangun Profesionalisme Guru Dalam Era Modern
Pertama adalah Persiapan Mental, karena pada abad ke 21 atau millennium ketiga dengan berbagai tantangannya tidak lama lagi akan segera datang, sehinga persiapan mental yang bersifat antisipatif tidak dapat ditunda tunda lagi. Dengan menetahui berbagai tantangan yang terdapat pada abad tersebut, maka sekaligus kita dapat menemukan peluang.
Kedua, yaitu membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan, keterampilan, keahlian dan sikap sikap yan dibutuhkan oleh zaman tersebut, disamping kekokohan iman dan ketakwaan terhadap Allah SWT. Tanpa persiapan yang optimal dalam peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan, maka yang bersangkutan dengan sendirinya akan tersingkirkan dan pada akhirnya tidak akan mendapatkan apa apa, tetapi justru mendapatkan penderitaan atau akan menjadi beban orang lain.keadaan itu sudah mulai dirasakan oleh sebagian masyarakat.
Ketiga, yaitu membutuhkan kualitas pendidikan yang bermutu dengan guru sebagai kekuatan inti. Pada saat ini masyarakat sudah mulai memerlukan pendidikan yang bermutu, walaupun harus dibayar mahal. Masyarakat sudah menyadari bahwa masa depan yang kan dihadapi akan lebih berat dari pada masa sekarang. Keadaan seperti ini jelas memerlukan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu bisnis dibidang pendidikan yang unggul yang didukung oleh dana yang kuat managemen yang andal dan sumber daya manusia, khususnya guru yang brmutu sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Keempat abad millennium akan segera datang akan ditandai oleh persaingan yang ketat, era globalisasi yang melanda duni akan menyebabkan bangsa yang satu dengan yang lainya berada dalam sosial yang sama serta akan menghadapi peluang yang sama dan tantangan yang sama. Akibat dari itu semua maka mobilitas kehidupan akan berjalan demikian cepat, waktu demikian punya arti, cara cara bekerja dengan efesien dan professional menjadi dambaan, serta pelayanan yang cepat akan dicari setiap orang.
Kelima yaitu, Menanamkan nilai nilai ilahiyah dari kekosongan jiwa. Pada saat era modern ini jumlah manusia yang stress, gelisah, frustasi, cemas dan tegang yang pada akhirnya terjun dalam bunuh diri, dan lari pada obat obatan terlarang, striping, brutal, dan sebagaiya akan meningkat. Untuk mengatasi masalah inilagi lagi pendidikan guru yang professional sebagai kekuatan inti demikian penting.
Setelah kita melihat lima upaya untuk membangun guru yang professional dalam mendidik, maka dapat kita gambarkan bahwa peran guru disekolah memiliki peran ganda, dipundak merekalah terletak mutu pendidikan। Guru juga seorang managerial yang akan mengelola proses pembelajaran, merencanakan pembelajaran, mendesain pembelajaran melaksanakan aktifitas pembelajaran bersama siswa dan melakukan pengontrolan atas kecekapan dan prestasi siswa siswanya . Dalam memanage sebuah lembaga pendidikan peran guru professional sangat mutlak dibutuhkan karena merekalah yang akan menjadi acuan dan pondasi dalam setiap permasalahan khususnya dalam pendidikan.

C. Tantangan Era Milenium Terhadap Dunia Pendidikan

Kehadikan era millennium ketiga yang ciri-cirnya disebutkan diatas, pada akhirnya akan menjadi tantangan yang serius bagi dunia pendidikan dengan guru sebagai pemeran utamanya. Tantangan tersebut antara lain, mampukah dunia pendidikan menghasilkan lulusan yang dapat memainkan peranannya ecara fungsional di tengah-tangah msyarakat era informasi tersebut. Berkaitan dengan ini maka upaya membangun profesonalisme guru tidak dapat di tunda-tunda lagi. Untuk itu, beberapa pemikiran di bawah ini sebagai dari terjadinya era globalisasi perlu dipertimbangkan dan direnungkan.

Pertama, masalah masalah yang kita hadapi saat ini dan masa depan adalah sebenarnya bersiat saling berkaitan dan lebih tepat kalau dipandang sebagai masalah yang kompleks. Dengan konsep belajar itu, setiap masalah akan didekati dengan pendekatan yang bersifat Integrated dan Hollistic. Mengingat maslah pendidikan bukanlah masalah bukanlah yang bersifat hierarkis structural. Melainkan saling terkait dengan masalah lain secara horizontal. Kerjasama lembaga pendidikan dengan yayasan, perindustrian, perusahaan semakin diperlukan, dan kondisi seperti ini yang harus difahami oleh professional.

Kedua, Torstein Husein dalam bukunya Learning Society mengajukan konsep yang disebut “ Masyarakat Belajar”. Menurut konsep ini belajar dimasa sekarang tidak dapat hanya dilakukan diruangan kelas melainkan dengan cara mengintegrasikan seluruh sumber informaasi yang ada dimasyarakat kedalam kegiatan belajar mengajar. Bahan bahan infomasi yang tersedia di berbagai media massa seperti surat kabar, majalah, radio, televise, computer, dan lain sebagainya harus didayagunakan untuk kepentingan belajar. Kita dapat membayangkan betapa tertinggalnya kita dari keadaan yang terjadi di masyarakat apabila kita tertinggal dari keadaan yang terjadi dimasyarakat apabila dalam satu bulan kita tidak membaca Koran, majalah, atau menonton berita.

Ketiga, keadaan sebagaimana dikemukakan diatas menghendaki dunia pendidikan menata ulang berbagai aspek pendidikan yang selama ini dilakukan. Aspek aspek pendidikan seperti tujuan, kurikulum, guru, metode dan pendekatan yang digunakan, sarana dan prasarana yang tersedia, lingkungan evaluasi, dan lain sebagainya perlu ditinjau kembali.

Untuk dapat memenuhi tuntunan tersebut Fakultas Tarbiyah yang ada sekarang harus merumuskan kembali konsep pengembangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat। Hal itu dapat dimulai dari diskusi, seminar, lokakarya, sampai perumusan langkah langkah yang bersifat operasional. Jika hal yang sedemikian tidak segera dibenahi maka peran dan kontribusinya akan dilupakan masyarakat dimasa mendatang, yang pada akhirnya fakultas tarbiyah ini akan ditinggalkan oleh masyarakat, inilah tantangan yang harus dijawab!

KESIMPULAN
Berdasarkan dari pemaparan dan uraian di atas dapat kita ambil beberapa kesimpulan diantaranya ialah :
1) Persiapan Mental, dalam membangun generasi muda islam, seorang guru harus menanamkan mental yang kuat terhadap para siswanya agar dapat menghadapi era millennium.
2) Membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan, keterampilan, keahlian dan sikap sikap yan dibutuhkan oleh zaman tersebut, disamping kekokohan iman dan ketakwaan terhadap Allah SWT.
3) Membangun kualitas pendidikan yang bermutu, dengan guru sebagai kekuatan inti dalam menggagas dan membangun pendidikan.
4) Menanamkan nilai nilai ilahiyah kepada generasi muda dari kekosongan jiwa, agar mereka tidak terjerumus dalam dunia yang penuh dengan kemaksiatan di era millennium ini।

PENUTUP
Berdasarkan uraian tersebut, dapat terlihat dengan jelas bahwa peran utama yang dilakukan oleh Fakultas Tarbiyah dalah menghasilkan tenaga guru yang handal dan professional, yaitu tenaga guru yang siap memasuki tugas mengisi sekolah sekolah yang saat ini sudah menerapkan system sekolah unggulan. Selain itu juga harus mengembangkan berbagai aktivitasnya sejalan dengan tuntunan zaman. Jika hal ini dapat dilakukan, maka hal ini yang akan menjadi kekuatan Fakultas Tarbiyah dan dapat mewujudkan generasi generasi yang professional dalam menghadapi segala permaslahan.

0 Response to "Membangun Profesionalisme Pendidik Dalam Menghadapi Millenium"

Post a Comment