Manajemen Kurikulum Dalam Persfektif Sekolah luar dan Gontor


Masa depan bangsa terletak dalam tangan generasi muda. Mutu bangsa dikemudian hari bergantung pada pendidikan yang dikecap oleh anak-anak sekarang, terutama melalui pendidikan yang ditrima di sekolah. Apa yang akan di sekolah, ditentukan oleh kurikulum sekolah itu. Jadi barang siapa meguasai kurikulum memegang nasib bangsa dan negara. Maka dapat dipahami bahwa kurikulum sebagai alat yang begitu vital bagi perkembangan bangsa dipegang oleh pemerihtah suatu negara. Dapat pula dipahami betapa pentingnya usaha mengembangkan kurikulum itu. Oleh sebab itu setiap guru merupakan kunci utama dalam pelaksanaan kurikulum, maka ia harus pula memahami seluk-beluk kurikulum. Hingga batas tertentu, dalam skala mikro, guru juga sorang pengembang kurikulum bagi kelasnya.

II Pembahasan
§ Manajemen Kurikulum Menurut Perspektif Umum
Yang pertama yang perlu kita jelaskan adalah manajemen; 1. adalah sebuah aktifitas menggerakkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan. 2. Sebuh proses mengintegrasikan atau memadukan sumber-sumber baik berupa orang, alat-alat, media, dana, sarana menjadi satu sistem untuk mencapai suatu tujuan yang komprehensif. 3. Segenap perbuatan menggerakkan sekelompok orang dan fasilitas kemudian dipadukan untuk melakukan suatu usaha.
Yang kedua, perkatan kurikulum dikenal sebagai suatu istilah dalam dunia pendidikan sejak kurang lebih satu abad yang lampau. Artinya pada waktu itu adalah: 1. A race cours; a plce for running; a chariot. 2. A cours in general; applied particilary to the cours of study in university. Jadi dengan kurikulum dimaksud suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dalam perlombaan, dari awal sampai akhir.
Di Indonesia istilah “kurikulum” boleh dikatakan baru menjadi populer sejak tahun lima puluhan, yang dipopulerkan oleh mereka yang memperoleh pendidikan diAmerika. Kini istilah itu telah dikenal orang diluar pendidikan. Sebelumnya yang lazim digunakan ialah “rencana pelajaran”. Pada hakikatnya kurikulum sama artinya dengan rencana pelajaran.
Dalam teori, tetapi juga dalam prakti, pengertian kurikulum yang lama sudah banyak ditinggalkan. Para ahli pendidikan kebanyakan memberi arti dan isi yang lebih luas daripada semula. Selain itu pengertiannya pun senantiasa dapat berkembang dan mengalami perubahan. Perubahan itu antara lain terjadi karena orang tak kunjung puas dengan hasil pendidikan sekolah dan selalu ingin memperbaikinya. Memang tak mungkin disusun suatu kurikulum yang baik serta mantap sepanjang zaman. Suatu kurikulum hannya mungkin baik untuk suatu masyarakat tertentu pada masa tertentu. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengubah masyarakat dengan sendirinya kurikulumpun tak dapat tiada harus disesuaikan dengan tuntutan zaman.
Dibawah ini ada sejumlah definisi kurikulum menurut beberapa ahli kurikulum.
a) J. Galen saylor dan william M. Alexander dalam buku Curriculum Planning For Better Taching and Learning (1956) menjelaskan arti kurikulum sebagai berikut: segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah termasuk kurikulum. Kurikulum meliputi juga apa yang disebut kegiatan ekstra-kurikuler.
b) Harold B Albertycs. Dalam Reorganizing the high-School Curriculum (1965) memandang kurikulum sebagai: kurikulum tidak terbatas pada mata pelajaran, akan tetapi juga meliputi kegiatan-kegiatan lain, di dalam dan luar kelas, yang berada di bawah tanggung jawab sekolah.
c) B. Othanel Smith. W.O. Stanley, dan J. Harlan Shores memandang kurikulum sebagai sejumlah pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak dan pemuda, agar mereka dapat berpikir dan berbuat sesuai dengan masyarakatnya.
d) J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller dalam buku Secondary School Improvement (1973) juga menganut definisi yang luas. Menurut mereka dalam kurikulum juga termasuk metode belajar mengajar, cara mengevaluasi murid dan program, perubahan tenaga mengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi dan hal-hal struktural mengenai waktu, jumlah ruangan serta kemungkinan memilih mata pelajaran. Ketiga aspek pokok, program, manusia, fasilitas sangat erat hubungannya, sehingga tak mungkin diadakan perbaikan kalau tidak diperhatikan ketiga-tiganya.

Tak semua ahli kurikulum menganut pendirian yang begitu luas. Hilda Taba berpendapat bahwa definisi yang terlampau luas mengaburkan pengertian kurikulum sehingga menghalangi pemikiran dan pengolahan yang tajam tentang kurikulum. Jika kurikulum dirumuskan sebagai “segala usaha yang dilakukan oleh sekolah untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam situasi di dalam maupun di luar sekolah “atau sebagai” sejumlah pengalaman yang potensial yang dapat diberikan oleh sekolah dengan tujuan agar anak dan pemuda dibiasakan berpikir dan berbuat menurut kelompok atau masyarakat tempat ia hidup”, maka definisi yang luas itu membuatnya tdak fungsional. Maka Hild Taba memilih posisi yang tidak terlampau luas dan tidak pula terlampau sempit, karena definisi yang sempit tidak lagi diterima oleh sekolah modern.
Mengembangkan kurikulum bukan sesuatu yang mudah dan sederhana karena banyak hal yang harus dipertimbangkan dan banyak pertanyaan yang dapat diajukan untuk diperhitungkan. Misalnya: Apkah yang ingin dicapai, manusia yang bagaimana diharapkan untuk dibentuk? Apakah akan diutamakan kebutuhan anak pada saat sekarang atau masa mendatang? Apakah hakikat anak harus dipertimbangkan, ataukah ia diperlakukan sebagai orang dewasa? Apakah kebutuhan anak itu? Apakah harus dipentingkan anak sebagai individu atau sebagai nggota kelompok? Apakh yang harus dipentingkan, mengajarkan kejujuran atau memberikan pendidikan umum?
Semua pertanyaan itu menyangkut asas-asas yang mendasari setiap kurikulum, salah satunya adalah: asas filosofis yang berkenaan dengan tujuan pendidikan yang sesuai dengan filsafat negara (pancasila) yaitu sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi manusia yang “baik” pada hakikatnya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita atau filsafat yang dianut negara, tapi juga guru, orang tua, masyarakat bahkan dunia. Perbedaan filsafat dengan sendirinya akan menimbulkan perbedaan dalam tujuan pendidikan, jadi juga bahan pelajaran yang disajikan, mungkin juga cara mengajar dan menilainya. Pendidikan di negara otokratis akan berbeda dengan negara yang demokratis, pendidikan di negara yang menganut agama Budha akan berlainan dengan pendidikan di negara yang memaluk agama Islam atau Kristen.
Ralph W. Tyler dalam bukunya BASIC PRINCIPLES of CURRICULUM and INSTRUCTION (1949), salah satu buku yang paling berpengaruh dalam pengembangan kurikulum, mengajukan 4 pertanyaan pokok , yakni:
1. Tujuan apa yang dicapai sekolah?
2. Bagaimanakah memilih bahan pelajaran guna mencapai tujuan itu?
3. Bagaimanakah bahan disajikan agar efektif diajarkan?
4. Bagaimana efektifitas belajar dapat dinilai?
Berdasarkan pertanyaan itu, maka diperoleh keempat komponen-komponen kurikulum yakni, 1) tujuan, 2) bahan pelajaran ,3) proses belajar-mengajar, 4) evaluasi atau penilaian.
Keempat komponen itu saling berhubungan. Bila salah satu komponen berubah, misalnya ditonjolkannya tujuan yang baru, atau proses belajar-mengajar, misalnya metode baru, atau cara penilaian, maka semua komponen lainnya turut mengalami perobahan. Kalau tujuannya jelas, maka bahan pelajaran, PBM, maupun evaluasipun lebih jelas.
Di bawah ini kurikulum juga mempunyai prinsip-prinsip pembinaan dan pengembangan kurikulum yakni :
1. Prinsip relevansi.
2. Prinsip efektivitas.
3. Prinsip efisiensi.
4. Prinsip kontinuitas.
5. Prinsip fleksibilitas.

1. Prinsip Relevansi.
Secara umum, istilah relevansi pendidikan dapat diartikan sebagai kesesuaian, kepadanan atau keserasian program pendidikan dengan tuntutan kehidupan. Dengan kata lain pendidikan ipandang relevan bila hasil yang diperoleh dari pendidikan tersebut berguna atau fungsional bagi kehidupan.
2. Prinsip Efektivitas.
Efektifitas berhubungan dengan sejauh manakah tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Efektivitas dapat dibedakan atas dua macam yaitu:
a. Efektivitas mengajar guru.
Untuk meningkatkat efektivitas mengajar guru diselenggarkan misalnya melalui penataran-penataran dan sebagainya.
b. Efektivitas belajar murid.
Efektivitas belajar murid terutama menyangkut sejauhmana tujuan-tujuan pelajaran yang diinginkan telah dapat dicapai melalui kegiatan belajar-mengajar yang ditempuh.
Misalnya dengan memilih jenis-jenis metode atau alat dipandang paling ampuh didalam mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.

3. Prinsip Efisiensi.
Prinsip efisiensi berkaitan dengan proses mencapai tujuan. Untuk menentukan taraf efisiansi suatu usaha bisanya diperbandingkan antara hasil yang diperoleh dengan usaha yang telah dikeluarkan, antara out put (keluaran) dan input (masukan), suatu tindakan dikatakan efisien jika hanya dengan usaha minimal dapat dicapai hasil yang maksimal.
Prinsip efisiensi biasanya berhubungan dengan waktu, tenaga, peralatan dan biaya.
4. Prinsip Kontinuitas.
Dengan kontinuitas di sini dimaksudkan adalah adanya saling hubungan atau jalin-
Jalin-menjalin antara satu bidang studi dengan bidang studi lain, antara kelas (tingkat)
dengan kelas lain, dan antara satu jenjang sekolah dengan jenjang sekolah lain.
5. Prinsip Fleksibilitas.
Fleksibilitas di sini maksudnya adalah “tidak kaku” artinya, adanya suatu ruang gerak
dalam kurikulum yang membrikan sedikit peliang, keluasan bertindak.
Fleksibilitas atau keluwesan program disini mencakup fleksibilitas murid dalam memilih program pelajar/pendidikan dan fleksibilitas guru dalam pengembangan program pengajaran.
a. Fleksibilitas murid dalam memilih program pendidikan.
Fleksibilits di sini dapat diwujudkan dalam bentuk pengadaan program-program pilihan tersebut dapat berbentuk jurusan/program spesialisasi ataupun program-program pendidikan keterampilan yang dapat dipilih murid atas dasar kemampuan dan minatnya.
b. Fleksibilias Guru dalam mengembangkan program pengajaran.
Fleksibilitas di sini dapat diwujudkan antaralain dalam bentuk memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk mengembangkan sendiri program pengajaran dengan berpegang pada tujuan dan bahan pengajaran, di dalam kurikulum yang masih bersifat umum.
Dibawah ini akan membicarakan tentang makna perubahan kurikulum dan perbaikan kurikulum serta bagaimana terjadinya perubahan.
a. Bila kita berbicara tentang perubahan kurikulum, kita dapat bertanya dalam arti apa kurikulum digunakan. Kurikulum dapat dipandang sebagai buku atau dokumen yang dijadikan guru sebagai pegangan dalam proses belajar mengajar. Kurikulum juga dapat dilihat sebagai produk yaitu apa yang diharapkan dapat dicapai sisiwa dan sebagai proses untuk mencapainya. Keduanya saling berkaitan. Kurikulum dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang hidup dan berlaku selama jangka waktu tertentu dan perlu direvisi secara berkala agar tetap relevan dengan prkembangan zaman. Selanjutnya kurikulum dapat ditafsirkan sebagai apa yang dalam kenyataan terjadi dengan murid dalam kelas. Kurikulum dalam arti ini tak mungkin direncanakan sepenuhnya betapapun rincinya direncanakan, karena interaksi dalam kelas selalu timbul hal-hal yang spontan dan kreatif yang tak dapat diramalkan sebelumnya. Dalam hal ini guru lebih besar kesempatannya menjadi pengembang kurikulum dalam kelasnya. Akhirnya kurikulum dapat dipandang sebagai cetusan jiwa pendidik yang berusaha untuk mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang tertinggi dalam kelakuan anak-didiknya. Kurikulum sangat erat hubungannya dengan kepribadian guru.
b. Perbaikan kurikulum
perubahan tak selau sama dngan perbaikan, akan tetapi perbaikan selalu mengandung perubahan. Perbaikan berarti meningkatkan nilai atau mutu. Perubahan adalah pergeseran posisi, kedudukan atau keadaan yang mungkin membawa perbaikan, akan tetapi dapat juga memperburuk keadaan. Anak yang mula-mula tak mengenal ganja, dapat berubah menjadi anak yang mengenalnya lalu terlibat dalam kejahatan. Perubahan disini tidak membawa perbaikan. Namun demikian sering diadakan perubahan dengan mansud terjadinya perbaikan.
c. Bagaimana terjadinya perubahan
Menurut para ahli sosiologi, perubahan terjadi dalam tiga fase, yakni fase inisiasi, yaitu taraf permulaan ide peribahan itu dilancarkan, dengan menjelaskan sifatnya, tujuan, dan luas perubahan yang ingin dicapai; fase legitimasi, saatnya orang menerima ide itu dan fase kongruensi, saatnya orang mengadopsinya, menyamakan pendapat sehingga selaras dengan pikiran pencetus, sehingga tidak terdapat perbedaan nilai lagi antara penerimaan dan pencetus perubahan.
Untuk mencapai kesamaan pendapat, berbagai cara yang dapat digunakan, misalnya motivasi intrinsik dengan janji kenaikan gaji atau pangkat, memperoleh kredit, paksaan keras atau halus, dengan menggunakan otoritas dan indoktrinitas. Dapat juga dengan membangkitkan motivasi intrinsik dengan menjalankan sikap ramah, akrab, penuh kesabaran dan pengertian, mengajak turut berpartisipasi, mengemukakan perubahan sebagai masalah dipecahkan bersama. Perubahan akan lebih berhasil, bila dari pihak guru dirasakan kekurangan dalam keadaan, sehingga timbul hasrat untuk memprbaikinya demi kepentingan bersama. Perubahan yang terjadi atas paksaan dari pihak atasan, biasaya tidak bisa bertahan lama, segera luntur dan hanya diikuti secara formal dan lahiriah. Menjadikan perubahan sebagai masalah, pengumpulan data, mengunji alternatif, dan selanjutnya mengambil kesimpulan berdasarkan percobaan, dianggap akan lebih mantap dan meresap dalam hati guru. Akan tetapi karena prosedur ini makan waktu lama dan tenaga yang banyak, dan selain itu diinginkan perubahan yang uniform diemua sekolah, maka sering dijalankan cara otoriter, indoktrinatif, tanpa mengakui pengakuan guru untuk befikir enduiri dan hanya diharuskan menerima saja. Cara ini efisien, namun dalam jangka panjang tidak efektif. Dan bila ada perubahan atau perbaikan baru, yang lama ditinggalkan saja tanpa membekas.
Kurikulum tak kunjung sempurna dan senatiasa dapat diperbaiki. Bahan segera usang karena kemajuan zaman, pelajaran harus memperhatikan perbedaan individu dan mencari relevansi dengan kebutuhan setempat, dan sebagainya. Bila kita ingin memperbaiki kurikulum sekolah, kita harus memperhatikan sejumlah dasar-dasar pertimbangan, agar usaha itu berhasil baik, antara lain: (Asas-asas kurikulum)
v Memperbaiki tujuan perbaikan
v Mengenal situasi sekolah
v Mengetahui kebutuhan siswa atau guru
v Mengenal masalah yang dihadapi sekolah
v Mengenal kompetensi guru
v Mengetahui gejala sosial
v Mengetahui perkembangan dan aliran dalam kurikulum.
Mengetahui tujuan perbaikan.
Langkah pertama adalah mengetahui dengan jelas apa sebenarnya ingin dicapai, bagaimana cara mencapainya, bagaimana melaksanakannya,apakah perlu dicari proses belajar mengajar baru, sumber belajar apa yang diperlukan, bagaimana mengorganisasi bahan itu, bagaimana menilainya, tujuannya harus diperjelas dan diubah, demikian pula desain perbaikan atau implementasinya dan metode penilaiannya. Jadi perbaikan kurikulum tak kunjung berakhir dan bergerak terus. Kurikulum bukan benda mati akan tetapi sesuatu yang hidup mengikuti perkembangan zaman.
Mengenal keadaan sekolah.
Sering guru-guru tidak mengenal betul situasi sekolah yang sebenarnya, misalnya kurang mengenal potensi guru, sumber belajar yang tersedia sekolah atau lingkungan, kurang mengenal keadaan masayarakat lingkungan, tidak mengenal sejarah perkembangan sekolah atau memahhami kurikulum sekolah sebagai keseluruhan serta hubungannya dengan instansi lain, atau bantuan yang dapat diperoleh, misalnya dari staf perguruan tinggi, termasuk IKIP.
Mempelajari kebutuhan murid dan guru.
Agar ada dorongan untuk memperbaiki kurikulum harus disadari adanya kesenjangan antara keadaan yang nyata dengan apa yang diharapkan oleh kurikulum resmi atau apa yang diinginkan siswa dan guru. Mengetahui kebutuhan itu merupakan titik tolak bagi usaha perbaikan. Tujuan aendidikan seperti yang diharapkan pemerintah dapat memerikan dorongan untuk mengadakan peurbahan dalam keadaan sekarang yang dirasa untuk memuaskan. Untuk melaksanakan perbaikan itu perlu diadakan studi yang lebih luas guna memperoleh data lain yang dirasa perlu. Data tentang siswa, kadaan siswa secara keseluruhan, macam-macam golangan etnis, jumlah penerimaan lulusan dan putus sekolah, hasil belajar dll.
Untuk memperoleh data digunakan tes tertutup dan terbuka, wawancara, angket, analisis pekerjaan murid, opservasi dan lain-lain.
Mengenal masalah yang dihadapi sekolah
Masalah yang dipilih hendaknya jangan terlampau luas sehingga sukar dikendalikan. Sebaliknya jangan pula terlampau sempit sehingga tak bermakna. Masalah yang dianjurkan oleh pihak luar, mungkin tidak dirasa relevan, tidak praktis oleh guru dan tidak akan mendapat dukungan.
Mengenal kompetensi guru
Untuk memperbaiki kuriukulum perlu diketuhui kompetensi guru sebagai partisipan dalam pengembangannya, pengethauan mareka tentagn seluk- beluk kurikulum, bahan pelajaaran, proses belajar mengajar,psikologi anak, sosiologi,dan sebaginya.
Mengenal gejala sosial
Perbaiakan kurikulum dapat berasal dari desakan dari dalam dunia pendidikan, maupun dari luarnya. Dari dalam pendidikan dorongan kearah perbaikan dapat bersumber dari guru, kepala sekolah, murid, dapat juga dari penilik sekolah, atau kementerian. Juga dari pihak luar datang usul-usul perbaiakn sekolah karena tiap orang tua mengharapkan pendidikan yang sebaik-baiknya bagi anaknya.
Mengetahui aliran-aliran dalam pengembangan kurikulum.
Kurikulum adalah bidang yang subur bagi penelitian. Banyak buku dan karangan terbit berkenaan dangan studi tentang kurikulum. Berbagai aliran timbul untuk mencari alternatif baru sebagai reaksi terhadap praktik kurikulum yang berlaku sekarang. Tiap aliran mengandung hal yang positif yang dapat memperluas pandangan guru tentang kurikulum yang dapat mendorongnya untuk menerapkannya sejauh mungkin. Ide-ide baaru dapat menjadi pokok diskusi dikalangan guru, asal diadakan waktu khusus oleh kepala sekolah untuk membicarakan kurikulum sekolah secara berkala.
§ Manajemen kurikulum menurut perspektif Pondok Modern Darussalam Gontor.
Dalam studi kependidikan Islam istilah kurikulum menggunakan kata “manhaj” yang berarti sebagai jalan yang terang atau jalan yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Jalan terang tersebut adalah jalan yang dilalui pendidik dan pembimbing dengan orang yang kitab Islam klasik sering disebit kitab kuning oleh karena warna kertas edisi-adisi kebanyakan berwarna kuning.
Menurut Dhofier, “pada masa lalu, pengajaran kitab-kitab Islam klasik merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren”. Pada saat ini, kebanyakan pesantren telah mengambil pengajaran pengetahuan umum sebagai suatu bagian yang juga pendidikan pesantren, namun pengajaran kitab-kitab Islam klasik masih termasuk prioritas tinggi. Pada umumnya, pelajaran dimulai dengan kitab-kitab yang sederhana, kemudian dilnjutkan dengan kitab-kitab yang lebih mendalam. Dan tingkatan suatu pesantren bisa diketahui dari jenis kitab-kitab yang diajarkan.
Ada delapan macam bidang pengetahuan yang diajarkan dalam kitab-kitab klasik, yaitu Nahwu dan Sharaf, Fiqh, Usul Fiqh, Hadits, Tafsir, Tauhid, Tasawuf dan Akhlak, dan cabang-cabang lain seperti Tarikh dan Balaghah, semua janis kitab ini dapat digolongkan kedalam kelompok menurut tingkat ajarannya, misalnya: tingkat dasar, menengah, dan lanjut. Kitab yang diajarkan di pesantren di Jawa pada umumnya sama.
Kurikulum di Gontor selalu dan diperbaharui dari waktu kewaktu dengan selalu mempertimbangkan perkenbangan dan perubahan yang terjadi di luar pondok. Prinsip al muhafazah ‘ala al-qadim al-salih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah menjadi pegangan dalam melakukan perubahan ini. Perubahan bisa berlaku cepat jika perubahan itu menyangkut materi-materi yang bersifat “umum”, tetapi terhadap materi-materi “agama maka perubahan dilakukan sangat hati-hati.
Perubahan kurikulum di Gontor tidak hanya dilakukan dengan mengajarkan ilmu agama (revealed knowledge) di samping ilmu kawniyah (acquired knowledge), tetapi keduanya berjalan terpisah sendiri-sendiri. Diakui bahwa antara ilmu-ilmu itu memang berbeda, tetapi tidak berarti keduanya terpisah. Karena itu pembaharuan kurikulum lebih jauh dilakukan dengan mengintegrasikan keduanya sehingga pengajaran ilmu kawniyah tidak terlepas dasar dan nilai agama, dan sebaliknya pengajaran ilmu-ilmu agama dikembangkan sejalan dengan perkenbangan keilmuan umum. Pembaruan juga dilakukan dengan mengintegrasikan kurikulum yang intra dan ekstra. Namun, untuk memudahkan pengorganisasian kegiatan agar menjadi efektif dan efisien, pelaksanaan kurikulum itu didelegasikan kepada lembaga-lembaga yang telah ditetapkan. Kegiatan intrakurikuler diselnggarakan oleh lembaga Kulliyat al-Mu’llimin al-Islamiyyah (KMI) untuk jenjang menengah dan Institut Studi Islam Darussalam (ISID) untuk tingkat prguruan tinggi. Sedangkan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler merupakan tanggung jawab lembaga Pengasuhan Santri.
III. penutup
Sebenarnya kurikulum dalam praktik mengajar di sekolah-sekolah sering masih jauh ketinggalan jikalau dibandingkan teori-teori yang ada mengenai kurikulum. Sebenarnya teori-teori itu telah dilaksanakan pada sekolah-sekolah modern di luar negri. Juga di Indonesia perubahan-perubahan telah dijalankan, walaupun jalannya lambat dan berangsur-angsur seperti yang lazim terdapat dalam setiap perkembangan kurikulum. Kita tidak mengharapkan perubahan yang revolusioner, akan tetapi yang berangsur-angsur, melalui eksperimentasi dengan metode-metode modern pada sekolah-sekolah percobaan..
Sebenarnya kita tidak perlu menunggu perintah dari atasan. Seperti kita ketahui perubahan kurikulum mulai dengan perubahan guru itu sendiri. Perbaikan kurikulum dengan sendirinya akan diperoleh, jikalau guru mempunyai konsepsi baru tentang kurikulum. Oleh sebab kurikulum itu sangat banyak aspek-aspeknya, kita dapat mengadakan perbaikan dalam berbagai aspek, asal saja kita tidak berpegang dengan gigih kepada tradisi yang kolot.

0 Response to "Manajemen Kurikulum Dalam Persfektif Sekolah luar dan Gontor"

Post a Comment