Perbedaan Invidual Siswa Dasar Manajemen Pengajaran


Kegiatan belajar mengajar dikelas bukanlah hanya sebuah kegiatan transfer ilmu semata, tapi lebih jauh lagi dalam hal penyiapan dan pembentukan generasi yang lebih kompeten pada bidang yang dipilihnya. Tentunya kegiatan belajar mengajaryang dilakukan dikelas tidaklah semudah dalam sinetron yang “tiba-tiba” menjadi pintar tanpa upaya maksimal baik dari guru, siswa, sekolah dan aspek lainnya yang mempengaruhi pendidikan itu sendiri. Dibutuhkan dukungan dari semua aspek yang menjadi faktor penentu keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah dan salah satunya adalah tingkat kemampuan guru dalam menemukan dan melayani perbedaan individu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dalam upaya meningkatkan pelayanan pendidikan terhadap siswa yang masing-masing individunya berbeda.
Sedang seperti kita ketahui, bahwasanya pada dasarnya tiap individu merupakan satu kesatuan, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari dua segi, yakni horizontal dan vertical. Perbedaan segi horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti tingkat kesadaran, bakat, minat, ingatan, emosi, dan sebagainya. Perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah, seperti: bentuk, tinggi dan besarnya badan, tenaga, dan sebagainya. Masing-masing aspek individu tersebut besar pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar.
Perbedaan individual disebabkan oleh dua faktor, ialah faktor keturunan atau bawaan kelahiran, dan faktor pengaruh lingkungan. Kedua faktor ini memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan siswa atau peserta didik. Mungkin salah satu factor ada yang lebih dominan, namun tetap kedua faktor tersebut masing-masing berpengaruh, dan pada gilirannya ternyata tidak ada dua individu yang sama.

PEMBATASAN MASALAH
Dalam kajiannya agar pembahasan tidak terlalu melebar dan meluas dari fokus yang akan dipaparkan maka penulis membatasi pada hal-hal pokok yang berkaitan dengan obyek tulisan yaitu perbedaan invidual siswa dalam pendidikan yang meliputi;
1. Penjelasan dari pengertian perbedaan individu, karakteristik individu dan aspek-aspek perkembangan individu yang banyak mempengaruhi pencapaian belajar.
2. Jenis-jenis perbedaan individual siswa
3. Kemampuan yang harus disiapkan oleh seorang guru atau strategi dalam menghadapi kesulitan belajar siswa dikarenakan adanya perbedaan-perbedaan invidual siswa dalam pendidikan dan pengajaran.

PEMBAHASAN
Peserta didik adalah manusia dengan segala fitrahnya. Mereka mempunyai kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi, kebutuhan akan rasa aman, mendapatkan pengakuan, dan mengaktualisasi dirinya. Dalam tahap perkembangannya, siswa SMP atau SMA berada pada periode perkembangannya yang sangat pesat dari segala aspek. Perkembangan yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, yaitu:
a. Perkembangan Aspek Kognitif
Menurut Piaget (1970), periode yang dimulai pada usia 12-18 tahun, yaitu yang lebih kurang sma dengan usia siswa SMP/SMA, merupakan period of formal operation. Pada usia ini, yang berkembang pada siswa adalah kemampuan berfikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna (meaning fully) tanpa memerlukan objek yang kongkret atau bahkan objek yang visual. Siswa telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif. Pada tahap perkembangan ini juga berkembang ketujuh kecerdasan dalam Multiple Intellegeneces yang dikemukakan oleh Gardner (1993) yaitu; kecerdasan linguistik, kecerdasan logis metematis, mekerdasan musikal, kecerdasan spansial, kecerdasan kinestik ragawi, kecerdasan intrapribadi, kecerdasan antarpribadi. Ketujuh kecerdasan ini seyogianya dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik keilmuan pendidikan di berbagai jenjang pendidikan .

b. Perkembangan Aspek Psikomotoris
Aspek psikomotoris merupakan salah satu aspek yang penting untuk diketahui oleh guru. Perkembangan aspek psikomotoris juga melalui beberapa tahap yaitu: - Tahap kognitif - Tahap asosiatif - Tahap otonomi

c. Perkembangan Aspek Afektif
Afektif mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki oleh setiap peserta didik, yang juga perlu mendapatkan perhatian dalam pembelajaran. Aspek afektif tersebut dapat terlihat selama pembelajaran, terutama ketika siswa bekerja kelompok. Oleh karena itu, selama pembelajaran, guru senantiasa terus memantau dan mengamati aktifitas siswanya.

1. Individu dan Karakteristiknya
a. Pengertian Individu
Manusia adalah mahluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut. Sebagaimana diketahui, manusia adalah mahluk yang berfikir atau homo sapiens, mahluk yang berbentuk atau homo faber, mahluk yang dapat dididik atau homo educandum, dan seterusnya merupakan pandangan-pandangan tentang manusia yang dapat digunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan dilakukan terhadap manusia tersebut. Uraian tentang manusia dengna kedudukannya sebagai peserta didik haruslah menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh. Dalam kaitannya dengan kepentingan pendidikan, akan lebih ditekankan hakekat manusia sebagai kesatuan sifat mahluk individu dan mahluk sosial. Individu berarti tidak dapat dibagi (undivided) dan tidak dapat dipisahkan. Keberadaannya sebagai mahluk yang pilah, tunggal, dan khas. Seseorang berbeda dengan ornag lain karena ciri-cirinya yang khusus tersebut (Webster’s:743). Menurut Echols & Shadaly, idividu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, oknum (Echols,1975:519)

b. Karakteristik Individu
Setiap individu mempunyai ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan; karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Pada masa lalu, terdapat keyakinan serta kepribadian terbawa pembawaan (heredity) dan lingkungan. Hal tersebut merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor yang terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Akan tetapi, makin disadari bahwa apa yang dirsakan oleh banyak anak, remaja, atau dewasa merupakan hasil dari perpaduan antara apa yang ada di antara faktor-faktor biologis yang diturunkan dan pengaruh lingkugan. Natur dan nurture merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Sejauh mana seseorang dilahirkan menjadi seorang individu ata sejauh mana seseorang dipengaruhi subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

c. Aspek Perkembangan Individu
Perkembangan-perkembangna dasar atau esensi dari lingkungan belajar-mengajar yang sehat adalah suasana belajar yang secara nyata dapat menumbuhkan munculnya perasaan yang terdapat antara siswa dan guru di dalam kelas. Perasaan-perasaan yang mendasari transaksi belajar mengajar tersebut tergantung pada peran guru dalam menciptakan situasi belajar yang kondusif dan sehat adalah situasi belajar yang dapat menumbuhkan perasaan dekat antara guru dan anak, merasa saling membutuhkan, saling menghargai, dan sebagainya . Dengan perasaan salaing memperhatikan yang terdapat antara guru dan anak dalam proses belajar mengajar, sikap guru yang merupakan cerminan perasaan yang melandasi transaksi belajar mengajar diantaranya adalah:
a) Penerimaan (acceptance), sikap ini meliputi pengenalan dan pengakuan terhadap berbagai kemampuan dan keterbatasan mental, emosi, fisik, dan sosial yang dimiliki anak.
b) Rasa aman, rasa ini merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu memperoleh pemenuhan sehingga dalam proses belajar mengajar diperlukan pula adanya rasa disayangi dan diterima oleh kelompok dan guru.
c) Dan pemahaman akan adanya individualitas (differences), pemahaman pendidik bahwa tidak ada manusia yang sama serta perilaku siswa selalu bersifat unik menjadikan diperlukan kesabaran dalam menghadapi berbagai perilaku anak.

2. Jenis-jenis Perbedaan individual
Perbedaan individual menyangkut dengan berbagai aspek yang masing-masing memilki ciri-ciri tertentu;
1. Aspek kecerdasan, atau dari segi intelektual. Siswa yang kurang cerdas menunjukkan ciri-ciri belajar lebih lamban, memerlukan banyak latihan, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk maju, tidak mampu melakukan abstraksi. Siswa yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi pada umumnya memilki perhatian yang lebih baik, belajar lebih cepat, kurang memerlukan latihan, mampu menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang singkat, mampu menarik kesimpulan dan melakukan abstraksi;
2. Aspek psikologis, mencakup minat, bakat, perhatian dan juga kemandirian. Minat dan perhatian sangat mempengaruhi perkembangan individu. Didalam salah satu asaz diktatik lama disebutkan bahwa dengan adanya perhatian siswa kepada pelajaran yang diberikan guru, maka isi dari materi pelajaran akan terserap dengan baik. Minat turut menentukan perbedaan hasil belajar .
3. Aspek biologis atau keadaan Jasmani, keadaan jasmani tiap siswa berbeda-beda. Perbedaan itu terdapat pada struktur badan (tinggi, berat, dan koordinasi anggota badan), cacat badan (gangguan pada penglihatan, sakit menahun, mudah pusing kepala, dan lain-lain), gangguan penyakit tertentu. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi efisiensi dan kegairahan belajar, mudah lelah, kurang berminat melakukan berbagai kegiatan, dan akan mempengaruhi hasil belajar;
4. Penyesuaian Sosial dan Emosional, keadaan sosial dan emosi individu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berbagai sikap sosial dan emosional, adalah pendiam, pemberang, pemalu, pemberani, mudah bereaksi, senang bekerjasama, suka mengasingkan diri, mudah terpengaruh, sensitif, sedang menggatungkan diri kepada orang lain. Tingkah laku sosial dan emosional ini dapat berubah sesuai dengan kondisi dan situasi sekitarnya. Keadaan ini besar pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar siswa;
5. Keadaan Keluarga, keadaan keluarga besar pengaruhnya terhadap individu, dan oleh karenanya terjadi perbedaan individual yang dilaterbelakangi perbedaan keadaan keluarga. Pengaruhnya terjadi pada perbedaan dalam hal-hal pengalaman sikap, apresiasi, minat, sikap ekonomis, cara berkomunikasi, kebiasaan berbicara, hubungan kerjasama, pola pikir, dan lain-lain. Perbedaan dalam hal-hal tersebut mempengaruhi tingkah laku dan perubahan belajar sekolah;
6. Prestasi Belajar, perbedaan hasil belajar di kalangan para siswa disebabkan oleh faktor-faktor kematangan, latar belakang pribadi, sikap dan bakat terhadap pelajaran, jenis mata ajaran yang diberikan, dan sebagainya .

3. Kemampuan yang harus disiapkan oleh seorang guru dalam menghadapi kesulitan belajar siswa
Dalam upaya meningkatkan pelayanan pendidikan terhadap siswa yang masing-masing individunya berbeda, maka seorang guru yang profesional harus memiliki kemampuan sebagai berikut:


1. Menemukan perbedaan individu siswa
Setiap individu siswa berbeda satu dengan lainnya, hal ini pengaruhi banyak faktor yang membentuk kepribadian setiap siswa. Perbedaan individu siswa dapat dikelompokan menjadi:

a. Perbedaan vertikal yaitu perbedaan pada segi fisik setiap individu, misal; tinggi - sedang - pendek, gemuk - sedang - kurus, seha - tidak sehat dan lain sebagainya.
b. Perbedaan horizontal yaitu perbedaan pada segi psikis dan sosial setiap individu, misal; kemampuan, bakat, minat, emosi, hasil belajar dan lain sebagainya.
Perbedaan individu diatas dipengaruhi oleh (1) faktor keturunan (bakat) dan (2) faktor lingkungan. Perbedaan ini merupakan hal penting yang harus diketahui oleh guru karena perbedaan ini dapat digunakan oleh guru untuk menentukan metode belajar yang tepat dalam proses belajar mengajar dikelas.
Guru haruslah teliti dalam mencari dan menemukan perbedaan yang ada pada siswa, terutama perbedaan-perbedaan yang menonjol. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses belajar mengajar dan dalam memberikan pelayanan terhadap siswa agar mampu menemukan dan mengembangkan potensi yang ada dimiliki oleh siswa .

2. Memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa
Setelah guru menemukan perbedaan-perbedaan dari setiap individu, maka langkah berikutnya adalah melakukan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran yang disesuaikan dengan perbedaan tersebut agar setiap individu mampu berkembang sesuai dengan kemampuan dan kecepatan yang dimiliki oleh masing-masing individu siswa. Mengajar siswa dengan kemampuan belajar cepat akan berbeda dengan mengajar siswa dengan kemampuan belajar kurang atau lambat. Kemampuan yang berbeda dari setiap individu memerlukan pelayanan tersendiri bagi guru dalam upaya penyesuaian program pengajaran yang akan dibuat dan dilaksanakan.
Tetapi hal ini tidaklah mudah bahkan sangat sulit dilaksanakan bagi mereka yang belum terbiasa dalam upaya pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Kesulitan-kesulitan yang paling mudah kita temukan dalam lingkungan disekitar kita misalnya; terbatasnya waktu yang disediakan oleh sekolah dalam suatu pertemuan pembelajaran di kelas akan membuat guru tidak maksimal dalam menemukan dan melayani siswa sesuai dengan perbedaan setiap individu walaupun hal ini sudah direncanakan dalam program pengajaran yang akan atau sedang dilaksanakan. Jika kesulitan-kesulitan yang dihadapi ini memang sangat sulit dipecahkan maka guru tidak perlu memaksakan diri sampai diluar batas kemampuannya. Minimal guru mampu melaksanakan pada tahap yang dapat dilaksanakannya, misal; terhadap siswa yang memiliki kemampuan cepat dalam menyerap materi pelajaran maka guru bisa saja memberinya materi atau tugas tambahan untuk dikerjakannya diluar sekolah, sedangkan siswa yang memiliki kemampuan kurang maka guru dapat memberinya materi yang sesuai untuknya. Siswa yang memiliki bakat menonjol bisa di beri kesempatan atau di beri fasilitas untuk mengembangkannya sedangkan siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar maka perlu dibantu agar siswa tersebut dapat mengatasi kesulitannya. Dan silahkan kembangkan menurut keadaan dan kemampuan dilingkungan sekolahnya masing-masing.

3. Melakukan diagnosis kesulitan belajar siswa
Tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam menerima materi yang diajarkan oleh seorang guru. Guru hendaknya memberikan perhatian khusus terhadap siswa-siswa yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan berusaha menemukan dan mengatasi kesulitan belajar siswa dengan men-diagnosis kesulitan belajar siswa tersebut. Dan jika tingkat kesulitan belajarnya sangat sulit diidentifikasi maka tidak ada salahnya kita meminta bantuan guru lain atau guru yang berkompeten dalam hal ini dan ini biasanya guru bimbingan dan penyuluhan .


KESIMPULAN

Tidak dapat di pungkiri bahwa terdapat perbedaan diantara siswa-siswa si sekolah, yang kadang-kadang perbedaan tersebut satu sama lain sangat besar. Guru tidak dapat memperlakukan hanya mengacu kepada keadaan siswa rata-rata. Dengan mengetahui perbedaan individual siswa, guru dapat melakukan pengelolaan pengajaran secara lebih cepat.
Perbedaan aspek biologis siswa ini penting di ketahui oleh guru khususnya dan pendidik umumnya karena dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pendirian gedung, mengatur jadwal, mengatur tempat duduk, mengatur pengelompokkan dan melaksanakan pengajaran. Perbedaan aspek intelektual penting di ketahui oleh guru karena aspek ini merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar. Aspek psikologis merupakan faktor pendukung lancarnya proses belajar mengajar yang berupa minat atau perhatian dan memandirian anak.

Referensi:

Ariyanti, F., Edia, L., Noory, K. (2006). Diary Tumbuh Kembang Anak Usia 0-6 Tahun. Bandung: Read! Publishing House.
Arikunto, Dr. Suharsimi. 1980. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Yogyakarta: PT RINEKA CIPTA-Jakarta.
_________________. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Prof. Dr. S. Nasution, MA. 1988. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Mudjiono, Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.

1 Response to "Perbedaan Invidual Siswa Dasar Manajemen Pengajaran"

  1. nice artkel. disinilah tantangan seorang guru untuk meehami metode yang tepat lm mengajar. terimakasih kunjungannya

    ReplyDelete