Belajar Menjadi Da’i

Bahagia tak dapat terungkapkan dari lubuk hati saya yang paling dalam. Diawali dengan persiapan yang kurang mantap, juga dengan performance yang kurang maksimal. Tapi Alhamdulillah, semuanya menjadi pelajaran dan pengalaman tersendiri bagi saya. Menjadi da’I memang tidak mudah, apalagi da’I terkenal yang sering kita lihat di televisi, sungguh membuat kepala kita menggeleng tak berhenti karena takjub dengan penampilannya. Tapi sebenarnya, mereka semua mengawalinya dari suatu hal yang terkecil. Dimulai dari mengisi kajian ibu-ibu, yasinan, arisan, khotib jum’at dan lain-lain. Pada rabu malam kemarin, 28 Maret 2012, saya mengulanginya untuk kesekian kali. Berharap agar ada peningkatan mental dalam menyampaikannya. Walau jauh berbeda dengan da’I di televise, tapi setidaknya ini menjadi langkah awal untuk mengabdi pada masyarakat suatu saat nanti.
Berdakwah memang tidak harus lisan, akan tetapi bisa juga dengan sosialisasi kita dengan masyarakat, prilaku kita, juga dengan tulisan. Sesuai dengan kemampuan kita, yang terpenting adalah niat kita, yaitu mengamalkan ilmu yang sidah kita peroleh, menunjukkan jalan yang benar pada masyarakat, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mereka belum ketahui, saling menasehati dalam kebaikan.
Dan saya pribadi ingin sekali menjadi da’i/muballigh seperti di televisi. Entah tercapai atau tidak, yang jelas harus diawali dengan langkah awal. Man jadda wajada!

2 Responses to "Belajar Menjadi Da’i"

  1. kunjungan sob ..
    mau bagi-bagi kalimat motivasi sob ..
    "saya belajar menggunakan kata 'tidak mungkin' dengan sangat hati-hati."
    kunjungan balik ya sob .. :)

    ReplyDelete
  2. salam kenal. Artikel anda bagus. kunjungi balik ya

    ReplyDelete