Akulturasi Da'wah di Indonesia

                              Eko Ramadhani/MU 5
Abstrak
Indonesia merupakan negara yang mempunyai berbagai macam potensi, kaya akan budaya baik dari suku, bahasa dan agama, serta sekaligus negara yang dikenal dengan melimpahnya kekayaan sumber daya alam, Indonesia dalam perkembangannya menjadi negara berdaulat dan rukun banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu agama, dimulai dengan kedatangan agama hindu-budha sebagai agama tertua di Indonesia, kemudian datang islam yang banyak melahirkan ulama dan intelektual muslimsehinggatidak sedikit mendominasi dan berkontribusi  untuk kemerdekaan Indonesia, dalam hal ini perlu kita ketahui bagaimana akulturasi budaya dan da’wah di negeri yang subur ini.
Pendahuluan
Sebelum islam datang ke Indonesia, kepulauan nusantara sudah memiki peradaban tersendiri yaitu peradaban yang bersumber dari kebudayaan dan peradaban agama hindu-budha dari india,sehingga dapatdikatakan bahwa islam bukanlah peradaban yang pertama memasuki kepulauan nusantara. Sejarah masuknya islam ke Indonesiaberlangsung dengan cepat dan  pesatserta berlangsung dalam beberapa fase atau tahapan-tahapan,cepat dan pesatnya Islam masuk ke Indonesia dibuktikan dengan penyebaran yang dilakukan oleh para pedagang , da’i dan ulama. Kemajuan dalam penyebaran ini didukungdengan adanya sistem da`wah dan perdagangan secara damai serta adanya kerajaan-kerajaan hindu-budha yang telah ada sebelumnya. Dari beberapa sumber yang ada, dapat dicatat ada perbedaan dalam menentukan kapan masuknya agama islam ke Indonesia,sumber-sumbber yang dimaksud menetapkan bahwasanya masuknya  islam ke Indonesia adalah pada abad ke-VII, abad ke-XI dan abad ke-XIII,namun banyak literatur menyimpulkan bahwa agama islam masuk ke Indonesia sudah dimulai pada abad ke-VII,hal ini ditegaskan karena kebudayaan islam sudah termasuk budaya yang sangat tua di Indonesia dan jarak sebelum masuknya kolonial Belanda  abad ke-XV agama islam sudah ada di Indonesia.
Agama islam terus mengalami perkembangan di Indonesia walaupun tidak sedikit tantangan dari kolonialisme Belanda dan penjajah dari bangsa lain,perlawanan ini terutama ditunjukkan oleh kerajaan-kerajaan islam dan organisasi-organisasi kedaerahan sertabanyak dari tokoh-tokoh cendikiawan muslim. Sedangkan perkembangan pasca kolonialisme,Indonesia selanjutnya diwarnai dengan kekuatan politik dan da`wah islamyang menyentuh semua lapisan masyarakat sehingga kini Indonesia menjadi negara muslim terbesar di dunia.
Akulturasi Peradaban di Indonesia ( Hindu dan Budha )
Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil dari kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan berbeda-beda kemudian bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus,sehingga menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya.[1]
Dari definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa akulturasi sama dengan kontak budaya yaitu bertemunya dua kebudayaan berbeda kemudian melebur menjadi satu sehingga menghasilkan kebudayaan baru dan tidak menghilangkan kepribadian atau sifat kebudayaan aslinya.
Fakta tentang Proses Interaksi Masyarakat[2]
Indonesia sebagai daerah yang dilalui jalur perdagangan memungkinkan bagi para pedagang India untuk singgah danmenetap di kota dekat pelabuhan Indonesia guna menunggu musim yang baik,mereka juga melakukan interaksi dengan penduduk setempat di luar hubungan dagang untukmempengaruhi budaya Indonesia,proses tersebut dapat dibedakan atas 3 periode sebagai berikut.
I.     Periode Awal (Abad V-XI M)
Pada masa ini, unsur hindu-budha lebih kuat dan lebih terasa serta menonjol, sedang unsur atau ciri-ciri kebudayaan Indonesia saat itu terdesak denganbanyak ditemukannya patung-patung dewa brahma, wisnu, siwa, dan budha yang berada di kerajaan-kerajaan seperti kutai, tarumanegara dan mataram kuno.
II.     Periode Tengah (Abad XI-XVI M)
Pada saat ini unsur hindu-budha dan Indonesia berimbang, disebabkan karena unsur hindu-budha melemah dan unsur Indonesia kembali menonjol sehingga situasi tersebut menyebabkan munculnya sinkretisme (perpaduan dua atau lebih aliran). Hal ini terlihat pada peninggalan zaman kerajaaan Jawa Timur seperti singasari, kediri, dan majapahit,situasi seperti ini menimbulkan lahirnya aliran Tantrayana yaitu suatu aliran keagamaan sinkretisme antara kepercayaan Indonesia asli dengan agama Hindu-Budha.
III.     Periode Akhir (Abad XVI M-sekarang)
Pada periode ini, unsur Indonesia lebih kuat dibandingkan dengan periode sebelumnya, sedangkan unsur hindu-budha semakin surut dikarenakanfaktor perkembangan politik ekonomi di India. Sedangkan faktor di Indonesia kita dapat melihat bahwa Candi yang berada di Bali menjadi pura yang tidak digunakan hanya untuk memuja dewa,roh nenek moyang dalam bentuk Meru Sang Hyang Widhi Wasa dalam agama Hindu sebagai manifestasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Upacara Ngaben sebagai objek pariwisata dan sastra lebih banyak yang berasal dari Bali bukan lagi dari India.
Masuknya budaya hindu-budha di Indonesia menyebabkan munculnya akulturasi, kebudayaan hindu-budha yang masukke Indonesia tidak diterima begitu saja melainkan diproses melalui pengolahan dan penyesuaian dengan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur asli, hal ini disebabkan karena[3]:
1 .   Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.
2. Kecakapan istimewa yang dimiliki bangsa Indonesia atau local genius merupakan kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah ada di Indonesia,perpaduan budaya hindu-budha melahirkan akulturasi yang masih terpelihara sampai sekarang,akulturasi tersebut merupakan hasil dari proses pengolahan kebudayaan asing sesuai dengan kebudayaan Indonesia.
Sedangkan masuknya ajaran islam ke Indonesia sekitar abad ke-XIIyang melahirkan kerajaan-kerajaan bercorak islam ekspansionis, seperti samudera pasai di Sumatera dandemak di Jawa,munculnya kerajaan-kerajaan tersebut secara perlahan-lahan mengakhiri kejayaan sriwijaya dan majapahit sekaligus menandai akhir dari era ini.
Kedatangan Islam sebagai Kekuatan dan Perubahan
Risalah islamdibawa oleh Nabi Muhammad saw di jazirah arab pada abad ke-7 masehi ketika Nabi mendapat wahyu dari Allah swt,setelah wafatnya Rasullullah saw kerajaan Islam berkembang hingga samudra atlantik dan asia tengah di timur.
Melacak sejarah masuknya Islam ke Indonesia bukanlah urusan mudah,tak banyak jejak yang bisa dilacak, ada beberapa pertanyaan awal yang bisa diajukan untuk menelusuri kedatangan islam di Indonesia,beberapa pertanyaan itu adalah darimana islam datang? siapa yang membawanya dan kapan kedatangannya?
Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas baik oleh sarjana-sarjana barat maupun kalangan intelektual islam sendiri,setidaknya ada beberapa teori yang menjelaskan kedatangan islam ke timur jauh termasuk ke nusantara.[4]
1. Teori pertama: diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India,tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara.[5]
Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai arab yang ada dalam islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakanteorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah nusantara dengan daratan India.
2. Teori kedua:adalah teori Persia,tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal islam datang di nusantara berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat islam dengan penduduk Persia,misalnya tentang peringatan 10 muharam yang dijadikan sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein cucu Rasulullah, selain itudi beberapa tempat di Sumatera Barat ada pula tradisi  tabut yang berarti keranda untuk memperingati Hasan dan Husein,ada pula pendukung lain dari teori ini yakni beberapa serapan bahasa yang diyakini datang dari Iran, misalnya jabar dari zabar, jer dari ze-er dan beberapa yang lainnya,  teori ini meyakini islam masuk ke wilayah nusantara pada abad ke-XIII dan wilayah pertama yang dijamah adalah Samudera Pasai.[6]
Kedua teori di atas mendapatkan kritikan yang cukup signifikan dari teori ketiga yakni teori arabia,dalam teori ini disebutkan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah,waktu kedatangannya pun bukan pada abad ke-12 atau 13 melainkan pada awal abad ke-VII,artinya islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriah bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah,islam sudah mulai masuk ekspedisinya ke nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin.
Kondisi dan Situasi Politik Kerajaan-Kerajaan di Indonesia[7]
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk islam meskipun belum secara besar-besaran, di Aceh merupakan daerah paling barat dari kepulauan nusantara yang pertama sekali menerima agama islam,bahkan Acehlah kerajaan islam pertama Indonesia berdiri yang berdomisili di Pasai,berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M telah banyak orang arab yang menyebarkan Islam.
Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah seorang pengembara muslim dari Maghribi ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'I,adapun peninggalan tertua dari kaum muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur,yang berupa komplek pemakamanislam salah satu diantaranya adalah makam seorang muslimah bernama Fathimah binti Maimun,pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada zaman kerajaan singasari dandiperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli melainkan makam para pedagang arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi nusantara secara besar-besaran,kemudian pada abad ke-9 H / 14 M penduduk pribumi memeluk islam secara massal,para pakar sejarah berpendapat bahwa masuksecara besar-besaran di nusantara pada abad tersebut, disebabkan saat itu kaum muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti,yang ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak islam seperti kerajaan aceh darussalam, malaka, demak, cirebon, serta ternate,sedangkan para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran dari keturunan raja-raja pribumi pra islam dan para pendatang arab.
Pesatnya islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan hindu-budha di nusantara seperti majapahit, sriwijaya dan sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol,islam datang ke asia tenggara dengan jalan damai tidak dengan pedang bukan dengan merebut kekuasaan politik melainkanislam masuk ke nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkan sebagai rahmatan lil'aalamiin.
KONTRIBUSI ISLAM TERHADAP NASIONALISME [8]
Sumbangan islam terhadap nasionalismetidak perlu diragukan dari data empiris, historis dan normative,sehingga dikotomi islam dan nasionalisme adalah sebuah wacana yang tidak bisa dipertanggung jawabkan,sebagai contoh dokumen historis text resolusi jihad bisa dipertimbangkan.Kontribusi Hasyim Asy’ari (1871-1947) baik bagi pemikiran keagamaan NU maupun bagi kedaulatan Republik Indonesia, berupa fatwa-nya yang dikenal luas sebagai resolusi jihad yang dikeluarkan pada bulan oktober 1945[9]:
1)    Kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, harus dipertahankan.
2)      Pemerintahan RI yang satu-satunya pemerintahan yang sah harus dipertahankan dengan harta maupun jiwa.
3)      Musuh-musuh Indonesia khususnya orang-orang Belanda yang kembali ke Indonesia dengan menumpang pasukan sekutu (Inggris) sangat mungkin ingin menjajah kembali bangsa Indonesia setalah Jepang ditaklukkan.
4)      Umat muslim khususnya warga NU harus siap bertempur melawan Belanda dan sekutu mereka yang berusaha untuk menguasai kembali Indonesia.
Kewajiban da’wah dan jihad merupakan keharusan bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer (sama jaraknya dengan menjamak salat boleh ditunaikan oleh santri muslim),mereka yang berada dalam radius itu mempunyai tanggung jawab untuk mendukung saudara-saudara muslim mereka yang tengah berjuang dalam radius tersebut.
Fatwa Hasyim ini diyakini telah mengilhami para santri dalam meningkatkan perlawanan mereka terhadap kaum kolonial setelah pasukan sekutu berhasil memaksa Jepang keluar dari Jawa pada tahun 1945, dalam satu periode ketika Belanda hampir menguasai kembali sebagian besar kota Surabayakota terpenting di Jawa Timur yang selanjutnya dikenal sebagai “kota pahlawan” dikarenakan perlawanan tersebut,radikalisme Hasyim ini menjadi pukulan telak bagi pemerintahan kolonial karena ternyata berlawanan dengan teori serta antisipasi Hurgronje bahwa santri muslim identik dengan kaum sunni yang pasif. Sungguh aksi non-cooperative Hasyim ini bisa dilihat lebih awal ketika dia melarang masyarakat untuk Saekeirei penghormatan penuh kepada kaisar Teno Heika dengan cara menundukkan badan seperti halnya dalam salat dan menghadap ke arah Tokyo pada tahun 1942. Fatwa Hasyim yang mengharamkan Saekeirei menjadikannya dipenjara selama 4 bulan serta cacat pada jari-jemarinya,hal yang sama juga terjadi ketika dia melarang kaum muslim untuk menunaikan ibadah haji dengan menggunakan transportasi milik Belanda, sebuah seruan yang membuat bingung Van Der Plas (seorang penasehat religius Belandapada tahun 1930-an) dan sangat dipatuhi baik oleh santri maupun non-santri muslim. 
Sebagai penutup patut dikutip kesan jujur seorang professor di Jerman, sosiolog Timur Tengah tentang umat islam Indonesia, Bassam Tibi sebagai berikut:
The political system in Indonesia guarantees the equal standing of all five main religions in the country. Muslims, however, represent 85 percent of the 193 million inhabitants, living on 6.000 of a total of 16.500 islands. On Java alone live 40 percent of all Indonesians. The other four religions - Christianity, Buddhism, Hinduism, and Confucianism - are set on equal level to Islam. In Indonesia, non-Muslims are not "dhimmis" but citizens of equal standing. Southeast Asia offers a model, for an equal definition of Islam and Christianity which is expanded also to Buddhism, Hinduism, and Confucianism, religions which are not mentioned in Islamic revelations.[10]
Penutup                      
Sebagai Negeri yang strategis dimana tempat persinggahan para pedagang dari negeri-negeri asing, banyak para pedagang terkadang tinggal cukup lama di daerah-daerah tersebut sehingga terjadi perkawinan denganwarga pribumi kemudian lama kelamaan semakin berkembang dan terciptanya akulturasi budaya yang dimulai dengan akulturasi budaya hindu-budha yang kemudian disusul dengan masuknya agama islam. Dalam hal ini bangsa Indonesia semakin berkembang sehingga seluruh masyarakat dari berbagai suku dan ras dapat hidup saling berdampingan dan menjadi negara yang berdaulat.
Sejarah merupakan tonggak mediator yang sangat penting dalam mengetahui bagaimana awal mula masuknya kebudayaan dan khususnya kontribusi agama dalam membangun bangsa mulai dari terciptanya kemerdekaan Republik Indonesia, tatanan kehidupan sosial masyarakat dan pendidikan serta pembangunan pada saat ini.maka sejarah di ibaratkan sebuah pohon yang baik dan lebat dengan dedaunan serta buahnya, apabila kita dekat dengannya ( mempelajari sejarah ) maka kita akan bisa berteduh dan mengambil manfaat dari buahnya, karena dalam sejarah banyak ibrah dan pelajaran yang bisa dijadikan sebagai analisis acuan untuk menjadikan perubahan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Daftar Pustaka
Taufik, Abdullah, Islam di Indonesia,( Jakarta, Tinta Mas Indonesia al-Usairy Ahmad, 2004).
Tamadun 1900 tahun di merbuk, oleh Opat Rattanachot utusan Malaysia 9 April 2010.
Herwig Zahoka, The Sunda Kingdoms of West Java From Tarumanegara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor, Yayasan Cipta Loka karya, jakarta.
al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, ( Jakarta: Akbar, 2004), h. 336.
, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: Rajafindo Persada, 2005).
Disampaikan saat seminar oleh : Prof. H. Abdurrahman Mas`ud, Ph.D, Alumni UCLA 1997, mantan Penasehat Pengajian Los Angeles.
Dipersentasikan pada Seminar Nasional:``Nasionalisme Sudah Mati``, bersama Arif Budiman di DRD, Jateng 8 Februari 2003.













[1] Taufik, Abdullah, Islam di Indonesia, ( Jakarta, Tinta Mas Indonesia al-Usairy Ahmad, 2004).
[2]Tamadun 1900 tahun di merbuk, oleh Opat Rattanachot utusan Malaysia 9 April 2010.
[3] Herwig Zahoka, The Sunda Kingdoms of West Java From Tarumanegara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor, Yayasan Cipta Loka karya, jakarta.
[4]al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, ( Jakarta: Akbar, 2004), h. 336.
[5]Ibid, h. 338.
[6]Ibid, h. 339.
[7]al-Usairy, Ahmad, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: Rajafindo Persada, 2005)
[8] Disampaikan saat seminar oleh : Prof. H. Abdurrahman Mas`ud, Ph.D, Alumni UCLA 1997, mantan Penasehat Pengajian Los Angeles.
[9] Dipersentasikan pada Seminar Nasional:``Nasionalisme sudah Mati``, bersama Arif Budiman di DRD, Jateng 8 Februari 2003.
[10]Op. cit. h. 63-64.

0 Response to "Akulturasi Da'wah di Indonesia"

Post a Comment