Antara PSSI, ISL dan LPI


Katanya atmosfer baru sepakbola indonesia?
Masih tidak habis fikir, setelah "masa kritis" ditubuh persepakbolaan Indonesia sudah (dianggap) berlalu, ternyata "penyakit" yang diderita persepakbolaan Indonesia tak juga sembuh. Ruwet, demikian kelihatannya bahasa yang lebih enak dicerna di pendengaran, ketimbang istilah-istilah semu lainnya. Malahan, dirasa makin parah kondisinya.
Banyak yang berharap ketika terpilih kepengurusan PSSI yang baru, akan mampu menjadikan permasalahan yang timbul sebelumnya bisa terselesaikan, terutama masalah dualisme kompetisi. Di awali terbentuknya LPI sendiri digagas oleh seorang pengusaha bernama Arifin Panigoro dengan tujuan untuk menciptakan atmosfer sepak bola yang lebih baik, karena selama ini sepak bola dirasa masih penuh dengan kericuhan akibat kurangnya kualitas penyelenggaraan yang memadai. Bedanya lagi klub-klub yang akan mengikuti kompetisi LPI tidak akan menggunakan dana APBD untuk membiayai hidup mereka, karena akan mendapat royalti dari LPI, ini berbanding terbalik dengan ISL yang selalu mengandalkan uang dari APBD sehingga tidak sedikit klub yang berada di daerah kurang mampu akan mati ditengah jalan karena tidak mendapat suntikan dana dari pemda atau sponsor.
Kisruh tentang adanya LPI tersebut ternyata berbuntut panjang, karena PSSI menganggap LPI adalah ilegal maka klub-klub yang ikut dalam LPI akan mendapat hukuman yaitu degradasi. Dalam hal ini tidak hanya klub, para pemain pun juga akan terkena imbasnya, karena pemain yang mengikuti kompetisi LPI tidak akan dipanggil Timnas kemudian  mengeluarkan statement keras yang mengandung ancaman kepada seluruh klub, pemain, pelatih dengan sanksi mulai dari pencabutan izin, sampai dengan deportasi bagi pemain asing yang berlaga di LPI serta beberapa keputusan lain yang saat itu memojokan LPI , namun akhirnya, terlepas dari itu semua  dibarengi ide-ide serta konsep segar dan menarik yang ditawarkan oleh pengelola IPL kepada para klub yang berlaga di ISL, Divisi Utama s/d Divisi 1.
Beberapa hal berikut ini dapat menjadi bahan perbandingan keunggulan dan kelemahan IPL dan ISL, yaitu 
1.  Kepemilikan Saham, pada kompetisi ISL saham dimiliki oleh 95% oleh PSSI, 5% oleh Yayasan dan Klub NIHIL. Sedangkan pada IPL seluruh saham 100% dimiliki oleh Klub.
2. Pembagian Hak Siar TV, pada kompetisi ISL seluruhnya menjadi hak PSSI/ BLI, sedangkan pada IPL seluruhnya akan dibagi rata kepada Klub 100%.
3. Dana Sponsor, sebesar Rp. 41,5 milyar yang di dapat dari Djarum pada kompetisi ISL menjadi milik PSSI dan BLI, klub hanya akan mendapatkan dana subsidi sebesar Rp. 300 s/d Rp.500 juta dan pembagian keuntungan bagi klub adalah 0%, sedangkan pada IPL setiap klub akan mendapat dana investasi dari Konsorsium Investor Rp. 15 s/d 20 Milyar per klub dan pembagian keuntungan akan diberikan kepada klub sebesar 80%.
4. Hadiah Juara, pada kompetisi ISL adalah sebesar Rp.1,5 Milyar sedangkan pada LPI adalah sebesar Rp. 5 Milyar.
5. Dana APBD, pada kompetisi ISL masih diperbolehkan, sedangkan pada IPL klub wajib professional dengan memutar sumber dana dari Konsorsium Investor.
6. Wasit, pada kompetisi ISL masih menggunakan wasit lokal sedangkan pada IPL selama 2 tahun awal kompetisi akan menggunakan wasit asing.
Pemerintah melalui menpora Andi Malarangeng menyatakan merestui hadirnya LPI sebagai kompetisi di luar ISL, sehingga apapun yang terjadi gelaran LPI akan tetap berlangsung sesuai dengan rencana. Lalu kemudian, yang ditunggu oleh mayoritas rakyat Indonesia pun terwujud, yakni berakhirnya era kepemimpinan Nurdin Halid yanf dianggap sudah banyak melakukan kesalahan selama ia memimpin.
Namun keinginan PSSI itu dinilai tidak tepat sasaran oleh banyak pihak. Pasalnya, banyak pihak menilai klub-klub ISL tidak akan pernah menyetujui jika dapur mereka dicampuradukkan. Apalagi, klub-klub yang akan bergabung tersebut adalah klub dari LPI, yang masih berusia seumur jagung sampai akhirnya terjadi yang sepertinya hanya berganti peran saja. Dulu Liga Primer Indonesia (LPI) dianggap tidak sah, dan oleh PSSI dianggap kompetisi ilegal. Sekarang malah terbalik, Indonesia Super League (ISL) yang dianggap tidak sah, dan yang akan digulirkan oleh PSSI adalah Liga Prima Indonesia,
PSSI mulai melakukan seleksi terhadap klub-klub yang akan masuk kompetisi utama sepakbola Indonesia. Puluhan tim pun mengikuti seleksi. Namun di tengah proses verifikasi ulang muncul kisruh internal di tingkat tim. Semua berawal dari adanya dualisme kepengurusan dan masing-masing merasa sah sebagai pengurus klub seperti contohnya Persebaya, Arema dan Persija. Konflik semakin meruncing ketika PSSI justru mensahkan pengurus yang justru dianggap tidak sah oleh para pendukung masing-masing klub.
Tidak selesai sampai disitu, klub-klub besar pun mulai semakin tidak terima ketika PSSI mengesahkan keputusan untuk menggulirkan liga dengan format 24 tim. Sehingga banyak klub yang memilih untuk tetap bersama ISL ketimbang liga bentukan PSSI (LPI). 


0 Response to "Antara PSSI, ISL dan LPI"

Post a Comment