Corat-Coret Seragam Sebagai Rasa Syukur?

Tadi pagi sekitar jam 10 saya melihat gerombolan anak SMA mengadakan konvoi sepeda motor, dengan seragam putih abu-abunya yang penuh coretan pilox. Serta Sekelompok Bapak Polisi sebagai pengawal di belakangnya. Sebagai sebuah perayaan atas kelulusan setelah menghadapi UN kemarin. Haruskah dirayakan dengan seperti itu? apa manfaatnya? Sungguh peristiwa yang sangat menyedihkan. Sebuah tradisi yang pasti terjadi tiap tahunnya. Tradisi warisan itu memang sudah menjalar di seluruh sekolah-sekolah di negeri ini. saya yakin, berbagai nasehat yang diberikan guru-gurunya tidak akan menghentikannya. Kepala sekolah ikut serta dengan diamnya. Pak Polisi sangat mendukung asalkan tidak ada kekerasan yang terjadi.


Awal mulanya acara coret-coret seragam dan konvoi ini hanya terjadi pada anak lulusan SMA saja. Tapi sekarang, bukan hanya siswa SMA, akan tetapi sudah menular ke kalangan siswa-siswa SMP. Dan saya yakin, di beberapa "tempat penyakit" ini sudah menular ke siswa yang baru lulus SD. Apakah hal seperti dibiarkan begitu saja tanpa memikirkan akibat yang terjadi? Tentu tidak. jika kita pikir, apa sebenarnya manfaat dari corat-coret seragam itu? Tidak lain hanya membuat kotor, mubadzir, tak sedikit pun moral tercermin di dalamnya. Tidakkah sebaiknya kita berikan seragam itu kepada yang membutuhkannya? misalnya adik-adik kita yang mau meneruskan sekolahnya. atau mungkin kepada fakir miskin yang masih sangat membutuhkan pertolongan kita. Coba kita bayangkan, seandainya seragam siswa-siswi SMA/SMP yang baru lulus diseluruh sekolah di negeri kita ini diberikan kepada fakir miskin, atau korban bencana alam, sungguh sangat membantu mereka. Tentu itu akan mejadi amal jariyah kita kelak. Dan harapan itu hanya terlintas pada orang yang berfikir dengan menggunakan akal dan hati, bukan akal saja. 

Jika saya tanyakan hal ini kepada siswa-siswi itu, saya yakin seyakin-yakinnya dengan hati yang paling kecil mereka akan menajawab : Ya saya setuju. Lalu mengapa hal itu masih dilakukan? Itulah kehebatan setan. 

Alangkah lebih baiknya, kita bersyukur dengan cara yang positif. Misalnya, sujud syukur, berpuasa atau makan bersama dll. Masih ingatkah kalian ketika sebelum menghadapi UN, kalian berbondong-bondong menunaikan shalat dhuha, memohon padaNya agar diluluskan saat UN. tapi ketika kalian diluluskan, apa kalian lakukan? mungkinkah kalian lupa?

Kepada para siswa-siswa yang terpelajar, mari kita ikuti hati nurani kita. Kalian tsudah tahu, mana yang baik dan mana yang buruk, memang sulit menghadapi syetan, tapi sekali kau mengalahkannya, dia akan mengakuinya bahwa kaulah pemenangnya. 

Kepada para Kepala sekolah dan guru-guru yang terhormat, ingat perintah Allah dan RasulNya untuk selalu amar ma'ruf dan nahiy munkar, siswa-siswi itu adalah tanggungjawab kalian sebagai sang pendidik, bukan hanya sang pengajar. bukan hanya mengajarkan pelajaran, akan tetapi mengajarkan sifat dan tingkah laku. jika setiap tahunnya hal ini dibiarkan, bagaimana masa depan mereka?

Untuk Pak polisi yang gagah, saya harap tidak membiarkan peristiwa seperti ini terulang kembali dimasa yang akan datang. saya yakin, jika kalian bertindak, sedikit demi sedikit, acara coret-coret seragamini akan terkikis. Dengan membiarkan peristiwa ini, berarti membiarkan masa depan negeri ini miskin akhlak.

Kepada pemerintah sang pemilik keukasaan di negeri ini, adakah tindakan khusus untuk menanggulangi peristiwa ini? atau kalian hanya membisu pertanda setuju?

wallahu a'lam bishshawaab...

0 Response to "Corat-Coret Seragam Sebagai Rasa Syukur?"

Post a Comment