Hikmah Disyariatkannya Ibadah Qurban

Oleh: Aufa Alfian Musthofa

Umat Islam mempunyai dua hari raya, Iedul Fithri dan Iedul Adha, tidak ada hari raya lagi selain keduanya. Masing-masing dikaitkan dengan ibadah besar. Iedul Fithri datang setelah ibadah puasa Ramadhan, dan Iedul Adha tiba setelah ibadah haji. Seolah-olah kedua hari raya tersebut merupakan karunia, hadiah dan penghargaan Allah kepada hamaba-hamba-Nya setelah berhasil menunaikan perjuangan ibadah besar.
Islam mengajarkan kepada umatnya akhlaq, adab dan tata cara dalam menyambut kedatangan hari raya. Tidak dengan pesta, hura-hura dan foya-foya layaknya umat lain, tidak dengan hiburan-hiburan di tempat-tempat rekreasi yang sarat dengan kema’shiatan, tidak pula dengan mengumbar hawa nafsu rendahan.
Islam mengajarkan kepada kita untuk menyambut Ied dengan Takbir, dengan sholat, dengan membayar zakat, dengan menyembelih binatang qurban, dengan menyantuni fakir miskin, saling memaafkan dan menguatkan ikatan kasih sayang terhadap kerabat, tetangga dan handai tolan.
Hari raya adalah hari bertakbir, mengagungkan asma Allah. Takbir bukan hanya ucapan di bibir yang kosong dari makna. Takbir mengandung filsafat kehidupan yang luhur. Takbir berarti membesarkan Allah, menomorsatukan ketaatan kepada-Nya, memperjuangkan prinsip-prinsip kebenaran yang datang dari-Nya. Takbir dapat membangun jiwa besar kita, mengokohkan ketabahan dan kesabaran, serta meneguhkan istiqomah kita di jalan-Nya.
Allahu Akbar, Allah Maha Besar, selain Allah adalah kecil semata. Ketika kita diuji dengan kekurangan, penyakit, kesuilitan dll. Tidak akan putus asa atau hilang  harapan. Allahu Akbar, Allah Maha Besar,  masalah-masalah ini hanyalah perkara kecil yang akan segera berlalu.
Ketika kita sibuk dengan urusan dunia, pekerjaan, bisnis, birokrasi. Tiba-tiba terdengar seruan adzan Allahu akbar-Allahu Akbar, kita segera sholat, meninggalkan segala urusan, karena tidak ada yang lebih penting dan lebih besar dari seruan Allah. Ketika saatnya membayar zakat, menunaikan ibadah haji, membeli binatang qurban, berinfaq dan shadaqoh untuk kemaslahatan umat, Allahu Akbar, ringan saja bagi kita membelanjakan harta, bila Allah yang meminta.
Ketika ditawarkan kepada kita harta, popularitas dan kedudukan dengan syarat menjual prinsip-prinsip kebenaran, menggadaikan aqidah, maka kita dengan tegas menolak seraya mengatakan Allahu akbar, harta tidak akan mampu membeli kebenaran.
            Karena itu mari kita jadikan takbir sebagai syiar kita sehari-hari, agar meresap di sanubari. Bahkan untuk memulai hidup pun, ketika bayi baru lahir, Nabi SAW mengajarkan kita untuk menyerukan takbir – adzan dan iqomah di telinga sang bayi. Hidup, kita mulai dengan takbir. Dengan takbir pula generasi yang terdahulu telah mampu menorehkan prestasi. Perang Badar dimenangkan dengan takbir, Mesir dan Afrika, Kekaisaran Rumawi dan imperium Persia ditundukkan dengan takbir, para pejuang kemerdekaan membangkitkan semangat menentang penjajahan dengan takbir, Bung Tomo membakar semangat perlawanan arek-arek Surabaya untuk mengusir pasukan sekutu juga dengan takbir.
Hari raya kita penuh dengan nilai-nilai ketuhanan ( robbaniah ) karena diisi dengan berbagai ibadah dan kekhusyu’an, juga sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan ( insaniah ) karena diikuti dengan aktifitas solidaritas social.
Diantara hikmah disyariatkannya ibadah haji dan qurban adalah untuk meneladani perjuangan, pengorbanan dan ketaatan nabi Irahim AS beserta para keluarganya, meneladani perjuangan dan pengorbanan nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para shahabatnya.
Keteladanan yang diberikan oleh nabi Ibrohim, Siti Hajar- istrinya, Ismail- putranya, dalam pengorbanan, kesabaran dan ketaatan sangat luar biasa, demikian pula keteladanan nabi Muhammad SAW dalam hal yang sama, sehingga nama beliau berdua diabadikan dalam bacaan tasyahhud dalam bentuk do’a shalawat dan keberkahan.
Nabi Ibrahim berqurban dengan dirinya, dimusuhi kaumnya karena menyerukan kebenaran tauhid, dilempar ke dalam api unggun besar oleh Namrudz, berpisah dengan istrinya Siti Hajar dan bayinya Ismail yang ditinggal di Makkah, sementara beliau kembali ke Hebron Palestina dengan siti Saroh. Berqurban untuk menyembelih putranya, Ismail berqurban dengan jiwanya. Pengorbanan demi pengorbanan dipersembahkan, ujian-demi ujian dilewati dan berhasil, sehingga beliau diangkat oleh Allah untuk menjadi pemimpin.
Untuk meneladani pengorbanan nabi Ibrahim inilah maka ibadah qurban disyariatkan, hukumnya sunnah muakkadah bagi yang mempunyai kelapangan rizqi. Seekor kambing mencukupi untuk satu orang dan seekor sapi mencukupi untuk tuju orang.
            Nabi Ibrahim telah berqurban dengan dirinya, keluarganya bahkan putranya. Nabi Ismail berqurban dengan nyawanya yang paling berharga. Nabi Muhammad beserta para shahabat berqurban dengan jiwa raga dan harta benda, dimusuhi, disiksa, diembargo ekonominya, diusir hingga berhijrah, diperangi terus menerus dan mereka tabah, sabar, berjuang dan berqurban hingga kita bisa menikmati manisnya hasil perjuangan dan pengorbanan mereka. Sementara saat ini kita hanya diminta untuk berqurban dengan seekor kambing, sebagian kecil dari harta kita, berqurban dengan nyawa seekor binatang, belum dengan nyawa kita, masihkah kita enggan melaksanakannya ?
            Semangat berqurban inilah yang harus kita tumbuh suburkan dalam diri kita dan masyarakat. Semangat untuk memberi dan bukan menerima apalagi mengambil, inilah yang mesti kita budayakan. Semangat tangan diatas dan bukan tangan dibawah inilah yang harus kita terapkan. Semangat seperti inilah yang menjadi sifat utama orang-orang yang bertaqwa (alladzina yunfiquuna fissarraa’ waddhorroo’ ) mereka yang berfinfaq baik dalam keadaan lapang ataupun sempit.
Ibadah qurban mengajarkan kepada kita untuk mempunyai kepekaan , empati dan solideritas sosial. Hendaknya kita yang mempunyai kelapangan rizqi mau berbagai dengan kerabat, tetangga, fakir-miskin anak-anak yatim dan mereka yang dalam kebutuhan. Islam tidak membenarkan kita hidup egoistis, nafsi-nafsi, menutup pintu rapat-rapat dari sesama manusia yang membutuhkan bantuan. Islam menghendaki agar kita hidup bersaudara, saling menyayangi, saling membantu, saling menguatkan, yang kuat mengangkat yang lemah, yang besar membantu yang kecil, yang berkuasa melindudngi yang lemah. Itulah makna persaudaraan yang sebenarnya. Sungguh tidak ada persaudaraan dan kasih sayang kalau di rumah kita segala sesuatu tersedia, sementara tetangga tidak punya apa-apa, tidak ada persaudaraan antara orang yang menganiaya dan yang teraniaya. Tidak ada persaudaraan antara orang yang memegang perutnya kekenyangan dengan tetangganya yang menekan perutnya sambil  merintih kelaparan.
Saat ini berjuta- juta lebih jama’ah haji yang datang dari berbagai pelosok negri, bermacam-macam bahasanya, berbeda-beda suku bangsanya, adat  istiadatnya, beraneka warna kulitnya, bertingkat-tingkat status sosialnya, semuanya berkumpul, berpadu saling berkenalan, tolong-menolong, saling melayani di Makkah dan Mina, menunaikan ibadah haji, tidak tampak perbedaan antara si kaya dan miskin, yang berpangkat dan rakyat. Mereka pergi meninggalkan sanak famili, kampung halaman yang dicintai, dan pekerjaannya sehari-hari, menempuh perjalanan jauh, penuh dengan resiko, dengan bekal yang banyak, semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah :
Yang kita butuhkan saat ini adalah bagaimana mengejawentahkan ajaran Islam dalam sikap hidup kita sehari-hari, agar kita bisa menjadi contoh kebaikan bagi umat manusia ( litakunu syuhada’ alannas ), menjadi al-Qur’an yang hidup dan berjalan di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Karena itu, marilah kita senantiasa hidup diatas Islam, hidup dengan Islam dan mati dalam keadaan Islam kepada Allah :
Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan saya termasuk orang yang bersegara dalam berserah diri ( al-An’am : 162 -163 ). 

0 Response to "Hikmah Disyariatkannya Ibadah Qurban"

Post a Comment