Hukum Merayakan Ulang Tahun


Siang itu, sabtu, 12 Mei 2012, saya dikagetkan dengan kejutan yang diberikan teman sahabat saya. Pasalnya, pada tanggal 11 Mei kemarin adalah hari kelahiran saya 23 tahun silam. Beberapa telur menghantam saya berkali-kali ditambah dengan air lumpur, sungguh penderitaan yang sempurna. Begitu juga dengan 1 tahun yang lalu, tepatnya hari rabu, 11 Mei 2011. Ketika itu saya sedang melaksanakan Praktek Pengayaan Lapangan (PPL) Fakultas Tarbiyah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Fattah, Pacitan.
Berangkat dari pengalaman pribadi saya diatas, saya ingin berbagi ilmu atau sekedar sharing dengan para pembaca sekalian mengenai hukum perayaan hari ulang tahun, lebih tepatnya hari kelahiran.
Seperti yang pernah saya baca di blognya Asrizal, ternyata tradisi perayaan ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya. Nah, untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Pemberian kado atau bingkisan juga dipercaya akan menciptakan suasana gembira yang akan membuat para setan berpikir ulang ketika hendak mendatangi orang yang berulang tahun. Ini memang warisan zaman kegelapan Eropa.
Pada awalnya, perayaan ulang tahun hanya dilakukan oleh para raja saja. Tapi seiring berjalannya zaman, perayaan itu tidak dilakukan oleh raja saja, akan tetapi oleh kalangan masyarakat biasa juga. Khususnya kalangan bangsawan.
Jadi Tradisi ulang tahun sama sekali tidak memiliki akar sejarah dalam islam. Islam tak pernah diajarkan untuk merayakan ulang tahun. Kalau pun kemudian ada orang yang berargumen bahwa dengan diperingatinya Maulid Nabi, hal itu menjadi dalil kalau ulang tahun boleh juga dalam pandangan Islam. Maka ini adalah argumen yang tidak tepat.
Rasulullah SAW sendiri tak pernah mengajarkan kepada kita melalui hadisnya untuk merayakan maulid Nabi. Maulid Nabi, itu bukan untuk diperingati, tapi tadzkirah, alias peringatan. Maksudnya? Jika kita baca buku tarikh Islam, di dalamnya terdapat catatan bahwa Sultan Shalahuddin al-Ayubi amat prihatin dengan kondisi umat Islam pada saat itu. Di mana bumi Palestina dirampas oleh Pasukan Salib Eropa. Sultan Shalahuddin menyadari bahwa umat ini lemah dan tidak berani melawan kekuatan Pasukan Salib Eropa yang berhasil menguasai Palestina, lebih karena mereka sudah terkena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Mereka bisa menjadi seperti itu karena mengabaikan salah satu ajaran Islam, yakni jihad. Bahkan ada di antara mereka yang tidak tahu menahu dengan perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Untuk menyadarkan kaum muslimin tentang pentingnya perjuangan, Sultan Shalahuddin menggagas ide tersebut, yakni tadzkirah terhadap Nabi, yang kemudian disebut-entah siapa yang memulainya-sebagai maulid nabi. Tujuan intinya mengenalkan kembali perjuangan Rasulullah dalam mengembangkan Islam ke seluruh dunia. Singkat cerita, kaum muslimin saat itu sadar dengan kelemahannya dan mencoba bangkit. Dengan demikian, berkobarlah semangat jihad dalam jiwa kaum muslimin, dan bumi Palestina pun kembali ke pangkuan Islam, tentu setelah mereka mempecundangi Pasukan Salib Eropa. Jadi Maulid nabi bukan dalil dibolehkannya pesta ulang tahun.
Kembali ke pokok pembicaraan, Pesta ulang tahun bukanlah warisan Islam. Tapi warisan asing, alias ajaran di luar Islam. Lalu bagaimana jika kita melakukannya? Simple saja jawabannya, berarti kita telah mengikuti budaya Yahudi. Dan itu termasuk bid’ah. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).
Kita boleh saja mengingat hari kelahiran kita, tapi tidak untuk dirayakan seperti halnya orang-orang Yahudi dahulu kala, makan-makan, foya-foya, tiup lilin, dsb. Akan tetapi sewajarnya saja. Ingatlah saja bahwa umur kita semakin berkurang, dan kita semakin bertambah dewasa, saatnya kita memperbaiki diri kita. jangan jadikan hari kelahiran kita sebagai hari yang mesti dirayakan.
Menengok ke pengalaman saya diatas, sebenarnya saya sangat tidak setuju. Itu sebabnya saya menyembunyikan identitas kelahiran saya, baik di facebook atau dimanapun. Tapi ternyata teman-temanku masih ada yang ingat. Tak apalah, yang penting saya sama sekali tidak ada niat untuk merayakannya. Apalagi sampai makan dan foya-foya. Cukup do’a yang akan kupanjatkan, semoga kedepannya saya menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin Ya Rabb. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawaab.



0 Response to "Hukum Merayakan Ulang Tahun"

Post a Comment