Jagalah hati Jangan Kau Nodai

Oleh: Abdul Hakim

Seluruh makhluk di dunia ini tentunya memiliki hati, namun samakah hati manusia dan hati makhluk lainnya?. Tentu hati yang dimaksud di sini ialah hati yang dimiliki oleh semua manusia, hati yang dapat memberi petunjuk, hati yang bisa menjadi pembeda mana yang baik dan mana yang buruk.

Hati dalam bahasa Arab disebut “Qalbun” dari kata Qalaba yang artinya membalik. Oleh karena itu juga kenapa segumpal darah yang ada di dalam diri manusia itu diberi nama “Qalbun” karena keadaannya yang juga berbolak-balik, terkadang hati dalam keadaan baik dan terkadang hati dalam keadaan buruk. Tak heran jika terkadang kita sering mendengar kisah-kisah orang yang jahat, mereka berubah memperbaiki dirinya menjadi orang baik dan bertobat. Dan sebaliknya juga tak sedikit orang yang baik dapat berubah menjadi orang yang jahat, dan hina dalam hidupnya.

Hati adalah sebuah hal yang misterius dalam diri manusia, hatilah yang menentukan diri ini, hati yang menentukan pikiran ini, perbuatan kita, ucapan kita. Hati yang mengendalikan diri kita. Dalam dalilnya jelas dikatakan “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari).

Lalu bagaimanakah kendali kita terhadap hati?
"…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." (Al-Anfal:24) Maksudnya adalah Allah lah yang menguasai hati seorang hamba.

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah, Aisya rha., berkata, “Nabi SAW sering berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’ Aku pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa Anda sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang merasa ketakutan?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada yang membuatku merasa aman, hai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada di antara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang hamba-Nya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja.’”

Dari ayat dan hadits di atas, jelas sekali bahwa hati seorang hamba ada pada kekuasaan Allah swt.

Ketika kita diperintahkan untuk menjaga hati, maka kita diperintahkan untuk tidak mengotori hati. Kotornya hati adalah karena maksiat. Maksiat yang kita lakukan seperti noda yang menutupi hati kita.

 “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al Muthafifin:14)

Hati yang tertutup noda maksiat ini akan menjadi hati yang sakit, bahkan berpeluang menjadi hati yang mati. Dengan istighfar dan taubat lah noda yang menutupi hati bisa dibersihkan.

Bagaimanakah kita harus menjaga hati kita? Hendaknya kita menjaga hati kita ini dengan cara menjaga tubuh dan indera kita dari perbuatan maksiat. Karena apa-apa yang kita lihat, yang kita dengar, yang kita makan, yang kita kerjakan, akan mempengaruhi hati kita. Bagaimana mungkin kita menjaga hati kita sementara kita membiarkan tubuh dan indera kita tetap dalam kemaksiatan. Dalam Al-Qur’an dikatakan
Ÿ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.  Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (An-Nuur:30-31).

Manusia tidak punya kontrol langsung terhadap hatinya. Allah lah yang punya kontrol langsung. Allah bisa membalikkan hati seorang hamba, dari semangat untuk beribadah kemudian hatinya tidak dalam keadaan mood untuk beribadah, atau istilahnya futur. Itulah mengapa Rasulullah saw berdoa agar Allah menetapkan hatinya pada ketaatan, jangan sampai Allah membalikkan hatinya pada ketidak-taatan.

Kendali manusia terhadap hatinya diperantarai oleh perbuatan yang ia lakukan. Manusia tidak bisa secara langsung membersihkan hatinya, melainkan ia terlebih dahulu harus melakukan taubat dan ketaatan-ketaatan yang menyempurnakan taubatnya. 

Terbolak-baliknya hati manusia ada korelasinya dengan amal yang ia upayakan. Keimanan itu bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, berkurang karena kemaksiatan. Iman yang turun/berkurang berimplikasi pada keadaan jenuh seseorang. Kejenuhan itu bisa berawal dari kemaksiatan yang ia lakukan. Dan keadaan semangat seseorang terjadi mana kala imannya sedang naik atau bertambah. Hal itu diletupkan oleh ketaatan yang ia perbuat. 

Oleh karena itu, agar Allah senantiasa memposisikan hatinya pada semangat beribadah, seorang hamba harus berupaya menjaga ketaatannya dan menjaga inderanya untuk tidak bermaksiat kepada Allah sehingga hatinya bersih. Kalau tidak, Allah akan membalikkan hatinya karena hatinya dikerumuni oleh noda-noda maksiat.

Kedengkian, riya’, dan dendam, dan penyakit hati lain yang bersarang pada hati kita sebenarnya melewati indera kita terlebih dahulu. Yaitu berawal dari lintasan pikiran. Allah masih mengampuni lintasan pikiran ini. Tapi segeralah berlindung kepada Allah dari penyakit hati dan bertaubatlah dari penyakit hati yang telah terlanjur bersarang.

Biasanya godaan ingin dipuji muncul setelah beramal sholeh. Kalau kita cepat tersadar, maka pikiran itu tidak akan mengendap di hati. Begitu juga dengan kebencian atau iri hati terhadap orang lain, bersegeralah berlindung kepada Allah saat terlintas pikiran tersebut pertama kali. Kalau terlambat, penyakit itu akan bersarang. Dan penyakit-penyakit itu tidak akan bersarang kecuali kalau pada lingkungan yang memungkinkannya untuk hidup, yaitu hati yang kumuh dan berpenyakit karena kemaksiatan kepada Allah swt. Dan lintasan pikiran itu sendiri tidak akan mudah tercetus kecuali dari pikiran yang sakit, yang diakibatkan oleh hati yang sakit.

Kecerdasan yang ada di dalam pikiran, bisa dikalahkan oleh kebusukan yang ada di dalam hati. Orang seperti itu biasanya akan marah pada kebenaran dan senang pada kebatilan. Dan, jika hal tersebut terjadi, maka itulah hati  sedang sakit. Sama seperti anggota tubuh lainnya, hati yang sakit bisa dilihat dari tiga hal.

Pertama, kemampuan indera yang ada di dalam hati akan hilang secara total. Hati seperti ini akan menjadi buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Ia tidak bisa membedakan antara kebenaran, kesesatan, ketakwaan, kemaksiatan, dan lain sebagainya.

            Kedua, kemampuan indera yang ada di dalam hati menjadi lemah. Padahal sebenarnya, kemampuan indera tersebut kuat. Sama seperti anggota tubuh lainnya, jika sedang dalam keadaan seperti ini, hati berarti butuh asupan gizi.

            Ketiga, hati tidak bisa melihat sesuatu dalam bentuk yang sebenarnya. Seperti melihat kebenaran menjadi kesesatan, kesesatan menjadi kebenaran, merasakan manis menjadi pahit, dan pahit menjadi manis.

Lalu, bagaimana menjaga hati agar tetap sehat? Ibnul Qayyim menjelaskan, agar hati bisa tetap sehat, ia bisa dilakukan dengan tiga cara; menjaga kekuatan hati, melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, dan membuang zat-zat yang berbahaya bagi hati. Kekuatan hati bisa didapatkan dengan iman. Dan iman merupakan sumber kekuatan hati paling utama. Jika iman hilang, hati akan menjadi sakit.

Sedangkan untuk melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, bisa dilakukan dengan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Sebab, kedua hal ini yang dapat membuat hati menjadi sakit. Ia sama dengan racun yang jika dikonsumsi pasti akan membahayakan tubuh.

Selain juga sering kita dengar bagaimana kita mengobati hati kita, pertama hendaknya kita membaca Al-Qur’an serta maknanya dan juga mengamalkannya, setelah itu mendirikan shalat malam juga bisa menjadi obat bagi hati yang sakit, betapa indahnya di tengah suasana yang hening di saat hamba-hambanya terlelap dalam tidur disaat itu kita bersujud kepada-Nya seraya memanjatkan do’a dan memohon ampunan-Nya. Selalu berzikir kepada Allah juga menjadi obat bagi hati ini, dengan berzikir selalu disetiap hayat kita, kita akan merasa bahwa Allah selalu ada bersama kita, dengan zikir dapat menenangkan hati yang sakit. Berkumpul dan bergaul dengan orang-orang soleh akan menjadikan hati ini selalu terarah kepada kebaikan, karena dalam hidup ini kita tidak hidup sendiri tapi juga dengan makhluk lainnya, jadi seyogyanya kita hidup dalam kebaikan. Setelah itu memperbanyak puasa juga akan menjadi sarana yang baik untuk menjaga hati, dengan puasa kita menahan diri dari hawa nafsu yang selalu berusaha menjerumuskan kita kepada keburukan yang akhirnya bisa menodai hati kita.

Sesungguhnya kita diciptakan di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT. Dari Allah kita diciptakan dan kepada Allah jugalah kita akan kembali. Segala yang ada di dunia ini adalah sarana bagi manusia untuk menuju kepada-Nya, maka gunakanlah sarana yang ada ini dengan sebaik-baiknya. Bukan sebaliknya sarana ini malah menjerumuskan kita kepada kerugian, kebinasaan, dan kehancuran.

Jagalah indera dan tubuh kita dari bermaksiat kepada Allah, agar hati kita terjaga kebersihannya. Dengan hati yang bersih kita dapat melaksanakan segala kewajiban kita sebagai hamba-Nya, dan kita dapat menjalani hidup ini dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Dan dapat meraih kebaikan di dunia dan di akhirat Insyaallah.
"…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." (Al-Anfal:24)
“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.”
(Al-Bukhari).

0 Response to "Jagalah hati Jangan Kau Nodai"

Post a Comment