Jejak Da’i Dari Masa Kemasa

Oleh: Al-Hafidh

Da’wah merupakan dua susunan kata sederhana yang mengandung makna sangat mendalam,kata da’wah berasal dari bahasa arab yang berarti ajakan, seruan, panggilan dan undangan[1],sedangkan da’wah menurut pendapat fuqoha adalah sesungguhnya ad-da’wah al-islamiyah merupakan penyampaian kepada seluruh manusia akan prinsip-prinsip islam dan mengajak mereka kapadanya dengan perkataan dan perbuatan di seluruh tempat dan setiap waktu[2], banyak sekali dalil-dalil yang menyeru umat manusia agar ber-da’wah baik dari Al-Qur’an ataupun hadis-hadis di antarnya dalam ( Q.S an-Nahl : 125 )

äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  

Dan salah satu diantara hadis-hadis Rasulullah SAW yang berkaitan dengan da’wah adalah perkataan Nabi yang berbunyi :
" ومن دعا الى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا و من دعا الى ضلالة كان عليه من الاثم مثل من تبعه لا ينقص ذلك من اثامهم شيئا " ( أخرجه مسلم )[3]
Hadist diatas berkenaan dengan keutamaan dari pada da’wah itu sendiri, merupakan suatu kenikmatan besar dari Allah bila seorang hamba memiliki unsur-unsur yang bisa menghantarkannya menjadi seorang penegak agama Allah dan penyeru (da’i),karena tugas seorang da’i merupakan tugas utama para rasul AS,kedudukan da’i satu tingkat di bawah kedudukan para rasul, kedudukan da’i paling mulia dan paling agungkarena misi dan tujuan mereka adalah menegakkan kalimatullah (agama Allah), karena akan membawa umat manusia pada ketentraman dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Seorang da’i termasuk golongan orang-orang pilihan dan terbaik serta paling di cintai Allah swt,makasudah sepantasnya perkataannya adalah sebagus-bagus ucapan di muka bumi, sebagaimana  Ini dikatakan Allah swt dalam firman-Nya:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang salih dan berkata ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’” (QS. Fushshilat: 33)
Para Nabi dan Rasulullah sepatutnya menjadi teladan di dalam da’wah dan jihad serta kesabaran,permulaan da’wah islamiyah patokannya adalah pada da’wah islam yang di bawa oleh Rasulullah Muhammad sholallahu alaihi wasallam.
Da’wah Masa Rasulullah
Dalam sirah nabawiyah tercatat bahwa da’wah Rasulullah sholallahu alaihi wasallam, berlangsung selama 23 tahun, 11 tahun da’wah mekkah dan 12 tahun madinah, kehidupan Rasulullah SAW memberikan kepada kita contoh-contoh mulia, baik sebagai pemuda islam yang lurus perilakunya dan terpercaya di antara kaum dan juga kerabatnya, ataupun sebagai da’i dengan hikmah dan nasehat yang baik, yang mengarahkan segala kemampuan untuk menyampaikan risalahnya,memimpin negara yang mengatur segala urusan dengan cerdas dan bijaksana, menjadi suami teladan dan seorang ayah yang penuh kasih sayang, kepala panglima perang yang mahir, tokoh negarawan yang pandai dan jujur, berperilaku muslim secara keseluruhan (kaffah) yang dapat melakukan secara imbang antara kewajiban beribadah kepada Allah dan bergaul dengan keluarga dan sahabatnya dengan baik.[4]
Da’wah Nabi saw ditempuh dengan empat tahapan : pertamada’wah secara rahasia selama tiga tahun,keduada’wah secara terang-terangan dengan menggunakan lisan saja tanpa perang yang berlangsung sampai hijrah,ketigada’wah secara terang-terangan dengan memerangi orang-orang yang menyerang dan memulai peperangan atau kejahatan yang berlangsung berlangsung sampai tahun perdamaian hudaibiyah,keempatda’wah secara terang-terangan dengan memerangi setiap orang yang menghalangi jalannya da’wah atau menghalangi orang yang masuk islam. Setelah melakukan da’wah kepada kaum musyrik, anti agama dan penyembah berhala, syariat Islam dan hukum jihad perlahan-lahan dapat diterima oleh masyarakat[5].
Inti sari dari da’wah Rasulullah SAW adalah seruannya tentang i’tiqod (tauhid), yang menyeru ummat manusia supaya meng-Esakan Allah, mensucikan dari perserupaan dan perumpamaan, seruan kepadakeyakinan terhadap petunjuk dan pengajaran kepada manusia, mengabarkan bahwasanya di balik kehidupan kita yang sekarang ada lagi suatu kehidupan yang merupakan kehidupan yang kekal.[6]
Da’wah Pada Masa Khulafaur Rasyidin
Khulafaur Rasyidin melakukan da’wah keseluruh penjuru dunia yang dikenal dengan futuhat islamiyyah yang diikuti oleh perluasan pemikiran atau ilmu islam, ketika masa Khulafaur Rasyidin perjalanan da’wah islamiyah lebih banyak di tempuh dengan cara peperangan atau penaklukan,gerakan yang paling menonjol pada khulafau rasyidin adalah menjaga keutuhan Al-Qur’an al Karim dan mengumpulkannya dalam bentuk mushaf Abu Bakar kemudian memberlakukan mushaf standar pada masa Utsman bin Affan, Abu Bakar melakukan pengumpulan Al-Qur’an karena adanya rasa kekhawatiran terhadap para penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam medan perang pada saat itu.
KhalifahAbu Bakar memulai da’wah nya dengan perlawanan terhadap orang yang murtad dari agama dan orang-orang yang lemah imannya serta kelompok munafikkemudian disusul dengan memberantas terhadapgerakan nabi palsu seperti Musailamah al Kazzab dari bani Hanifah, Thalhah bin Khuwailid dari bani Asad, Sajjah dari bani Tamim, kemudian membasmipembangkang zakat yang berpandangan bahwa zakat itu diberikan kepada Nabi dengan dalil kitab (objek informasi) dalam ayat tentang zakat dikhususkan kepada Nabi, kemudian setelah Nabi meninggal hukum tentang zakat bagi mereka tidak berlaku lagi.
Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdil ‘Uzza bin Rabahmemerintah dan berda’wah selama sepuluh tahun enam bulan, penyebaran wilayahnya sampai pada Irak, Iran, Syam, Yordania, Suriah, dan Palestina, ketika itu beliau selalu menjadikan da’wah sebagai tujuan utama untuk negara dan agama, setelah memerintah Umar Radhiallahu ‘anhu segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia,beliau mendirikan beberapa departemen,ketika itu mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah,mendirikan lembaga yudikatif dan lembaga eksekutif, membentuk jawatan kepolisian untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan membuat tahun hijriyah.[7]
Utsman bin Affan bin Ash bin Umayyah bin Abdi Syam bin Abdi Manaf yang bergelar Dzun Nurain, memerintahan selama 12 tahun danberda’wah dengan melaksanakan tugas kekhalifahan yang diamanatkan secara maksimal, berda’wah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mengikuti tradisi baik yang sudah ada, tidak mendahulukan hukuman dalam mendidik rakyat, mengajak rakyak agar hidup zuhud. Pada masa Utsman perluasan wilayah islam meliputi kawasan laut, juga Barat Afrika, negeri-negeri seberang sungai Jihun, Cyprus, di karenakan kaum muslimin telah memiliki angkatan laut.[8]
Khalifah Ali dikenal memimpi dan berda’wah dengan keberanian, beliau seorang orator dan sastrawan. Pada masa Ali banyak sekali pergolakan tidak ada sedikitpun yang dapat dikatakan stabil dalam masa pemerintahanya, Ali Radhiallahu ‘anhu menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah. perang jamal (unta) yang dahsyat pun berkobar, yang akhirnya  Ali berhasil mengalahkan lawannya (Zubair dan Thalhah terbunuh) sedangkan Aisyah Radhiallahu ‘anha ditawan dan dikirim kembali ke Madinah[9]..
Setelah peperangan jamal, Ali Radhiallahu ‘anhu bergerak dari Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara dan bertemu dengan pasukan Mu’awiyah Radhiallahu ‘anhu di Shiffin,pertempuran pun terjadi dan diakhiri dengan tahkim (arbitrase) akan tetapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga (al-Khawarij) akibatnya umat islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Mu’awiyah, Syi’ah(pengikut Abdullah bin Saba’ al-yahudi)dan Khawarij. Kedudukan Ali sebagai khalifah kemudian dijabat oleh anaknya al-Hasan bin Ali Radhiallahu ‘anhuma selama beberapa bulan, namun karena al-Hasan Radhiallahu ‘anhu menginginkan perdamaian dan menghindari pertumpahan ,arah, maka al-Hasan Radhiallahu ‘anhumenyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Mu’awiyah Radhiallahu ‘anhu [10].
Da’wah Pada Masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyyah
Kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak,kekuasan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun,ibukota negara dipindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus (tempat berkuasa ia sebelumnya). Khalifah besar Bani Umayyah adalah Muawiyah ibn Abi Sufyan,  Abd Al-Malik, Umar ibn Abd al-Aziz, dan Hasyim ibn Abd Al-Malik.
Gerakan da’wah pada masa abbasiyyah menggunakan dua strategi yang tegas diantaranya:
1. Di kawasan timur laut, yaitu negeri-negeri yang terletak di seberang sungai, atau negeri-negeri yang terletak di antara 2 sungai, jihun dan sihun, kaum muslimin melanjutkan perjuangannya di bawah komando Ubaid bin Ziyad bin Ubaih dan Qutaibah bin Muslim dan lainnya, Qutaibah berhasil memasuki kawasan ini sampai hampir menguasai daerah-daerah yang terletak diantara dua sungai tersebut, mereka menghancurkan berhala dan membakarnya, kemudian banyak penduduk yang masuk islam di tangannya.
2. Di kawasan tenggara, di daerah Sind, Muhammad bin Al Qasim ats Tsaqafi berangkat menuju kawasan ini, gerakan perluasan negeri diikuti dengan kebangkitan pemikiran dan sosial, masjid-masjid dan sekolah merata diseluruh pelosok desa dan kota, ahli fikih, hadis dan sejarah aktif beraktivitas di segala bidang prioritasnya dan tidak mengherankan jika banyak di antara mereka menjadi ulama terkemuka dan memiliki kontribusi besar dalam memperkaya khazanah pemikiran Islam.
Dinasti Abasiyyah didirikan oleh Abdullah as Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdillah bin Abbas. pusat pemerintahannya dipindahkan ke Kufah dan akhirnya ke Baghdad (Madinah as Salam)  sampai daulah Abasiyyah.
Ciri-ciri da’wah pada masa abbasiyah adalah para khalifah abbasiyyah pada masa keemasannya adalah seorang ulama sekaligus cinta ilmu, khalifah mendorong dan memfasilitasi upaya penerjemah berbagai ilmu dari berbagai bahaasa ke bahasa arab, seperti falsafat, ilmu kedokteran, ilmu bintang, ilmu pasti, ilmu fisika, ilmu musik dan lain-lain, pemimpin melakukan perluasan dan pembinaan wilayah da’wah, mendorong dan memfasilitasi pembaharuan sistem pandidikan madrasah
Mengamati perjalanan da’wah dari masa Rasulullah sampai masa sahabat dan pengikutnya, perjuangan da’wah islamiyah lebih condong mengarah ke peperangan walaupun para da’i di zaman itu telah berusaha sekeras mungkin agar tidak terjadi pertumpahan darah akan tetapi tegaknya ajaran islam dalam hal ini para da’i tidak pernah berputus asa apalagi menyerah malah sebaliknya semangat mereka makin membara untuk ber-da’wah dan berjihad di jalan Allah.
Da’wah di Indonesia Sebelum Kemerdekaan
Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun islam sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi,saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui selat malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7.[11] Harian Duta Masyarakat mengungkapkan, islam masuk di nusantara sejak zaman Rasulullah,yakni berdasarkan literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan arab islam di pesisir Sumatera,kemudian Marcopolo menyebutkan, saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H/1292 M telah banyak orang arab menyebarkan islam,begitu pula Ibnu Bathuthah seorang pengembara muslim ketika singgah di Aceh tahun 746 H/1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab syafi’i akan tetapi baru abad 9 H (abad 15 M) penduduk pribumi memeluk islam secara massal (Duta Masyarakat, 28-30 Maret 2007).
Berbeda dengan da’wah islam di Asia Barat, Afrika, dan Eropa yang dilakukan dengan penaklukan, walisongo ber-da’wah dengan cara damai, dengan pendekatan pada masyarakat pribumi dan akulturasi budaya serta berda’wah secara kultural (percampuran budaya islam dan budaya lokal), budaya dan tradisi lokal mereka sepakati sebagai media da’wah, banyak tulisan seputar walisongo dan sejarah masuknya islam di Indonesia, misalnya dalam Ensiklopedi Islam; “Târikhul-Auliyâ”karya KH Bisri Mustofa, “Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia“ karya KH Saifuddin Zuhri,“Sekitar Walisanga” karya Solihin Salam,“Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya” karya Drg H Muhammad Syamsu, “Kisah Para Wali” karya Hariwijaya dan “Kisah Walisongo: Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa”karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid M.A.
Dahulu di Indonesia mayoritas penduduknya beragamadengan kerajaan bercorak hindu dan budha sehingga budaya dan tradisi lokal saat itu kental diwarnai kedua agama tersebut, budaya dan tradisi lokal itu oleh walisongo tidak dianggap “musuh agama” yang harus dibasmi melainkan mereka jadikan “teman akrab” dalam media da’wah agama selama tak adapertentangan dengan nash syariat.
Awalnyawalisongo dalam da’wahnya belajar bahasa lokal, memperhatikan kebudayaan dan adatserta kesenangan dan kebutuhan masyarakat,kemudian menarik simpati masyarakat Jawa yang sangat menyukai kesenian, walisongo punmemulai dengan kesenian, di antaranya : menciptakan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan, dan pertunjukan wayang dengan lakon islami, setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu’, shalat, dan sebagainya.
Da’wah setelah kemerdekaan dan masa kini
Di masa yang penuh dengan permasalahan yang kompleks seperti saat ini, merupakan sebuah tantangan dan kenyataan yang sangat mencengangkan ketika banyaknya penyakit menjamur di masyarakat seperti, judi, minuman keras, dan pelacuran di setiap daerah.[12]  Belum lagi rusaknya mental dan pergaulan anak muda yang mana nantinya akan menjadi penerus bangsa, menurut catatan Nusron Anggota DPR dari Partai Golkar, ada sekitar 22 kota, kabupaten di Indonesia yang telah memberlakukan PERDA yang bernuansa syariat islam, antara lain; Aceh, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Pamekasan, Kepulauan Riau, Indramayu, Tasikmalaya, Sumatera Selatan, Cianjur, Maros, Binjai, Bulukamba, Pangkep dan Enkerang[13].
Perjalanan da’wah saat ini sangat beraneka ragam, secara mayoritas para da’i lebih memilih da’wah bil Lisan atau dengan perkataan dan hanya sedikit sekali yang berani berda’wah dengan perbuatan apalagi peperangan,kesemuaan ini dikarenakan banyaknya faktor yang tidak mendukung da’wah itu sendiri,akan tetapi para da’i semakin bertebaran dimana-mana membuktikan akan semangat perjuangan menegakkan agama Allah.
Melihat begitu kompleksnya persoalan ummat islam, nampaknya da’wah islam harus dilakukan dengan upaya yang serius dan tidak hanya cukup dilakukan dengan da’wah bil lisan, da’wah yang dibutuhkan adalah kerja nyata yang mampu menimbulkan perubahan-perubahan sosial kemasyarakatan serta mampu memberikan solusi bagi permasalahan umat. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan dan petunjuk agar selalu  menegakkan ajaran islam dimana dan kapan saja.

Rujukan
            Toha Jahja Omar, Ilmu Da’wah, (Widjaya Djakarta, 1967), p, 1
            Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, Sirah nabawiyah(Robbani Press),jilid. I, p, 2.
alih bahasa (penerjemah): Aunur Rafiq Shaleh,
 Hamka, sejarah umat Islam, (bulan bintang 1975), p, 188.
Ali Audah, Ali bin Abi Talib sampai kepada hasan dan husain, ( litera antar nusa, 2008
Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia,  (Rajawali Press, 2005), p. 9
Minta Perda Syariat Tak Dibatalkan”, Surya, 28- Juni-2006,2. Baca juga, “ Perda SI Antara Ada dan Tiada”, Surya, 16-Agustus, 2006,31.
ابراهيم العسل, الدعوة و الجهاد أحكام و تطبيقات, (دار بيروت المحروسة) ص            12




[1] Prof. Toha Jahja Omar M.A, Ilmu Da’wah, (Widjaya Djakarta, 1967), p, 1
[2]ابراهيم العسل, الدعوة و الجهاد أحكام و تطبيقات, (دار بيروت المحروسة) ص 12

[4]Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, alih bahasa (penerjemah): Aunur Rafiq Shaleh, (Robbani Press) Sirah nabawiyah ,jilid-I, P, 2
[5]Ibid. 4/36
[6]Prof. Dr. Hamka, sejarah umat Islam, (bulan bintang 1975), p, 188
[7]Ibid 8/ 226
[8]Ibid 8/232
[9]Ibid 8/ 256
[10]Ali Audah, Ali bin Abi Talib sampai kepada hasan dan husain, ( litera antar nusa, 2008 ), p, 347
[11]Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia,  (Rajawali Press, 2005), p. 9
[12] “Minta Perda Syariat Tak Dibatalkan”, Surya, 28- Juni-2006,2. Baca juga, “ Perda SI Antara Ada dan Tiada”, Surya, 16-Agustus, 2006,31.
[13]Surya, 16-Agustus-2006,31.

0 Response to "Jejak Da’i Dari Masa Kemasa"

Post a Comment