Kepemimpinan Transformasional Dalam Islam

Oleh: Abdul Halim Wicaksono

Perlunya kepemimpinan transformasional
Perubahan-perubahan di berbagai belahan dunia pada faktanya selalu ada yang menginisiatorinya. Inisiator tersebut sering kita sebut sebagai pemimpin. Ia adalah seorang yang memberikan visi, misi dan haluan kepada manusia lainnya untuk beranjak dan bergerak dari tempat semula menuju perbaikan dan perubahan.
Kata kepemimpinan sendiri memiliki beberapa definisi, diantaranya: C. Turney dalam bukunya The School Manager mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu group proses yang dilakukan oleh seseorang dalam mengolah dan menginspirasikan sejumlah pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi melalui aplikasi teknik-teknik manajemen. James M. Lipham mendefinisikan kepemimpinan sebagai pelaku seseorang yang menginisiatifkan suatu struktur baru dalam berinteraksi pada suatu sistem sosial, baik mengenai tujuan, sasaran, konfigurasi, prosedur-prosedur, input, proses, dan output pada sistem sosial tersebut. Sedangkan dalam buku Organisational Behavior Arthur G. Jago mendefinisikan bahwa kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu process dan property. Sebagai suatu proses, kepemimpinan adalah mempengaruhi anggota group tanpa paksaan untuk mengarahkan dan mengkoordinir aktivitas-aktivitasnya dalam pencapaian tujuan. Sebagai suatu property, kepemimpinan adalah suatu perangkat seperangkat karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk mencapai suatu kesuksesan dalam mempengaruhi anggota groupnya.
Mengetahui tipe kepemimpinan dan mengaplikasikanya dalam organisasi baik dalam skala besar ataupun kecil sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan beberapa alasan yang kuat, diantaranya: (a) Kepemimpinan merupakan kunci bagi organisasi yang masih dalam tahap berkembang. Dalam hal ini, pemimpinlah yang akan menjadi nahkoda kapal yang harus bisa memadukan antara kemampuanya dan anggotanya sehingga dapat mencapai tujuan dengan semangat dan gilang gemilang. (b) perubahan dan perbaikan merupakan hal yang terpenting dari tujuan manusia dalam berorganisasi. Keberhasilan perubahan dan perbaikan ditentukan oleh pemimpin beserta gaya memimpinya. (c) Dwi Suryanto dalam Transformasi Leadership setelah mengadakan penelitian menyatakan bahwa 80% penelitian kajian kepemimpinan pasti menyangkut kepemimpinan transformasional dan tipe ini memiliki dampak yang signifikan terhadap terjadinya perubahan dan pengembangan organisasi. (d) pola interaksi dengan anggota organisasi merupakan hal terpenting dan pemimpin lagi-lagi adalah sebagai lokomotifnya. (e) dengan mengetahui tipe kepemimpinan transformasional, kita dapat mengambil hal yang baik untuk diterapkan dalam kepemimpinan kita.
Beberapa Corak Kepemimpinan
Mohammad Karim dalam bukunya Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam menyeebutkan setidaknya ada 5 macam tipe atau corak kepemimpinan, yaitu: kepemimpinan tradisional, kepemimpinan transaksional, spiritual, karismatik dan kepemimpinan transformasional. Setiap tipe dan corak kepemimpinan memiliki titik berangkat dan fokus garapan yang bervariasi. Kepemimpinan tradisional bermula dari semangat penguasaan kepada orang lain. Sedangkan fokus garapanya yaitu segala hal yang pragmatis untuk memenuhi keinginan biologis semacam makan, minum dan lain sebagainya. Kepemimpinan transaksional berangkat dari semangat ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain, sehingga fokus garapanya meliputi segala kelebihan orang lain yang menarik dan ingin ditukarkan dengan miliknya. Prinsipnya, aku dapat apa? Kamu dapat apa? Sedangkan kepemimpinan spiritual memiliki titik mula dari nilai-nilai spiritual yang agung dan biasanya lekat dengan nilai-nilai ilahiyah. Lain lagi dengan tipe kepemimpinan kharismatik, ia berangkat dari semangat untuk menyelesaikan kekacauan sosial yang terjadi dengan menawarkan visi sebagai solusi, sehingga bidang garapanya adalah individu-individu masyarakat untuk disatukan dan diikat dengan jaringan emosionalitas yang kuat terhadap visi yang ditawarkan. Terakhir yaitu tipe kepemimpinan transformasional yang memiliki titik mulai dari semangat keinginan untuk mentransformasi organisasi menuju perubahan dan perbaikan. Hal ini mengakibatkan garapanya terfokus pada pewujudan visi organisasi dengan melakukan transformasi visi anggota organisasi agar berdampak terhadap terwujudnya visi dan misi organisasi.
Konsep Kepemimpinan transformasional
Masih merujuk buku Mohammad Karim, Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional dikemukakan oleh Burn yang menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional adalah sebuah proses dimana pimpinan dan para bawahanya berusaha untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Dalam artian, pemimpin pemimpin transformasional mencoba untuk membangun kesadaran para bawahanya dengan menyerukan cita-cita yang besar dan moralitas yang tinggi seperti kejayaan, kebersamaan, dan kemanusiaan. Seorang pemimpin dikatakan transformasional diukur dari tingkat kepercayaan, kepatuhan, kekaguman, kesetiaan, kepemilikan dan rasa hormat kepada para anggotanya. Implikasinya, anggota organisasi selalu termotivasi untuk melakukan hal yang lebih baik lagi untuk mencapai sasaran organisasi.
Dalam al-Qur’an, semangat perubahan dan revolusi termasuk transformasi sehingga dapat kita temukan pijakan epistemologisnya dari beberapa ayat tentang para nabi dan rasul. Dalam al-Qur’an ayat 218, Surah al-Baqoroh disebutkan pentingnya berhijrah (transformasi), yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”
Sebut saja beberapa gaya kepemimpinan transformasional yang dilakukan Nabi Adam yaitu manusia pertama dan paling menentang kebodohan dengan banyak mempelajari nama-nama makhluk dan menentang kezaliman seperti yang dilakukan anaknya sendiri. Nabi Nuh yang memimpin, membimbing dan memperlakukan secara adil kaum miskin pada waktu di pinggirkan oleh kelompok orang kaya pada waktu itu. Nabi Syu’aib yang menentang ketidakadilan ekonomi bagi kaum Madyan. Nabi Musa yang membebaskan kaum budak Bani Israil dari cengkraman Fir’aun. Nabi Muhammad SAW yang melengkapi syariat dan ajaran agama Islam. Beliau dapat berkomunikasi dengan para sahabat-sahabat terbaiknya bahkan para musuh-musuhnya. Karena beliau jugalah ummat Islam berkembang, hijrah dari zaman kejahiliahan dengan segala perbuatan buruk kaum kafir Quraisy menjadi orang yang paling cepat melakukan perubahan dan perbaikan di segala lini, sehingga tak berlebihan dan bahkan sangat patut menyandang gelar ummat terbaik. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainya.
Komponen Prilaku Kepemimpinan Transformasional 
Dr. Dwi Suryanto dalam bukunya yang berjudul Transformational leadership, terobosan Baru Menjadi Pemimping Unggul menyebutkan, Bass dan Avolio (1994) menemukan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki empat komponen perilaku, yaitu: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individualized consideration. Empat komponen perilaku pemimpin transformasional adalah:
Idealized Influence, adalah perilaku seorang pemimpin transformasional yang memiliki keyakinan diri yang kuat. Ia selalu hadir di saat-saat sulit, ia pun memegang teguh nilai-nilai yang ia junjung tinggi. Komitmen yang tinggi selalu mengiringi langkah pemimpin ini. Ia menumbuhkan kebanggaan pada pengikutnya. Ia seorang yang bervisi jelas, dan langkah-langkahnya selalu mempunyai tujuan yang pasti. Di atas segalanya, ia adalah orang yang tekun.
Individualized Consideration, adalah perilaku pemimpin transformasional, di mana ia merenung, berpikir, dan selalu mengidentifikasi kebutuhan para karyawannya. Ia berusaha sekuat tenaga mengenali kemampuan karyawan. Dibangkitkannya semangat belajar pada para karyawannya, tidak itu saja, ia juga memberi kesempatan belajar seluas-luasnya. Ia malahan menjadi pelatih mereka, dan ia selalu mendengar karyawannya dengan penuh perhatian. Ia sadar bahwa ia tidak bisa sendiri, maka ia adalah orang yang berani mendelegasikan wewenangnya. Baginya, karyawan yang diberdayakan adalah kunci kesuksesan sebuah karya.
Inspirational Motivation, adalah upaya pemimpin transformasional dalam memberikan inspirasi para pengikutnya agar mencapai kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbayangkan. Ditantangnya karyawan mencapai standar yang tinggi. Ia mengajak karyawan untuk memandang ancaman dan masalah sebagai kesempatan belajar dan berprestasi. Oleh karenanya, ia menciptakan budaya untuk berani salah, karena kesalahan itu adalah awal dari pengalaman belajar segala sesuatu. Baginya, kata adalah senjata utamanya. Dengan kata pula ia bangkitkan semangat karyawan. Ia gunakan simbol-simbol dan metafora untuk memotivasi mereka. Pemimpin ini jika bicara selalu antusias, ia seorang yang optimis. Diajaknya para karyawan menemukan makna mendalam dalam bekerja. Agar karyawan mau mengikutinya secara suka rela, ia menempatkan dirinya sebagai tauladan bagi para pengikutnya tersebut.
Intellectual Stimulation, adalah senjata pemimpin transformasional dalam mengajak karyawan melihat perspektif baru. Imajinasi, dipadu dengan intuisi namun dikawal oleh logika dimanfaatkan oleh pemimpin ini dalam mengajak karyawan berkreasi. Ia seorang yang risau dengan status quo, maka ia tanyakan mengapa organisasi harus tetap dalam keadaan status quo itu. Ia ajak karyawan untuk berani menentang tradisi uang, dan ia ajak pula karyawan untuk bertanya tentang asumsi lama. Ia menyadari bahwa sering kali kepercayaan tertentu telah menghambat pola berpikir, oleh karenanya, ia ajak karyawannya untuk mempertanyakan, meneliti, mengkaji dan jika perlu mengganti kepercayaan itu.

Post a Comment