Ketika Muslimah Harus Berdakwah

أدعوا إلي سبيل ربَك بالحكمة و الموعظة الحسنة و جادلهم بالتي هي أحسن :النحل125
Ajaran islam melalui Al qur’an dan Sunnah telah menetapkan dakwah sebagai bagian dari doktrin Islam. Sebagai doktrin,dakwah merupakan suatu kewajiban yang dibebankan kepada setiap pemeluknya. Tidak seorang individu muslim pun yang terbebas dari kewajiban berdakwah. Setiap manusia yang telah melafadzkan dua kalimat syahadat maka wajib baginya untuk berdakwah menyeru pada jalan Allah.
Lalu bagaimana dengan wanita?
Seorang wanita muslimah memiliki peran penting bagi perkembangan masyarakat, wanita yang kelak menjadi ibu adalah pendidik pertama bagi anak anak nya maka,wanitalah yang dapat membawa keterunannya ke jalan Allah. Tugas sebagai ibu adalah tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Karena  setiap ibu akan ditanya tentang anak-anak mereka, bagaimana dia mendidik anak mereka dan tentang dia memperhatikan pendidikan itu.  Dakwah disini bukan hanya bersifat pidato di depan khalayak ramai, namun dakwah dapat berupa perbuatan secara langsung. Dan cermin wanita muslimahlah yang dapat memberi dakwah dengan baik dan benar.
Wanita adalah tiang negara, jika wanita dalam sebuah negara itu benar, benarlah negara tersebut. Bahkan seorang penyair Syauqie Bey pun mengungkapkan bahwa “ibu laksana  madrasah,jika engkau menyiapkannya, maka berarti engkau telah menyiapkan generasi yang bagus.”  Dan telah dituliskan dalam kitab suci Al qur’an :
وراء كلّ رجل عظيم إمرءة
Dibalik setiap pembesar ada wanita..
Tidak dapat dipungkiri lagi akan pentingnya peran seorang wanita dalam kehidupan. Maka sudah selayaknya seorang wanita dapat memberi dakwah kepada sesama.Yang harus didakwahi seorang wanita selain mengishlah dirinya sendiri juga mendakwahi keluarganya baru masyarakat sekitarnya. Jika seorang wanita belum dapat menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan maksiat maka bagaimana ia dapat mendakwahi orang lain? Setelah kemuslimahannya lengkap,maka dimulailah ia berdakwah dalam keluarganya, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dizamanya.
Sesungguhnya diri seorang muslimah sendiri dapat menjadi dakwah. Bagaimana ia memelihara tingkah lakunya dan akhlaknya. Apalagi dalam berhijab,belumlah lengkap diri seorang muslimah sebelum dia berjilbab,karena jilbab disyariatkan untuk merawat dan menjaga perempuan dari segala kejahiliyahan,agar mereka tetap menjadi mutiara yang terawat dan terjaga. Tanpa tersentuh oleh kotoran apapun.[1]
Dari dirinya yang berkualitas inilah akan lahir pemahaman dakwah dengan baik dan benar.
            Banyak orang yang enggan dalam berdakwah dengan alasan “bagaimana saya mengajak masyarakat pada kemuliaan ajaran Islam, sementara saya dan keluarga masih jauh dari nilai-nilai yang saya dakwahkan sendiri?”[2]
Teringat akan firman Allah, “wahai orang orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu  kerjakan”(ash-shof:2-3) kerap menjadi beban yang sangat berat
Ini bisa disebut dengan penyakit mental yang dimasukan setan dalam jiwa manusia agar takut untuk menjadi da’iyah dimuka bumi. Karna memang setan tidak ingin dakwah dan tarbiyyah berkibar dimuka bumi ini. Maka dicampakkanlah kedalam hati manusia sikap ragu-ragu terhadap kebaikan aktivitasnya.
Padahal selain menjadi kewajiban syariat, dakwah juga merupakan kebutuhan manusia secara universal. Artinya setiap manusia, dimana pun ia berada tidak akan bisa hidup dengan baik tanpa dakwah. Dakwahlah yang menuntun manusia pada kebaikan. Sedangkan menjadi ahli kebaikan adalah kebutuhan dasar setiap orang. Maka jangan pernah terfikir sedikitpun untuk menjauh dari dakwah dengan alasan apapun. Justru ketika kita merasa kesulitan menjadi baik,maka dakwah inilah yang akan membantu kita memudahkannya. Semakin kita merasa berat meniti jalan islam semakin besar pula kebutuhan kita terhadap dakwah. Untuk itu, da’wah muslimah sebagai bagian dari da’wah semesta memiliki arti penting mengembalikan pemahaman yang benar tentang peran wanita yang sesuai fitrah dan posisinya dalam Islam.
Dakwah untuk muslimah tak harus diatas mimbar,karena mungkin lebih banyak mudharat nya. Kecuali jika ia mendakwahi sesama muslimah,kurang pantas rasanya jika seorang muslimah mendakwahi kaum lelaki di atas mimbar, selain karena
الرّجال قوّمون على النّساء
Sesungguhnya suara wanita juga termasuk dari aurat. Lalu bagaimana jika mislimah ingin berdakwah secara khutbah agar dapat memberi banyak arahan pada sesamanya?
 mungkin dapat pula dengan dibentuknya organisasi da’wah muslimah. Dan itu pun harus ditata, dikelola dan diorganisir secara baik dan teratur dengan kepemimpinan yang kokoh dan manajemen yang baik, yang tertuang dalam suatu wadah pergerakan. Urgensi dari dakwah muslimah sangat diyakini menjadi salah satu bagian penting dalam dakwah, bahkan seorang bijak mengatakan pembagian porsi dakwah muslimah dengan dakwah keseluruhan, adalah jika dakwah itu adalah lingkaran, maka dakwah muslimah sebesar setengah lingkaran.
Pergerakan dakwah muslimah seperti yang kita ketahui telah bergulir sejak zaman Nabi Muhammad, dimana Nabi menempatkan Istrinya sebagai pemimpin para muslimah. Peran sentral dari muslimah yang juga telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya merupakan urgensi yang dinilai sebagai landasan mendasar mengapa kita perlu menjalankan dakwah khusus muslimah di kampus, atau dimana kita berada bersama muslimah lainya.
Dizaman Rasul Aisyah telah memberi kita contoh yang nyata. Aisyah memberikan bimbingan langsung kepada muslimah yang dating padanya. Ia yang memberikan arahan untuk para muslimah, memberikan pembinaan, menyampaikan aspirasi muslimah di syuro, dan sebagai panglima dakwah untuk para muslimah itu sendiri.
Maka, tidak dapatkah kita mencontohnya?
Jadi muslimah dapat di beri lingkup sendiri untuk mengakses dakwahnya. Sehingga mudharat dalam majlis tersebut pun sedikit. Sarana dakwah mungkin dapat dimulai dari keluarga dan kerabat,lalu lingkungan komplek atau kampung, kuliah dan sekolahan lalu masyarakat umum setelah nya.[3] Namun ketika muslimah telah aktif pada dakwahnya, selayaknya agar ia dapat terus menjaga keistiqomahanya tanpa melalaikan tugas wajib lainnya.
Selain dakwah bil hal dan bil kalam ada baiknya seorang muslimah menambah kegiatan dakwahnya dengan dakwah bil qolam,atau dengan tulisan. Dengan tulisan muslimah dapat mengembangkan pemikiran dakwahnya tanpa harus bersosialisasi banyak pada non muhrim.
Disaat wanita-wanita dunia disibukkan dengan tuntutan Emansipasi Wanita dan Feminisme alangkah baiknya jika seorang wanita muslimah menyibukkan dirinya dalam dakwah, termasuk dakwah untuk menyadarkan mereka yang belum paham akan hakikat wanita sejati dan keistimewaannya. Karena saat ini propoganda manusia-manusia Sekuler, Yahudi bahkan pengkristeninasi semakin marak,maka dibutuhkan adanya gerakan dari muslimah untuk membenahi dunia Islam.
Berbicara tentang dakwaah adalah berbicara tentang efektif atu tidak efektif. Maka,kata kunci dalam hal ini adalah kemampuan kita dalam berkomunikasi. Komunikasi bertumpu pada dua kemampuan: pertama,kemampuan mengekspresikan diri secara tepat, memaahami orang lain, dibangun dari kakayaan sumber informasi tentang orang lain, analisis yang komperhensif dan integral atas informasi-informasi itu, dan penyikapan yang objektif terhadap mereka, tidak terlalu meremehkan dan tidak terlalu membesarkan.
Sedangkan kemampuan mengekspresikan diri secara tepat dibangun dari pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri, tahapan kerja membangun peradaban sendiri, dan kemampuan menggunakan semua bahasa terhadap orang lain, bahasa budaya, bahasa pemikiran, bahasa diplomasi politik, dan lain sebagainya. Dengan inti dapat menggunakan komunikasi secara bijak.
Dan sepertinya lingkup dakwah muslimah di Indonesia semakin menipis dan jarang, menandakan menurunnya moral bangsa kita. Meski dakwah di televisi banyak, akan tetapi masyarakat lebih banyak yang memilih untuk menonton sinetron dan acara-acara pengumbar nafsu sesaat lainnya dari pada mendengarkan muhasabah diri.
DAFTAR RUJUKAN
Abdullah,Adil Fathi.2002.Menjadi Ibu Dambaan Umat. Jakarta:Gema Insani.
Abdullah bin Abdil Aziz.2005.Dakwah Sebagai Hobi,Mungkinkah?.Surabaya:eLBA.
Hielmi,K.H Irfan.2002.Dakwah Bil Hikmah.Yogyakarta.Mitra Pustaka.
Usman,Drs.Sutrisno.2003.Mutiara Dakwah.Purwokerto:Asyifa’.
Assalami,Amir Husein.2006.Jilbab Digugat.surakarta:Aulia press.
Thahadi,Miswan.2008.Quantum Dakwah dan Tarbiyah.Jakarta:Ali’tishom.





0 Response to "Ketika Muslimah Harus Berdakwah"

Post a Comment