Manajemen Waktu

Oleh: Ahmad Suharto

Untuk mengetahui apakah kita sudah memanej dan memanfaatkan waktu hidup dengan benar, baik serta poduktif, adalah dengan menjawab pertanyaan berikut ini “Seandainya takdir menentukan bahwa saat ini juga kita akan dipanggil kembali menghadap Allah, apakah kita sudah siap?”. Kalau belum, kita tampaknya harus merevolusi manajemen waktu kita.
Demikianlah faktanya, kita semua menyadari betapa berharganya waktu dalam kehidupan, tetapi kenyataanya justru waktu itulah yang paling sering kita tabdzirkan, kita buang sia-sia tanpa manfaat yang jelas, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Harta yang hilang bisa dicari gantinya, tetapi waktu yang berlalu, tidak akan pernah kembali. Anehnya banyak orang saat berulang tahun bersuka cita, padahal kalau mereka menyadari, saat itu umurnya telah berkurang semakin menjauh dari dunia, mendekati kuburnya. Setiap saat, setiap detik kita selalu mendapati waktu yang baru, sebagai makhluk baru. Apa yang sudah kita lakukan untuk menyikapi waktu ini?
            Hasan al-Banna mengataakan “Al-waqtu huwa al hayat”, waktu adalah kehidupan, maka orang yang menyia-nyiakan waktunya, berarti telah menyia-nyiakan kehidupannya. Serupa dengan ungkapan diatas Hasan Bashri, seorang tokoh tabi’I mengatakan :
يَا ابْنَ آدَم، إنَّمَا أنْتَ أيَّامٌ !، فَإذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah “kumpulan hari-hari”, maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.”
            Untuk lebih meyakinkan diri kita betapa mahalnya waktu, kita bisa bertanya kepada orang-orang berikut ini ; Kepada pelajar yang tidak naik kelas, seperti apa mahalnya waktu setahun. Kepada ibu yang melahirkan anaknya pramature baru delapan bulan, padahal dia mendambakan lahir sempurna sembilan bulan, betapa berharganya waktu satu bulan. Kepada pimpinan penerbitan majalah mingguan, betapa mahalnya waktu satu minggu. Kepada buruh pekerja kasar yang menganggur sehari sementara dia harus menanggung nafakah keluarganya, betapa berharganya waktu satu hari. Kepada penumpang kereta api yang ketingggalan kereta karena terlambat satu menit datang ke stasiun, betara berharganaya waktu satu menit. Atau kepada peraih medali perak dalam lomba lari cepat, karena kalah cepat dari sang juara sepersekian detik, betapa mahalnya waktu sepersekian detik.
            Keutamaan waktu ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur’an, dimana Allah SWT sendiri sering bersumpah dengan menggunakana nama-nama waktu (wal ashri, wal fajri, wannahari, wallaili, waddhuha dll) semua itu menunjukkan keutamaan waktu bagi kehidupan manusia. Bahkan ada satu surat yang dengan tegas menjelaskan bahwa manusia semua dalam kerugian, kecuali yang mengisi waktunya dengan keimanan, beramal shalih, saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Imam syafi’I mengatakan, seandainya Allah tidak menurunkan surat lain, selain surat al-‘Ashr ini, maka hal inipun sudah mencukupi manusia (sebagai pedoman hidup).
            Ibarat pedagang, kita semua mendapat modal yang sama dari Allah, yaitu waktu, setiap kita mendapat 24 jam sehari. Karena itu mari berintrospeksi bagaimana kita memanfaatkan modal waktu tersebut? Apakah kita mendapatkan banyak keuntungan berupa amal shalih, atau malah merugi berupa dosa dan kemakshiatan. Dalam perniagaan duniawi kita begitu teliti menghitung keuntungan, apakah demikian juga dalam perniagaan ukhrawi?
            Generasi salaf sangat menghargai waktu, sebagi contoh Imam Ibnu Jarir Atthabari menulis banyak buku, kalau dijumlah halamannya mencapai 358 ribu halaman, kalau dihitung sejak beliau baligh hingga wafatnya, rata-rata sehari menulis 14 halaman. Ibnul Qayyim meskipun dalam bepergian masih tetap menulis kitab, hasilnya adalah Zaadul Ma’ad. Ibnu Taimiyah, ketika sakit dan harus beristirahat justru tetap beraktifitas belajar mengajar, karena bagi beliau itulah obat penawar sakitnya, dan dengan belajar mengajar itu beliau merasa tentram serta kuat. Ibnu Mas`ud Radhiyallahu 'Anhu (salah seorang sahabat besar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam) berkata:
مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ نَدَمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ، نَقَصَ فِيْهِ أجَلِي، وَلَمْ يَزِد فِيْهِ عَمَلِي
"Tidak ada yang lebih aku sesali, kecuali bila matahari telah terbenam maka berkuranglah masa ajalku, namun tidak bertambah sedikitpun amalanku.".
Lantaran itu kiat menejemen waktu yang praktis untuk kita terapkan adalah dengan menuntaskan pekerjaan hari ini pada hari ini, jangan ditunda-tunda. Pekerjaan malam jangan ditunda sampai siang, pekerjaan siang jangan ditunda sampai malam atau besuk pagi, karena masing-masing dari siang dan malam mempunyai pekerjaannya sendiri-sendiri, demikian pula besuk hari, akan banyak pekerjaan yang menanti. Kita bersama hari ini, dan belum tentu bersama hari esuk, karena kita tidak mengetahui apakah besuk pagi masih bisa menyaksikan terbitnya matahari?.Kita sering baru menyadari kelemahan kita dalam memanaj waktu saat melihat teman-teman jauh mendahului kita dengan berbagai  prestasi, sementara kita masih terpuruk di belakang, baik dalam karier, kecakapan, wawasan, pencapaian jenjang akademis dan lain sebagainya. Intinya ada dua penyakit pembunuh waktu kita, yang pertama adalah ghaflah (lalai) dan yang kedua adalah taswif (menunda-nunda pekerjaan).
            Kiat memanfaatkan waktu dengan baik adalah seperti yg disabdakan Rasulullah SAW :
Pergunakanlah lima perkara sebelum lima perkara : hidup sebelum matimu, kesehatanmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, umur mudamu sebelum tuamu dan kekayaanmu sebelum kemiskinanmu.(HR. Al Baihaqi)
Waktu hidup adalah nikmat dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban untuk dimanfaatkan, bagaimana dihabiskan, bahkan lebih spesifik waktu muda yang identik dengan kekuatan dan vitalitas akan didimintai pertanggungjawaban khusus untuk apa dihabiskan, demikian pula harta kita dari mana didapatkan dan untuk apa dibelanjakan kemudian ilmu kita sejauh mana diamalkan.
Kewajiban muslim terhadap waktunya :
            Kita perlu menumbuhkan rasa tamak akan waktu, menghargai waktu dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Hasan bashri pernah berkata ”Aku melihat suatu kaum yang ketamakan mereka terhadap waktu mereka jauh lebih besar daripada ketamakan kalian terhadap harta mereka”, kaum yang dimaksud adalah generasi shahabat. Dianatara kiat-kita manajemen waktu adalah sebagai berikut :
1.      Mengatur waktu
Untuk menjalankan kewajiban-kewajiban yang utama, baik agama maupun urusan dunia, dengan menerapkan prinsip skala prioritas ”mendahulukan yang lebih penting dari yang penting dan mendahulukan yang penting dari yang tidak penting”.Waktu hidup seseorang terbagi empat :Waktu ketaatan, kenikmatan, kemakshiatan dan cobaan. Ketika berada alam ketaan hendaknya dijaga dan dipelihara kesemangatannya, saat mendapat kenikmatan supaya bersyukur, saat dalam kemakshiatan agar segera memohon ampun dan bertaubat serta pada saat cobaan supaya bersabar, ridha dan tawakkal.
2.      Memanfaatkan waktu luang
Jangan sampai waktu kita kosong tanpa kegiatan yang berguna, karena kekosongan adalah kerusakan, kekosongan adalah kelalaian yang sering dimanfaatkan syetan untuk menggoda seseoang melakukan hal-hal yang tidak baik. Senantiasa sibuk dalam ketaatan adalah kiat jitu mengisi waktu, karena kalau tidak demikian, kita akan disibukkan dengan dosa dan kemakshiatan.
Diantara cara memelihara waktu adalah :
1.      Introspeksi diri
Lakukan hal ini setiap hari, apa ayang sudah kamu kerjakan, bagaimana kamu mengabiskan harimu, kebaikan apa yanag sudah kamu hasilkan, kejelekan apa yang menodai harimu dst.
2.      Mendidik jiwa untuk mencintai hal-hal yang mulia/luhur
Yang senantiasa mempunyai cita-cita luhur akan menjauhi hal-hal yang remeh dan sia-sia, dia akan menjaga banar-banar waktunya agar tidak terabaikan untuk hal-hal yang rendah. Allah mencintai urusan-urusan yang besar, serta membenci urursan-urusan sampah dan rendahan.
3.      Berteman dengan mereka yang senantiasa memelihara waktunya
Bergaul dengan mereka membantu kita untuk ikut memelihara waktu, karena pengaruh pergaulan dalam kehidupan sangat kuat.
4.      Memahami bagaimana  generasi salaf memelihara waktu mereka
Agar kita bisa meneladai mereka, karena mereka sebaik-baik orang yang memahami nilai waktu dan pentingnya umur untuk ketaatan kepada Allah
5.      Vareatif dalam pemanfaatan waktu
Agar tidak jenuh, kita mesti membuat berbagai kegiatan yang vareatif
6.      Memahami bahwa waktu yang berlkalu tidak akan pernah kembali
7.      Mengingat-ingat kematian dan saat dicabut nyawa kita
8.      Menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang menyia-nyiakan waktu
9.      Mengingat-ingat pertanyaan yang akan diajukan kepada kita pada hari kiamat tentang waktu
Hal-hal yang bisa kita lakukan dalam memanfaatkan waktu adah sebagai berikut :
Menghafal al Qur’am dan memperlajarinya, menuntut ilmu (menghadiri majelis ilmu, mendengarkan penjelasan dan rekaman yang bermanfaat, membaca buku dll), dzikrullah, memperbanyak ibadah-ibadah sunnah untuk mendapatkan kecintaan Allah, berdakwah ke jalan Allah  amar ma’ruf nahi munkar, memberi nasihat, ziyarah dan shilaturrahim, memanfaatkan waktu-waktu utama untuk berdo’a dan beribadah (sepertiga malam, settiap ba’da shalah, diantara adzan dan iqamah, ba’da shubuh sampai dhuha dll), mempelajari hal-hal yang berguna.

0 Response to "Manajemen Waktu"

Post a Comment