Membentuk Da'i Generasi Islam


Oleh: Abdul Hakim

Islam adalah agama yang universal, Islam telah memiliki prinsip-prinsip ataupun ajaran-ajaran yang menata segala aspek kehidupan, yang semuanya itu bila dilaksanakan akan menciptakan sebuah tatanan sosial yang baik, menciptakan masyarakat aman, tenteram dan sejahtera. Masyarakat merupakan kumpulan dari berbagai macam individu-individu yang memiliki banyak keberagaman dalam berbagai hal. Untuk menciptakan masyarakat yang baik maka dibutuhkan individu-individu yang baik pula, untuk menciptakan individu-individu yang baik pula maka dibutuhkan dakwah sebagai sarana dalam pembentukan watak dan akhlakul karimah, yang harus dimiliki oleh setiap orang.

Kewajiban Muslim Terhadap Da’wah
Islam adalah agama risalah dan da’wah. Rasulullah SAW diutus untuk seluruh ummat manusia.
!$tBur y7»oYù=yör& žwÎ) Zp©ù!$Ÿ2 Ĩ$¨Y=Ïj9 #ZŽÏ±o0 #\ƒÉtRur £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw šcqßJn=ôètƒ ÇËÑÈ
Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui.[1]
Demikian tugas, yakni risalah yang dipikulkan kepada Rasulullah SAW. Isi risalah berupa berita gembira dan peringatan yang ditujukan kepada seluruh ummat manusia. Kepada manusia disampaikan berita yang menggambarkan nilai-nilai kejadiannya sendiri, dan martabatnya di antara seluruh makhluk yang diciptakan Tuhan
ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ
Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.[2]
Paling sempurna susunan jasmaniyahnya dibandingkan dengan jenis makhluk lain yang mempunyai hayat dan paling sempurna pula susunan ruhaniyahnya. Dia mempunyai jasad dan ruh, mempunyai panca indera untuk menghubungkannya dengan alam luarnya, mempunyai nafsu sebagai pendorong untuk memperlengkapi keperluan hidup, mempunyai akal untuk berfikir, mempunyai hati untuk merasa, fikir dan rasa yang dapat mengetahui dan merasakan mana yang buruk, mana yang baik, mempunyai dhamir, hati nurani yang dapat mendorong untuk menjauhi yang buruk dan menuju kepada yang baik.
Maka dengan segala unsur-unsur jasmaniah dan ruhaniyahnya itu manusia mengandung bakat dan potensi untuk meningkat ke taraf yang lebih tinggi, lebih indah dan murni bila unsur-unsur itu berkembang dan dipergunakan sesuai dengan undang-undang yang telah ditetapkan oleh Khaliq dalam penciptaan manusia, dan yang berlaku bagi seluruh manusia.
Dalam surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ  
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.”[3]
Islam adalah Agama risalah, untuk manusia keseluruhannya. Ummat Islam adalah pendukung amanah untuk meneruskan risalah dengan da’wah, baik sebagai ummat kepada ummat-ummat yang lain, ataupun selaku perseorangan di tempat manapun mereka berada, menurut kemampuan masing-masing
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah apa yang (kamu terima) dari padaku walaupun satu ayat.”
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.[4]
Dari ayat-ayat dan hadits di atas tadi, dapatlah diambil kesimpulan, bahwa da’wah dalam arti luas, adalah kewajiban yang harus dipikul oleh tiap-tiap muslim dan muslimah. Da’wah dalam arti amar ma’ruf nahi mungkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat. Ini adalah kewajiban sebagai pembawaan fitrah manusia sebagai makhluk sosial.
Dalam memelihara dan membela keselamatan hidup dan kemaslahatan masyarakat, Islam memberi tanggung jawab terhadap masing-masing anggota masyarakat itu sendiri, sesuai dengan prinsip penghargaannya terhadap martabat dan kemerdekaan pribadi manusia. Kekuatan memelihara kemaslahatan dan stabilitas hidup bermasyarakat ditanamkan dalam masyarakat itu sendiri. Yakni dengan menghidupkan dhamir perseorangan untuk mengendalikan diri, yang berkembang merupakan dhamir masyarakat sendiri, untuk membendung dan memberantas kemungkaran, demi keselamatan masyarakat seluruhnya. Oleh karena itu perlunya kesadaran pada setiap individu masing-masing akan kewajiban da’wah ini.
Makna Da’wah dan Da’i
Kata da’wah berasal dari bahasa Arab yang berarti ajakan, seruan, panggilan, undangan. Da’wah menurut Islam ialah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan, untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.[5] Dalam Al-Qur’an disebutkan
أدع إلى سبيل ربّك بالحكمة و الموعظة الحسنة و جادلهم بالتي هي أحسن
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik”[6](An-Nahl : 125)
Sedangkan Da’i adalah sebutan bagi orang yang melaksanakan da’wah. Secara bahasa Da'i adalah penyeru atau penyampai informasi. Dalam teori komunikasi Da'i itu adalah komunikator. Ia yang selalu menyampaikan pesan kepada komunikan. Secara istilah Da'i adalah seseorang yang menyampaikan pesan-pesan tentang ajakan menuju jalan Allah (amar ma'ruf nahyi munkar) kepada mustami' atau umat.
Hendaknya da’wah menyeru kepada jalan Allah, kepada kebaikan, membawa orang kepada keimanan. Da’wah bisa berupa penerangan, yang menarik orang yang memberikan pengertian kepada orang lain tentang suatu kebenaran. Selain itu penyiaran juga menjadi salah satu bagian dari da’wah, penyiaran untuk menjelaskan pokok-pokok persoalan agama. Namun kita kembali lagi kepada ayat di atas bahwa ayat di atas memerintah kita untuk mengajak manusia kepada jalan Allah jalan yang diridhoiNya, dengan hikmah atau dengan cara yang baik dan bijaksana dan berdiskusi dengan cara yang baik pula, karena kita hendak mengajak manusia kepada kebaikan maka hendaknya mengajaknyapun juga dengan cara yang baik bukan dengan cara yang buruk.

Bagaimana Kita Menjadi Seorang Da’i
Kepercayaan dan keyakinan tidak bisa dipaksakan. Memaksakan keyakinan kepada seseorang adalah pekerjaan yang sia-sia dan dilarang, dalam Al-Qur’an dikatakan
 “ Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.[7] Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqoroh ayat 256).
Al-Qur’an menegakkan kemerdekaan berfikir dan ber i’tiqad, sebagai salah satu hak asasi manusia, dan salah satu kaedah agama yang utama. Seorang Da’i tidak dapat bersikap bijak dalam menyampaikan dakwahnya kecuali ia mengetahui dan memahami asas-asas yang dijadikan pijakan berdakwah. Tidak diragukan lagi bahwa pemahaman terhadap rukun-rukun dakwah (materi dakwah, profil seorang da’i, cara-cara berdakwah)[8] sangatlah penting bagi da’i sebagaimana diungkapkan dalam al-Qur’an, “Katakanlah (hai Muhammad) Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang yang mengikutiku mengajak (kamu) ke jalan Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)[9]
Materi da’wah adalah agama Islam. Seorang da’i harus memahami tujuan-tujuan Islam yang telah dijelaskan oleh syariat Islam. Di antara tujuan-tujuan tersebut ialah menciptakan kemaslahatan umat dan menghindari segala kemudharatan dan bahaya. Islam berjalan sesuai dengan akhlak yang mulia dan adat kebiasaan yang terpuji. Sebab Al-Qur’an mampu menyelesaikan permasalahan yang tidak mampu ditangani manusia. Al Qur’an meletakan beberapa dasar-dasar umum dan memberi petunjuk jalan yang paling lurus dan bijaksana.
Seorang da’i yang bijaksana adalah orang yang mengajak untuk mengamalkan rukun-rukun Islam, rukun iman dan ihsan. Ia juga harus memberikan penjelasan kepada umat manusia terhadap hal-hal yang terkandung dalam Al-Qur’an dan sunnah seperti akidah, mu’amalah dan akhlak secara terperinci detail dan jelas.
Strategi da’i dalam berdakwah juga harus jitu, hal ini sangat diperlukan oleh seorang da’i, diantaranya adalah[10]
Pemahaman yang mendalam yang didasarkan pada ilmu yang dimiliki sebelum melakukan tugas da’wah. Pemahaman itu juga harus berdasarkan pada pemahaman makna Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Seorang da’i harus memahami aqidah Islam secara benar berdasarkan pada Al-Qur’an, hadis ijma’ ulama ahli sunnah waljamaah. Pemahaman seorang da’i mengenai tujuan hidup dan fungsinya di kalangan masyarakat. Selalu mengingat akhirat dan menjauhi masalah-masalah keduniaan.
Beriman kepada Allah secara mendalam yang dapat membawa pengaruh, cinta kepada-Nya, takut dan berharap kepada Allah SWT serta mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam segala hal. Seorang da’i haruslah selalu menjalin hubungan dengan Allah SWT di dalam segala hal, selalu bergantung kepada-Nya, selalu bertawakkal, memohon pertolongan, ikhlas kepada-Nya serta selalu jujur dalam segala perkataan dan perbuatan.
Selain itu seorang da’i juga harus memiliki akhlak yang baik dan sifat-sifat yang terpuji, diantaranya adalah jujur, ikhlas, berda’wah berdasarkan kepada hujjah yang jelas, tidak pemarah, lemah lembut, sabar, kasih sayang, pemaaf, merendahkan diri, menepati janji, berani, cerdas, amanah, malu yang terpuji, mulia dan takwa. Juga keinginan yang kuat yang mengandung kekuatan komitmen, cita-cita yang agung, optimis, disiplin, teliti, dalam segala permasalahan, menjaga waktu, dan merasa bangga dengan Islam. Mengamalkan ajaran-ajaran Islam agar seorang da’i menjadi panutan yang baik. Bersikap zuhud, wara’, istiqomah, memahami keadaan di sekelilingnya, selalu moderat, selalu merasa bahwa Allah selalu menyertainya, percaya dan yakin kepada Allah.

Harapan
Bila kita lihat pada zaman kita sekarang ini, begitu banyak timbul persoalan-persoalan dalam masyarakat kita sekarang ini. Konflik banyak terjadi dimana-mana, perkelahian antar remaja sekolah, runtuhnya bangunan moral di masyarakat, semuanya itu adalah tantangan bagi kita semua untuk merubahnya. Hendak sekarang kita mulai menyiapkan diri untuk tugas yang mulia ini. Sikap mental, pola pikir, serta sudut pandang kita harus memencarkan cahaya Islam. Perintah untuk berda’wah adalah kewajiban untuk semua muslim kita tidak boleh mengelaknya ataupun menentangnya. Di zaman yang sudah demikian majunya betapa banyak media atau sarana yang dapat digunakan atau dimanfaatkan untuk kepentingan da’wah.
Kini da’wah bukan hanya milik kaum cendikiawan saja, dakwah bukan hanya di masjid-masjid atau mushola-mushola saja. Da’wah kini sudah bisa dilakukan di berbagai sarana yang ada seiring dengan kemajuan tekhnologi yang telah dicapai manusia. Media-media da’wah kini telah tersebar dimana-mana. Tapi kita sebagai umat Islam juga jangan hanya diam melihat kemajuan tersebut. Hendaknya kita juga ikut andil dan berjuang untuk menyeru umat manusia kepada jalan Allah SWT, jalan yang lurus jalan yang penuh kebaikan. Karena kita adalah umat Islam, kita adalah da’i yang menyerukan kebaikan dan mencegah keburukan
“ Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran : 110)
Islam telah menaruh aturan-aturan dalam segala hal sampai hal-hal terkecilpun. Dengan menjalankan semua aturan-aturan itu maka akan tercipta individu-individu yang baik, yang selanjutnya menciptakan masyarakat yang baik pula. Oleh karena itu hendaknya kita mengajak seluruh manusia kepada jalan Islam jalan yang penuh dengan kebaikan, jalan yang diridhoi Allah, yang akan membawa kita kepada keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.


Referensi
M. Natsir. Fiqhud Da’wah. Shariah Courts and Religious Affairs Doha-Qatar.
Prof. Toha Jahja Omar. M.A. Ilmu Da’wah. Widjaya. Djakarta. 1967.
DR. Said al-Qahthani. Menjadi Dai Yang Sukses. Qisthi Press. 2005. Jaktim.
Dr.Muhammad Khoir Fatimah. Etika Muslim Sehari-hari. Pustaka Al-Kautsar. 1999. Jaktim.
Ismail Raji Al-Faruqi. Tauhid. Pustaka. Bandung. 1968
Muhammad Nasib Ar-Rifa’i. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 dan 2. Gema Insani Press. 1999. Jakarta.










[1] Saba’ : 28
[2] At-Tiin : 4
[3] Ma;ruf; segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
[4] Ali Imran : 110
[5] Prof. Toha Jahja Omar. M.A. Ilmu Da’wah. Widjaya. Djakarta. 1967. Hal 1
[6] Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah saw, agar mengajak makhluk kepada Allah dengan hikmah, yakni dengan berbagai larangan dan perintah yang terdapat di dalam al-Kitab dan as-Sunnah, agar mereka waspada terhadap siksa Allah.
[7] Maksudnya, janganlah kamu memaksa seorangpun untuk memasuki agama Islam, karena agama Islam itu sudah jelas dan terang.
[8] DR. Said al-Qahthani. Menjadi Dai Yang Sukses. Qisthi Press. 2005. Jaktim. Hal 81
[9] Seruan yang bertumpu kepada dalil, keyakinan, dan argumentasi. Setiap orang yang mengikuti Rasulullah menyeru pula kepada apa yang diserukan yang berdasarkan atas hujah, keyakinan, dan dalil yang bersifat aqli dan syar’i.
[10] Ibid. Hal 86

0 Response to "Membentuk Da'i Generasi Islam"

Post a Comment