Mensiasati Kelemahan Dakwah


Oleh: Rizqi Fauzi Yasin
Da’wah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah subhaanahu wa ta'ala sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.Da’wah sering dirangkaikan dengan kata "ilmu" dan kata "islam", sehingga menjadi "ilmu dakwah" dan ilmu islam" atau ad-da’wah al-islamiyah[1].
Dari pengertian da’wah dapat kita pahami bahwa da’wah itu merupakan suatu kegiatan mengajak manusia untuk berbuat kebaikan dan melarang manusia untuk melakukan keburukan, jadi pada dasarnya kegiatan da’wah ini sangatlah dianjurkan bahkan diwajibkan bagi seluruh umat islam  yang hidup didunia ini.
Dunia terus berputar dan akan selalu berputar, haripun terus berganti, dengan demikian kemajuan teknologi semakin sangat pesat, hal inilah yang menjadi kendala bagi para da’i ataupun penyeru untuk berda’wah kepada umat manusia ke jalan kebenaran. Banyak manusia dengan kemajuan teknologi menjadi terbengkalai dengan kewajibannya sebagai manusia, kemudian lupa akan kewajibannya terhadap sang pencipta Allah SWT. Hal inilah yang harus dipecahakan oleh para da’i dalam berda’wah,  yaitu membuat metode strategi da’wah kontemporer yang sesuai dengan keadaan sekarang. Oleh karena itu penulis  pada kesempatan kali ini akan mencoba memaparkan sedikit tentang mensiasati kelemahan-kelemhan para da’i dalam berda’wah pada saat ini.
Kelemahan-Kelemahan Da’wah
DR. Hisyam At-Thalib dalam bukunya "Dalil Attadrib Al-Qiyadi" (The International Institute of Islamic Thought 1995) mengungkapkan 21 kelemahan gerakan da’wah masa ini.21 kelemahan tersebut adalah hal-hal yang sangat prinsip dan menjadi faktor-faktor kemunduran gerakan da’wah kalau tidak bisa dikatakan sebagai faktor-faktor kehancurannya.
Salah satu kelemahan da'wah di atas adalah tidak adanya sistem-sistem da’wah yang baik, karena segala sesuatu itu akan tercapai dengan baik apabila ada sistem-sistem yang baik dan mendukung, salah satu kelemahan dari 21 yang diungkapkan oleh DR. Hisyam At-thalib dalam bukunya "Dalil Attadrib Al-Qiyadi" (The International Institute of Islamic Thought 1995) yaitu kegagalan menerapkan sistem syuro[2].Gerakan da'wah belum mampu menerapkan sistem syuro secara utuh dan sempurna.Situasi dan kondisi yang mendominasi berbagai gerakan da'wah adalah sistem “assam’u wat tho’ah” (dengar dan taat).Memang sebagian simpatisan da'wah selalu menyerukan sistem syuro. Namun disayangkan hanya sebatas teori belaka,pada tataran prakteknya masih jauhantara panggang dari api. Kita butuh kepada sebuah sistem syuro yang mengikat, namun terorganisir dengan baik berdasarkan kaidah-kaidah dan dasar-dasar ilmiyah yang mapan.Sebab itu, perlu keterlibatan sebanyak mungkin orang-orang yang kredibel dan berkualitasdi anggota majelis syuro agar kebijakan dan keputusan yang diambil menjadi lebih dekat kepada kebenaran, demikian juga halnya dengan implementasi kebijakan dan keputusan itu.
Sistem syuro yang diamanahkan Al-Qur’an perlu dipahami secara pasti, bukan dengan konsep yang remang-remang,kita harus befikir dan bekerja keras untuk memahaminya dengan baik dan maksimal sehingga sampai kepada kesimpulan yang pasti dan yakin, apalagi kita sekarang hidup di zaman yang didalamnya serba pasti.
Problemterberat bagi semua jamaah da’wah adalah kendala internal,ketika   problematika   internal   sudah   diselesaikan atau dikeloladengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan.Problematika  internal  yang  sering  dijumpai  dalam  jamaah da’wah adalah gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktifitas, latar belakang dan masa lalu, penyesuaian diri. Gejolak  kejiwaan  sebenarnya  merupakan  persoalan  yang dimiliki oleh semua manusia biasa dan yang perlu disadari adalah para aktifis da’wah juga manusia biasa,gejolak ini tidak bisa dimatikan sama sekali tetapi perlu dikelola dengan baik agar tidak merugikan da'wah dan aktifis da'wah.
Problematika  eksternal  da'wah bisa  menjadi  bahayabesar bagi kebaikan   bangsa dan masyarakat Indonesiakhususnya  umat islam yang meliputi  problematika  spiritual  dankultural, problematika moral, dan problematika sistemik.Diantara problematika da'wah di Indonesia yang menyangkut  aspek  spiritual  dan  kultural  adalah:  berhala-berhala modern baik berupa teknologi yang dijadikan rujukan kebenaran,  sains  yang  diabsolutkan,  materi  yang  ditaati, kekuasaan  yang  dipuja-puja, syirik,  khurafat  dan tahayul yang masih merebak di masyarakat, globalisasi dan dialektika kultural, serta tradisi baik yang sudah tergusur dan tergantikan   dengan   budaya   negatif   dari   perkembangan peradaban.
Problematika moral diantaranya adalah minuman keras dan penyalahgunaanobat-obatan, penyelewengan seksual,perjudian dan penipuan, serta tindakan brutal dan kekerasan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan problematika sistemik adalah  korupsi,  kolusi  dan  nepotisme  (KKN),  kemiskinan, kebodohan serta ancaman disintegrasi bangsa.
Jika kekuatan Islam adalah terletak pada ajarannya maka kekuatan umat islam terletak pada iman dan jiwa atau hatinya, dan tentu saja juga pada lahiriahnya,sedangkan kelemahan da'wah islam adalah disebabkan oleh kelemahan umat islam yang semakin jauh dengan Allah SWT,kelemahan ini terutama disebabkan dua hal; cinta dunia dan takut mati,umat islam yang cinta akan dunia dan mengejar kebahagiaan dunia saja secara pasti sedang menuju kepada kehancuran walaupun mereka berjumlah banyak sebagaimana banyaknya buih-buih di lautan[3].
Ada satu perbedaan utama antara da’i dan penceramah, salah satu perbedaanya adalah seorang penceramah bertugas menunjukkan manusia ke arah keimanan kepada dasar-dasar agama dan aqidah-nya, komitmen terhadap etika islam dan mengamalkan hukum-hukum-Nya, serta menjelasakan makna ayat maupun hadits. Sementara seorang da’i bertugas menuntut kaum muslimin mencapai tujuan islam dan risalah-Nya yang mendunia guna menyelamatkan umat manusia dan membebaskan dari penghambaan kepada selain Allah,dia membangkitkan umat islam untuk merealisasikan tujuan-tujuan islam yang tinggi, seperti tauhid, persatuan, keadilan, kebebasan dan saling memberi jaminan (solidaritas), dia juga  memberi pendidikan islam kepada kaum muslimin tentang akhlak, perilaku dan muamalah, sehingga menjadi pribadi dan masyarakat.[4]”. Jadi dapat dikatakan bahwa seorang da’i  itu lebih berat tugasnya dibandingkan seorang penceramah.
TIPS-TIPS MENSIASATI KELEMAHAN DA'WAH
Pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba memberikan tips serta solusi agar kelemahan da'wah dapat kembali menjadi normal dan menjadi kuat kembali dalam artian tidak menjadi lemah,janganlah kita jadikan bahwa kemajuan teknologi sebagai penghambat dalam da'wah, salah satuagar da'wah kita diterima oleh orang lain dibutuhkan strategi dan metode serta sistem da'wah yang lebih baik.
1.       Memiliki niat serta tekad yang kuat
Niat atau tekad yang kuat merupakan sebuah kunci keberhasilan dalam segala bidang demikian halnya dalam da’wah, niat ini merupakan faktor utama yang akan mendukung dan membuat kegiatan da’wah semakin lancar meskipun ada rintangan tapi tidak akan membuat patah semangat, dengan niat pula akan mendapat segala sesuatu apa yang dicita-citakan, apabila niatnya dalam da’wah itu karena untuk menegakkan kalimat Allah maka yang akan didapat adalah kedua-duanya baik yang bersifat duniawi dan yang bersifat ukhrowi ataupun akhirat kelak, jadi dalam hal ini niat itu adalah landasan utama dalam segala hal terutama dalam da’wah,hal ini pula telah diperkuat dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin al-Khattab radhiallahuanhu, dia berkata”, Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung kepada niatnya.Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena ingin mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya.Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)”[5].
2.       Memperbaiki sistem da'wah itu sendiri agar bisa menjadi kokoh kembali
Dalam hal ini para da’i dituntut untuk kerja keras ,agar bisa menemukan cara kontemporeragar sistem dalam da’wah itu kembali baik dan tidak terkontaminasi oleh perkembangan zaman. “Boleh zaman berubah tapi aqidah janganlah goyah”, inilah satu ungkapan yang harus dipegang oleh para da’i dalam menjalankan da’wahnya, bahkan ungkapan ini harus dijadikan sebuah prinsip dalam menjalankan da’wah karena dengan ini maka akan timbul sebuah motivasi atau dorongan kuat untuk selalu melaksanakan da’wah meski apapun yang terjadi.
3.       Harus memiliki Team Work[6]
Tidak diragukan bahwa gerakan da'wah telah berhasil melahirkan individu-individu yang istimewa,namun persoalan berikut yang muncul ialah saat mereka itu diminta beramal dalam satu tim kerja (team work) untuk melakukan suatu program bersama. Berbagai gerakan da’wah masih saja sampai saat ini dipimpin oleh segelintir orang (itu-itu saja) yang seharusnya sudah digantikan team work secara jama’i (yakni kepemimpinan kolektif atau kepemimpinan yang silih berganti). Tanpa menyadari bahwa hasil amal jama’i itu pasti lebih afdhal dari pada amal fardi (kerja individu),implikasinya ialah muncul lingkungan yang tidak kondusif atau terbelakang.
Pada akhirnya, penulis harus mengambil sebuah kesimpulan dari pembahasan diatas bahwa da’wah ini merupakan sebuah kegiatan yang sangat diwajibkankarena merupakan perintah Allah, selain daripada itu berda'wah diperlukan sebuah sistem agar kegiatan da’wah tetap berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Akhir kata penulis mengucapkan agar kita itu harus selalu siap siaga dalam segala sesuatu terutama dalam menyeru umat manusia agar kembali ke jalan yang benar.
Referensi
1.       As-siisiy, Abbas, Bagaimana Menyentuh Hati, (Solo: Era Intermedia,2002)
2.       Yahya , muhyiddin bin syaraf nawawi, hadits arba'in nawawiyah ( maktab dakwah dan bimbingan jaliyat rabwah,2007)
3.       Takariawan, cahyadi, Tegar Di jalan Dakwah Bekal Kader DaKwah Di Mihrab Daulah, ( Solo: Era Adicitra Intermedia, 2009)


[1]http://id.wikipedia.org/wiki/Da'wah
                [2]Syura adalah suatu kaedah dan  prinsip  penting  yang diajarkan oleh agama islam dalam melahirkan masyarakat islam yang, maju, stabil dan adil. Menurut kamus melayu global, Syura bermaksud   berbincang dan bermuzakarah  untuk  menyelesai kan masalah

[3]Takariawan, cahyadi, Tegar Di jalan Da'wah Bekal Kader Da'wah Di Mihrab Daulah, ( Solo: Era Adicitra Intermedia, 2009)
[4]Lihat  buku: Kiat memikat objek da'wah, Abbas As-Siisiy,  Era intermedia. Hal 147
[5]Yahya, Muhyiddin Bin Syaraf Nawawi, Hadist Arba'in Nawawiyah( Maktab Da'wah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, 2007)
[6]Team Work adalah tim kerja yang tujuan utamanya dalam da’wah adalah untuk mencapai sebauh kesuksesan da’wan.

0 Response to "Mensiasati Kelemahan Dakwah"

Post a Comment