Nikmat Sehat dan Waktu Luang

Oleh: Mochammad Agung Prabowo

Kesehatan dan kesempatan adalah dua hal yang sering membuat manusia lalai dan melupakan Allah SWT. Hal ini disinyalir oleh seorang ulama terkemuka, yaitu Ibnu Al-Jauzi, beliau mengatakan, Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”
Manusia yang cerdas akan memahami hal yang diberikan Allah SWT kepadanya itu semua, merupakan sebuah kenikmatan yang sangat besar. Berdasarkan hal itu akan mendorongnya untuk semakin taat kepada Allah.
Dikala kita diberikan sakit oleh Allah, kita baru sadar betapa mahal dan luar biasa nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita.Padahal kita sebelumnya seakan-akan lupa dan tidak mau tahu dengan nikmat yang satu ini, seolah kita hanya memburu dan memcari kenikmatan kehidupan dunia yang hanya bersifat sementara dan semu saja. Seakan kita lupa dengan  FirmanAllah Ta’ala : ” Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami ? “  Surat Al-Mukminun:115.
Bahkan kita seakan-akan hidup untuk dunia saja atau seakan-akan kita hidup selamanya ( Naudzubillah). Parahnya lagi kalau kita sepertinya belum pernah mendengar atau bahkan menbuang jauh-jauh ingatan kita tentang Firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Qiyamah ayat 36
” Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) ?“..
Yang selanjutnya adalah kesempatan atau waktu luang. Diantara kepiawaian memanfaatkan waktu adalah kepandaian dalam memanfaatkan waktu luang. Setiap kita pasti punya waktu luang.Waktu luang itu bisa jadi berupa waktu yang betul-betul luang, tidak ada agenda yang kita miliki ketika itu. Bisa jadi pula waktu luang itu adalah alokasi waktu yang terlalu banyak untuk suatu hal seperti tidur dan bersantai-santai.
Waktu ibarat kereta yang tidak lama berhenti dan kemudian jalan lagi. Ketika kita sudah tertinggal rombongan, maka selamanya akan tertinggal tidak bisa kembali. Begitu pentingnya arti waktu walaupun hanya sedetik. Oleh karena itu, Rasulullah saw. mengingatkan kita melalui sabdanya: “Jika kalian bangun di pagi hari, janganlah mengharap akan (hidup) sampai sore; dan jika berada di waktu sore jangan berharap akan (hidup) sampai besok pagi. Pergunakan masa sehatmu untuk (mempersiapkan) masa sakit, dan masa hidup untuk (menyiapkan bekal) kematian, seakan-akan kalian tidak tahu nama kalian besok pagi.”(HR Bukhari)
Sesungguhnya modal utama seorang muslim dalam hidup ini adalah waktu, karena di situlah kehidupan manusia. Dia lebih berharga dari harta bahkan lebih mahal nilainya dari harta. Hal ini dapat kita lihat bersama-sama ketika seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut, lalu dia meletakkan seluruh kekayaannya supaya dengan harta tersebut umurnya bisa bertambah satu hari, maka apakah yang dilakukannya tersebut mampu menambah umurnya ?Jawabannya tentulah tidak, karena ajal telah ditentukan.Pada saat itu harta tidak lagi berguna, sehingga barulah kita menyadari betapa pentingnya waktu tersebut ketika sakratul maut telah menjemput.
Semboyan orang-orang barat yang mengatakan waktu adalah uang merupakan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, karena waktu adalah ibadah, manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala, bukan semata-mata mencari materil.
Begitu pentingnya waktu, sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah dengan waktu
Di dalam Al-Qurân kita dapatkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala sering bersumpah dengan waktu, seperti Allah ‘Azza wa Jalla bersumpah dengan waktu malam, waktu Dhuha, waktu Ashar, bahkan di dalam Surat al-‘Ashri Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan sifat-sifat orang yang beruntung, yaitu mereka yang mampu menjaga waktunya dengan beriman dan beramal saleh sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat tersebut yang artinya:"Demi masa (waktu ‘ashar). Sesungguhnya manusia berada dalam keadaan merugi.Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dan mereka saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran." (QS. al-‘Ashri: 1-3)
Orang-orang yang sadar akan cepatnya waktu berlalu mereka adalah orang-orang yang mendapatkan taufik dari Allah sehingga waktu mereka benar-benar bermanfaat.Dari Abdullah Ibnu Mas’ud z bahwasanya dia berkata “Tidaklah aku menyesali sesuatu seperti penyesalanku atas suatu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.”
Oleh karena itu ketika kita telah mengetahui bahwa waktu itu terbatas, tidak akan bisa untuk dimajukan ataupun dimundurkan, dan menjadi berharga ketika seseorang mempergunakan waktu kepada hal yang baik dan benar, maka wajiblah bagi kita untuk menjaga waktu dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

0 Response to "Nikmat Sehat dan Waktu Luang"

Post a Comment