Semakin Sibuk, Semakin Disiplin Waktu


Suatu ketika seorang mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas kuliahnya ditanya oleh dosennya, “Kenapa kamu belum mengerjakan tugas?”, “Tugas saya banyak, Pak. Insya Allah minggu depan akan saya kerjakan, Pak” jawabnya.
Berangkat dari cerita diatas, kita tahu permasalahan sebenarnya ada pada siapa. Tentu mahasiswa tersebut. Memang itulah tugas seorang mahasiswa. Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakan tugas dari dosennya. Sibuk tidak bisa dijadikan alasan yang tepat, karena semua orang pasti punya kesibukan. Dosennya pasti lebih sibuk darinya. Konon, cerita serupa pernah dialami oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ketika itu dia masih kuliah di Birmingham University, London. Dosennya bertanya, “Kenapa kamu tidak mengerjakan tugas?”, lalu ia menjawab, “saya sibuk, Pak”. Kemudian dosennya menjawab “Who is not busy in this world?”.
Siapa sih didunia ini yang tidak memiliki kesibukan? Setiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Entah kesibukan itu bermanfaat bagi dia atau tidak.
Dulu, ketika saya masih semester 1, begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Rasanya tidak ada kerjaan kecuali makan, kuliah, tidur, main hape, dll. Tapi ketika diberi tugas oleh dosen, kenapa masih ada yang belum mengerjakan? Apakah sibuk masih bisa dijadikan alasan untuk tidak mengerjakan tugas? Tentu tidak. Saya baru menyadari bahwa sebenarnya, semakin orang disibukkan dengan sesuatu, maka ia akan semakin pandai mengatur waktu. Dan itu saya alami setelah saya semester 3. Begitu nikmat rasanya bisa menyelesaikan banyak pekerjaan. Dari mulai organisasi, tugas kuliah, tugas pribadi, dll.
Apalagi ketika saya menginjak semster akhir. Waktu terasa begitu sempit karena mengejar target yang kian menghimpit. 24 jam sehari sangat kurang bagi saya, teringat masa dimana saya telah membuang waktu dengan sia-sia. Dalam hati saya berkata “Seandainya 2 minggu kemarin saya gunakan untuk mengerjakan.....”. begitulah penyesalan yang saya rasakan dan tentunya dirasakan semua orang.
Al-waqtu kassayfi fain lam taqtha’hu qatha’aka, begitulah kiranya bunyi mahfudzat yang pernah saya pelajari. Waktu itu bagaikan pedang, jika kita tidak memotongnya maka dialah yang akan memotong kita. Jika kita tidak menggunakan waktu dengan sebaik mungkin, seakan waktu mencabik-cabik kehidupan kita.
Pandai-pandailah mengatur waktu, sibukkanlah diri kita dengan hal-hal yang positif yang membawa manfaat bagi kita. Orang besar itu selalu sibuk. Ingat kawan, masa depan kita akan ditentukan bagaimana kita menjalani hidup kita hari ini. Hari ini adalah masa depan kita. Wallahu a’lam bishshawaab.

0 Response to "Semakin Sibuk, Semakin Disiplin Waktu"

Post a Comment