Tazkiyatun Nafsi

Oleh: Ghotama Pamungkas Jati

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”
Dari ayat di atas para mufassirin menerangkan bahwa tugas Rasulullah SAW kepada umatnya antara lain adalah, Menyampaikan ayat ayat Allah SWT, membersihkan atau mensucikan jiwa mereka, mengajarkan kitab dan sunnah kepada mereka. Dosa dan maksiat diibaratkan oleh Rasulullah SAW laksana noda noda hitam yang akan memudarkan qolbu hati seorang mu’min yang jernih. Kalau tidak segera dibersihkan (ditazkiyah) dengan bertaubat kepada Allah ia akan elekat dan menutup mati mata hati itu sendiri sehingga iaakan keras bagaikan batu, bhkan bias lebih keras dari pada itu. Dan tidak menutup kemungkinan kemuliaaanya sebagai seorang muslim akam  hilang dan jatuh kepada peringkat binatang. Dari kajian singkat diatas kita dapat menyimpulkan bahwasannya:
1.     Tazkiyatun Nufus merupakan kawajiban setiap mu’min untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan jiwanya.
2.     Proses dalam tazkiyah haruslah sesuai dengan syariah agar tidak seperti orang kehausan minum.
3.     Keberhasilan dan kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat tidak akan bisa diwujudkan kecuali dengan jiwa jiwa yang telah ditazkiyah.
Ibadah yang diterima oleh Allah SWT adalah ibadah yang hanya dilakukan oleh seorang muslim yang ikhlas mutaba’ah (mengikuti) tuntunan atau ajaran rasulullah SAW. Ibadah yang dilakukan dengan tidak ikhlas tidak akan diterima oleh Allah SWT, begitu juga dengan ibadah yang dilakukan tidak dengan cara apa yang telah di ajarkan oleh Rasulullah SAW akan sia sia ibadahnya. Hal pertama membersihkan niat dari semua kotoran yang akan merusak keikhlasan dan yang kedua membersihkan ibadah dari semua bid’ah bikinan manuisa yang merusak agama.
Pembersihan diri (Tazkiyatun Nafsi) jika marhalah dalam mencapai ketakwaan dilaksanakan secara maksimal, maka akan melahirkan orang orang yang selalu mengadakan Pembersihan diri  setiap saat. Pembersihan diri sebagai konsekuensi logis tercapainya keadaan ketakwaan kepada Allah SWT yang merupakan cita cita setiap mukmin. Karena itulah Allah SWT menegaskan dalam kitab suci Al quran
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS.62:2).
Syamrah (buah) dari tazkiyatun nafs akan tampak dalam perilaku
Mensyukuri nikmat Allah SWT yang diberikan kepada seorang adalah perbuatan yang mulia, tetapi banyak diantara orang orang sulit unutk melaksanakan bahkan melupakan kenikmatan seseorang diantaranya yaitu:
1.  Selalu Bersukur
yang telah diberikan oleh Allah SWT, kecuali dengan orang orang yang selalu mengadakan tazkiyatun nafsi terhadap dirinya sendiri, sehingga menurut panndangan yang digariskan oleh Allah SWT dengan bersyukur kepadanya kenikmatan pun berlipat ganda seperti dalam firmannya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih.” (QS.14:7). Maka pengaruh dari tazkiyatun nafs akan membekas pada seseorang dengan kegiatan selalu melakukan syukur terhadap Allah SWT.
2.   Bersabar
Sikap sabar pun hanya akan abadi dalam jiwa seseorang yang selalu dihidupi oleh tazkiyatun nafs, sehingga melahirkan sikap di bawah monitor Al-Haq. Artinya sikap yang keluar ketika menghadapi ujian maupun cobaan hidup akan dihadapi penuh kesabaran serta keimanan kepadaNya. Di samping itu Allah SWT menyertai terhadap orang-orang yang mampu mempergunakan pakaian kesabaran dalam menjalani kehidupan baik pada kondisi suka maupun duka: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.2:153).
Terutama dalam menghadapi zaman yang serba materialistis disertai oleh budaya pembaratan, jika hilangnya pakaian kesabaran, maka hidup akan terasa “gerah”. Dan telah tampak bukti-bukti yang ada di hadapan mata, betapa kekerasan disertai kriminalitas salah satu penyebabnya pengaruh sosial. Maka orang di sebelah seberang membuat analisis akibat jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, sehingga menimbulkan krisis moral maupun meningkatnya kriminalitas.
3.     Pemaaf
Konsekuensi tertanammnya tazkiyatun nafsi , juga dapat melahirkan orang-orang yang mampu menahan amarah dan membentuk perilaku pemaaf. Karena dalam udara penuh emosional sulit orang mampu mewujudkan jiwa yang suka memaafkan terhadap kesalahan pihak lain. Sesungguhnya menurut pandangan Islam nilai pemaaf merupakan hasil penataan dari keimanan seseorang. Oleh karenanya Allah SWT mengabadikan dalam Al-Quran: “…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS.3:134). Begitu urgensinya  seorang mukmin harus mampu menahan amarahnya disertai sikap suka memaafkan kesalahan orang lain, sehingga Rasulullah SAW memberikan petunjuk dalam sabdanya: “Jangan engkau mudah marah.” Maka diulangi beberapa kali, sabdanya: “Janganlah engkau mudah marah.” (HR.Bukhari,Muslim). Jelas sekali Islam memandang pentingnya untuk memasyarakatkan pemaaf disertai berupaya mampu menahan amarah, bila sudah membudaya maka niscaya akan diikuti orang di sekitarnya.
4.   Arrahim (Kasih sayang)
Bentuk Ar-Rahim (kasih sayang) Allah SWT diciptakan agar dijadikan landasan hidup setiap orang, sehingga terwujudnya masyarakat yang penuh damai. Hilangnya perasaan kasih sayang yang kemudian diganti oleh pertikaian menjadikan dunia ini penuh malapetaka. Kalau dunia diisi hanya oleh perbuatan biadab dan menafikan nilai Ar-Rahim, jika yang terjadi demikian, kelak Allah SWT menurunkan peringatan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS.30:41). Sangat penting untuk menciptakan perasaan kasih sayang agar terhindar dari malapetaka yang diturunkan oleh Allah SWT hanya karena ulah segelintir manusia. Karena pandangan itulah, Allah SWT menegaskan perlu ditekankan kondisi kasih sayang seperti firmanNya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi kasih sayang mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya.” (QS.48:29)
5.   Al Amin (Jujur)
Salah satu akhlak yang menonjol dalam perilaku rasulullah adalah al amin (terpercaya) yang harus menjadi petunjuk oleh setiap umat islam. Karena faktor kepercayaan akan mampu menciptakan kondisi yang mendekatkan perilaku kebajikan dalam operasionalitas hidupnya. Dalam menumbuhkan sikap Al-Amin sedikit banyak dipengaruhi oleh diyah (lingkungan) di mana seseorang berada, karena itu perlu adanya orientasi keluar. Dalam pengertian, bergaullah dengan lingkungan yang terhindar dari hilangnya wilayah Al-Amin, seperti Allah SWT memberikan informasi : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang beriman.”
Maka peran pergaulanlah dapat mempengaruhi perilaku seseorang, untuk itulah memperhatikan lingkungan dalam dimensi hubungan sosial yang dapat menciptakan situasi aman tenteram sejauh mana adanya upaya ke arah ke sana. Demikian pula, jiwa Al-Amin pada hakikatnya fitrah yang melekat dalam jiwa seseorang, tetapi sering terabaikan untuk dimanfaatkan sesuai aturan syariah. Jalan taqwa yang menjadi pilihan seseorang merupakan kesuksesan untuk meraih kondisi tazkiyatun nafsi, kemudian terbangunnya ketenangan lahir batin.
6.     Al Jahhula
Bentuk pengobatan lain sebagai konsekuensi jalan kefasikan seseorang, adalah terkenanya al jahula(Bodoh) terhadap kebenaran, kemudian merasakan pemilikan al jahula tidak dianggap lagi sebagai penyakit yang dapat mengganggu hubungan dengan Allah SWT (hablkum minallah) maupun keterkaitannya dengan sesame manusia (hablum minannas), efek itulah yang selanjutnya dapat mngubah sikap kebaikan kepada kebatilan sebagai sarana jalan syaitan laknatullah. Sebagai diilustrasikan Allah SWT ketika menawarkan tanggung jawab untuk melaksanakan amanat yang ditolak oleh gunung, langit maupun bumi tetapi manusia menerimanya, seperti firmanNya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (QS.33:72). Al-jahuula pada dewasa ini lebih tampak tercermin melalui kebijakan yang diambil seseorang untuk memilih antara kebenaran dan kebatilan, tetapi pilihannya justru kepada kebatilan, yang sesungguhnya mereka mengetahuinya akan mendapat murka (azab) dari Allah SWT kenyataan seperti ini, bukanlah sesuatu yang mengherankan, tetapi dalam zaman yang serba materialistis ini kemungkinan bisa terjadi seketika. Bahkan kebenaran pun bisa dibeli dengan segepok uang! Itulah realita yang sungguh ironis terjadi di jaman sekarang ini. Karena hilangnya kewaspadaan pada tiap-tiap diri seseorang, kemudian hidupnya diliputi oleh ketergantungan yang bersifat materi semata.
.

0 Response to "Tazkiyatun Nafsi"

Post a Comment