Ujian Kenikmatan Dan Kesusahan

Oleh : Ach. Farouq Abdullah

Sesungguhnya, kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Tak lepas dari sebuah hitungan yang telah ditentukan. Maka Apa yg dilakukan manusia di dunia akan berdampak dalam kehidupan akhirat, enak dan tidaknya kehidupan seseorang di akhirat sangat bergantung pada bagaimana ia menjalani kehidupan di dunia ini Manakala manusia beriman dan beramal saleh dalam kehidupan di dunia ia pun akan mendapatkan keni’matan dalam kehidupan di akhirat.. Allah Ta'ala menciptakan manusia dan menguji mereka, agar nampak siapa yang paling baik
amalannya. Allah Ta'ala berfirman, yang artinya :
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Mulk: 2).
Allah yang menciptakan kita, juga telah mempersiapkan berbagai kenikmatan dan cobaan.bentuk dari kenikmatan tersebut.  Allah menciptakan bumi dan langit beserta isinya lalu menyerahkannya kepada manusia. Karena manusia adalah makhluk termulia diantara seluruh makhluk lain yang Allah ciptakan. Dan segala sesuatu, baik benda-benda mati, tumbuhan, hewan, tanah dan langit, semua diciptakan demi kepentingan manusia. Oleh karena itu di dalam firman Allah :(yang artinya) “Dia-lah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian, kemudian ia berkehendak pula menciptakan langit, maka Dia menjadikannya tujuh lapis. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Sikap Manusia Terhadap Ujian Allah
Melihat fenomena yang terjadi sekarang dimana manusia dalam Menghadapi ujian dari Allah Ta'ala tersebut, kebanyakan manusia tidak lulus. Hanya sedikit orang-orang yang lulus ujian, sedikit orang-orang yang beriman, sedikit orang-orang yang bersyukur kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yusuf  'alaihis salam, “Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).” (Qs. Yusuf: 38). Juga sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah Ta'ala kepada Rasul-Nya yang paling mulia, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam, “Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Qs. Yusuf: 103). Oleh karena itulah, jumlah yang banyak bukanlah standar kebenaran. Standar kebenaran adalah wahyu yang dibawa oleh Rasulullah dari Allah Ta'ala, yang dipahami oleh para sahabatnya.
Sikap Manusia Menghadapi Ujian Kesusahan
Banyak manusia berputus asa dengan kesusahan yang mereka alami, seolah-olah kesusahan itu tidak akan hilang dari mereka. Allah juga berfirman (yang artinya), “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika dia ditimpa malapetaka, dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Qs. Fushilat: 49).  Imam Ibnu Katsir berkata, "Manusia itu tidak bosan meminta kebaikan kepada Rabb-nya, yaitu meminta harta, kesehatan badan, dan lainnya. Namun jika keburukan menimpanya, yaitu musibah atau kemiskinan, dia menjadi putus asa lagi putus harapan, yaitu terbetik pada pikirannya, bahwa setelah itu kebaikan tidak akan pernah menghampirinya
Sikap Manusia Menghadapi Ujian Kesenangan
Namun sebaliknya, Manusia mudah sekali diracuni oleh satu kata, kenikmatan.  Contohnya jikalau manusia itu mendapatkan berbagai macam kesenangan dan kenikmatan, maka kebanyakan mereka melupakan kepada Penciptanya. Mereka menganggap bahwa mereka berhak mendapatkan kenikmatan itu, mereka menganggap itu semua karena usahanya dan kepandaiannya. Kemudian kebanyakan mereka berbuat melewati batas! Dan sesungguhnya kebanggaan dan kesombongan itu tidak menyelamatkan mereka dari siksa Allah sedikitpun. Allah berfirman dalam surat Az-Zumar: 49-50 yang artinya  “Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, 'Sesungguhnya, aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, Maka, tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan.” (Qs. az-Zumar: 49-50).
Allah juga berfirman : (yang artinya) “Dan jika Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya' Maka, Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka adzab yang keras.” (Qs. Fushilat: 50).
Siapa yang Lulus Ujian?
Walaupun demikian, namun masih ada orang-orang yang lulus menghadapi ujian tersebut sebagaimana firman-Nya (yang artinya):
Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, 'Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku', sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal shalih; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Hud: 9-11).
Firman-Nya "Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga", yaitu dia bergembira dan bersombong dengan apa yang ada di tangannya, berbangga terhadap orang lain. Firman-Nya, "Kecuali orang-orang yang sabar", yaitu menghadapi kesusahan-kesusahan dan perkara-perkara yang tidak disukai; firman-Nya "Dan mengerjakan amal-amal shalih", yaitu pada waktu longgar dan sehat; firman-Nya "Mereka itu beroleh ampunan", yaitu dengan sebab kesusahan yang mereka alami; firman-Nya, "Dan pahala yang besar", dengan sebab amalan mereka pada waktu longgar." (Tafsir Ibnu Katsir, surat Hud: 9-11).
Maka, semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur terhadap nikmat, bersabar terhadap musibah, dan beramal shalih pada setiap saat sesuai dengan kemampuan kita. Amin.


0 Response to "Ujian Kenikmatan Dan Kesusahan"

Post a Comment