Bagaimana Menyikapi Ujian?


Hari sabtu besok, di Kampusku Institut Studi Islam Darussalam Gontor (ISID) akan mengadakan UAS semester genap tahun ajaran 2011-2012. Mulai tahun ini, telah diaktifkan apa yang biasa disebut di kampus ‘minggu tenang’. Namun tetap saja, karena disini menggunakan system pesantren. Perkuliahan memang ditiadakan seminggu menjelang UAS. Akan tetapi pengabsenan tetap diadakan, yaitu pada pagi hari dan malam hari tepat pada pukul 09.00 WIB. Seluruh mahasiswa diharapkan untuk datang ke gedung perkuliahan untuk menandatangani absen sebagai tanda bahwa ia berada di kampus pada masa minggu tenang. Ini dilakukan demi terpantaunya seluruh mahasiswa santri yang berdomisili di kampus ini.

Ujian merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan di setiap lembaga pendidikan. Tujuannya tentu untuk mengetahui tolak ukur siswa/mahasiswa seberapa jauh ia memahami pelajaran yang telah ia pelajari. Seberapa banyak ilmu yang telah ia dapatkan. Sebagian besar dari siswa/mahasiswa justru salah mengartikan ujian tersebut. Ujian hanya diartikan sebatas mendapatkan nilai akademik saja. Tapi sebenarnya, ujian itu tidak hanya menguji ilmu siswa saja, akan tetapi sebagai ujian mental siswa tersebut juga. Maka tidak salah jika ada pepatah arab mengatakan “bil imtihaani yukramul mar’u aw yhaanu” yang artinya ‘dengan ujian, seseorang dapat menjadi mulia atau malah sebaliknya, menjadi terhina’. Maksud disini adalah, jika orang tersebut melaksanakan ujian dengan baik, mempersiapkannya dengan matang-matang, maka ia akan berhasil dalam ujian itu dan mendapatkan nilai yang baik. Akan tetapi sebaliknya, jika ia tidak bersungguh-sungguh dalam ujian, apalagi jika sampai ia berbuat curang/menyontek ketika ujian, sungguh ia termasuk orang-orang terhina.

Kebanyakan mahasiswa memulai belajarnya ketika sudah mendekati ujian. Ini yang salah. Sejak di pondok, aku selalu diajarkan untuk mengulangi pelajaran yang sudah dipelajari di pagi hari. Ketika ujian tiba, kita tinggal memantapkannya saja. tapi yang terjadi saat ini, justru mahasiswa belajar seharis ebelum ujian. Tentu hasilnya tidak optimal. Akhirnya, dengan sangat terpaksa ia mencari cara untuk bias menajwab ujian. Alhamdulillah, di kampusku mahasiswa tidak diijinkan untuk membawa hape kedalam ruang ujian. Jadi perbuatan curang masih bsa diminimalisasikan.
Satu lagi nasihat ustadz-ustadzku, dalam melakukan sesuatu hendaknya kita tidak lupa 3 hal, berusaha, berdo’a dan tawakkal. Begitu juga dengan ujian, kalau kita sudah berusaha dengan belajar yang rajin, kemudian berdo’a, terakhir kita hanya pasrah dengans egala keputusan-Nya. Semoga sedikit tulisan ini bias membawa manfaat bagi pembacanya.
Untuk sahabat-sahabatku yang mau ujian, good luck in your exam!

2 Responses to "Bagaimana Menyikapi Ujian?"

  1. semangat sob, belajar dengan adanya ujian esoknya atau tidak adalah suatu keharusan memang biar gak gampang lupa :)

    ReplyDelete
  2. @banyaknamaiya sob, belajar itu tuntutan masa depan, bukan karena ujian saja,,
    thanks sob udah mampir

    ReplyDelete