Kurikulum Muatan Lokal


A.    Latar belakang
Indonesia memiliki ribuan pulau yang dihuni oleh  berbagai suku bangsa yang mempunyai berbagai macam adat istiadat, bahasa, kebudayaan, agama, kepercayaan dan sebagainya. Kebudayaan  nasional  bangsa Indonesia yang didukung oleh berbagai nilai kebudayaan daerah yang luhur, merupakan nilai jati diri yang menjiwai perilaku manusia dan masyarakat dalam segenap aspek kehidupan. Ini semua sebagai landasan terbentuknya kurikulum muatan lokal.
Kurikulum mengacu  pada karakteristik peserta didik, juga mengacu pada perkembangan ilmu dan teknologi pada zamannya juga mengaju kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
Sebuah kurikulum yang di bentuk atas dasar acuan keadaan  masyarakat di sebut “Kurikulum Muatan Lokal

 B.     Pengertian Muatan Lokal
Kurikulum muatan lokal ialah program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya di kaitkan dengan lingkungan alam dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh murid di daerah tersebut. Lingkungan yang terkait terdiri atas dua macam lingkungan:
1.      Lingkungan alam phisik
a.       Lingkungan alam phisik alami, misalnya: daerah rural[1], urban[2], semi rural, dan semi urban.
b.      Lingkungan phisik buatan, misalnya: lingkungan dekat pabrik, pasar, pariwisata, jalan besar, pelabuhan dan sebagainya.
2.      Lingkungan masyarakat
Menurut Prof. A. Sigit, lingkungan masyarakat memiliki tujuh lapisan lapangan hidup
a.       Masyarakat yang berlapang hidup dalam bidang ekonomi, misalnya: pertanian, perdagangan, kerajinan, peterhakan, perikanan, perkebunan, trasportasi, jasa dll
b.      Berlapang hidup dalam bidang politik, misalnya: pimpinan partai, pimpinan lembaga pemerintah maupun swasta.
c.       Berlapang hidup dalam bidang ilmu pengetahuan, misalnya: guru, peneliti, pengarang dll
d.      Berlapang hidup dalam bidang keagamaan, misalnya: orang yang bekecimpung dalam perayaan hari besar agama, adat istiadat dan lainsebagainya.
e.       Berlapang hidup dalam bidang olah raga, kurikulum dalam muatan lokal misalnya: berbagai permainan daerah.
f.       Berlapang hidup dalam bidang kekeluargaan, kurikulum muatan local misalnya: gotong royong, silaturahmi, melayat dan lain sebagainya.
Menurut sejarah, sebelum ada sekolah formal, pendidikan yang berprogram muatan  lokal telah dilaksanakan oleh para orang tua dengan metode drill[3] dan dengan trial & error serta berdasarkan berbagai pengalaman yang mereka hayati.
Pendidikan yang diajarkan bertujuan agar anak-anak mereka dapat mandiri dalam kehidupan. Sedangkan keberhasilan metode ini ditandai oleh mereka yang dapat hidup dengan mandiri.
Kurikulum muatan lokal di bentuk dan diberikan pada anak didik dalam rangka pengenalan dan  pemahaman atas warisan karakteristik daerah masing-masing.[4]

 C.     Tujuan Kurikulum Muatan lokal
Dibentuknya sebuah kurikulum, sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, begitu juga kurikulum muatan local. Adapun tujuan-tujuan dalam kurikulum muatan lokal antara lain:
1.      Berbudi pekerti luhur                    8. Sehat jasmani
2.      Berkepribadian                              9. Cinta lingkungan
3.      Mandiri                                         10. Kesetiakawanan sosial
4.      Trampil                                          11. Kreatif-inovatif untuk hidup
5.      Beretos kerja                                 12. Produktif
6.      Professional                                   13. Cinta tanah air
7.      Mementingkan pekerjaan yang praktis
Tujuan lain dari kurikulum muatan lokal, yaitu: Tujuan langsung dan tujuan tak langsung.
a.       Tujuan langsung
(1)   Memudahkan murid dalam menyerap bahan pelajaran.
(2)   Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.
(3)   Murid lebih mengenal kondisi alam.
b.      Tujuan tak langsung
(1)   Meningkatkan pengetahuan murid mengenai daerahnya.
(2)   Menanamkan jiwa mandiri untuk menolong orang tua dan dirinya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
(3)   Menjadikan murid akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.

Kedudukan Muatan Lokal Dalam Kurikulum
Muatan lokal dalam kurikulum menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri atau menjadi kajian mata pelajaran yang sudah ada. Sebagai mata pelajara yang berdiri sendiri, biasanya kurikulum muatan lokal memiliki alokasi waktu tersendiri.

Sumber Bahan Muatan Lokal
Muatan lokal mempunyai beberapa sumber bahan ajaran, antara lain sebagai berikut:
a.      Nara Sumber
1.      Pengalaman seorang guru
2.      Ketrampilan yang dimiliki peserta didik
3.      Nara sumber yang dating dengan tiba-tiba, dari alam sekitar.

b.      Software
Sumber muatan lokal yang terdapat pada berbagai tulisan atau mungkin juga terdapat pada berbagai film dokumentasi yang sengaja dibuat sebagai sumber muatan lokal.

c.       Hardware
Suatu bahan ajaran yang sifatnya dapat di amati dan dapat diraba, misalnya berbagai alat upacara daerah, alat pertanian, alat pertukangan, alat kesenian dan sebagainya.

d.      Lingnkungan
Sumber bahan muatan lokal yang terdapat disekitar, biasanya bersifat historis, misalnya: museum, monument, adat istiadat dan lain sebagainya.

e.       Berbagai hasil diskusi oleh berbagai pakar atau nara sumber yang relevan[5]

Sistem Penyampaian
Dalam penyampaian kurikulum ini, menggunakan suatu metode mengajar. Akan tetapi metode yang dipilih tergantung pada jumlah siswa, sifat bahan yang digunakan, media yang tersedia, kesiapan guru, waktu pelaksanaan dan situasi.

Kendala atau Rintangan
Sesuai dengan flow chart pada PROSES PEMBELAJARAN maka kendala-kendalanya dapat dilihat dari berbagai sudut sebagai berikut:
1.      Peserta didik   : minat dan kebutuhan peserta didik yang sangat heterogen.
2.      Guru    : minimnya kualitas maupun kuantitas dalam hal metodologinya
3.      Administrasi    : administrasi kurikulum yang tidak jelas.
4.      Sarana/prasarana: buku, dana dan silabus yang belum jelas.
5.      Kurikulum       : perbedaan kurikulum disetiap daerah.

D.    Pengembangan Muatan Lokal
Karena bahan mauatan lokal sifatnya mandiri dan tidak terikat oleh pusat, maka peranan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dalam muatan lokal ini sangat menentukan. Untuk melaksanakan pengembangan, harus menempuh langkah-langkah sebagai berikut.
a.       Menyusun perencanaan muatan lokal.
b.      Melaksanaanpembinaan.
c.       Merencanakan pengembangan.

1.      Menyusun perencanaan muatan lokal
Dalam menyusun suatu perencanaan muatan lokal menyangkut berbagai sumber seperti pengajar, metode, media, dana dan evaluasinya.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam merencanakan bahan muatan lokal yang akan di ajarkan:
a.       Mengidentifikasi segala sesuatu yang mungkin dapat dijadikan bahan muatan lokal.
b.      Menyeleksi bahan muatan lokal.
c.       Mencari sumber bahan, tertulis maupun yang tidak tertulis.
d.      Mengusahakan sarana/prasarana yang relevan dan terjangkau.
Setelah perencanaan kurikulum muatan lokal yang serapi mungkin, akan tetapi dalam pelaksanaannya tentu akan mengalami berbagai hambatan dan rintangan. Oleh karena itu diperlukan suatu pembinaan yang dilakukan secara continue oleh tenaga-tenaga yang professional.

2.      Pengembangan Muatan Lokal
Dalam muatan lokal  ada dua arah pengembangan, yakni:
a.       Pengembangan untuk jarak jauh
b.      Pengmbangan untuk jarak pendek
Pengembangan jangka jauh dilaksanakan secara berurutan atau berkesinambungan dari berbagai muatan lokal yangn pernah ada pada sekolah-sekolah di bawahnya.
Sedangkan pengembangan dalam jangka pendek dapat dilakukan oleh sekolah setempat dengan cara: menyusun kurikulum muatan lokal kemudian menyusun GBPP-nya dan direvisi setiap saat.
Setelah pengembangan, masih ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1.      Perluasan muatan lokal
Cukup memberikan pada siswa dasar-dasar bahan muatan lokal dari berbagai muatan lokal, sedangkan pendalamannya dilaksanakan pada periode selanjutnya.
2.      Pendalaman muatan lokal
Setelah siswa mengetahui dasar dari bahan muatan lokal, maka kemudian diperdalam sampai mendalam, misalnya: siswa sudah mengetahui dasar bahan muatan lokal tentang pertanian, maka dilanjutkan mengenai bagaimana cara memupuk, memelihara, mengembangkannya, penyakitnya, pemasarannya dan sebagainya.

E.     Evaluasi Dalam Muatan Lokal

Referensi:
 Abdullah, “Pengembangan KURIKULUM Teori & Praktik”, cetakan 1,Jogjakarta :AR-RUZZ MEDIA, 2007.
Dakir, H., “PERENCANAAN dan PENGEMBANGAN KURIKULUM”, cetakan pertama, Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2004.


[1] Pedusunan, desa terpencil.
[2] Suatu kaum atau orang yang pindah ke kota.
[3] Instrument, latihan
[4] Dr.Abdullah Idi, M.Ed, PENGEMBANGAN KURIKULUM, 2007 AR-RUZZZ MEDIA, Jogjakarta. Hal 261.
[5] Bersangkut paut, selaras

0 Response to "Kurikulum Muatan Lokal"

Post a Comment