Penyusunan Tes Dalam Evaluasi Pendidikan


Pendahuluan
Setiap kegiatan belajar harus diketahui sejauh mana proses belajar tersebut telah memberikan nilai tambah bagi kemampuan siswa. Salah satu cara untuk melihat peningkatan kemampuan tersebut adalah dengan melakukan tes. Secara singkat, makna tes sendiri telah di bahas panjang lebar pada pertemuan terdahulu. Sekarang tiba saatnya bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara menyusun tes yang baik, atau apa saja langkah-langkah yang yang ditempuh untuk mencapai tes yang benar-benar berfungsi dalam mengevaluasi siswa. Karena yang perlu kita ketahui, dalam penyusunan tes tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada langkah tersendiri dalam menyusun tes yang baik.

Pembahasan
Sebelum kita masuk lebih dalam pada pembahasan ini, alangkah baiknya kita mengetahui dahulu ciri-ciri tes hasil belajar yang baik. Setidaknya ada empat ciri atau karakteristik yang harus dimiliki oleh tes hasil belajar, sehingga tes tersebut dapat dinyatakan sebagai tes yang baik, yaitu[1] :
  1. Valid ( shahih). Tes belajar tersebut bersifat valid atau memiliki validitas atau kebenaran.
  2. Tes hasil belajar tersebut bersifat reliabel (tsabit).
  3. Tes hasil belajar bersifat obyektif (maudu'iy).
  4. Tes hasil belajar bersifat praktis ('amaliy).

Dengan demikian, kita akan lebih terarah pada pokok pembahasan. Dengan mengetahui ciri atau karakteristik tes hasil belajar, kita bisa lebih berhati-hati dalam menyusun tes. Di bawah ini ada beberapa saran atau langkah-langkah penyusunan tes dari berbagai pendapat yang intinya sama, yaitu agar tes hasil belajar itu dapat bermanfaat bagi semua khususnya siswa dan mengena pada sasaran.

Menurut Linn & Gronlund (1990: 5) tes adalah “an Instrument or systematic procedure for measuring a sample behaviour”. Disatu sisi Djemari Mardapi (2004: 71) menambahkan bahwa tes merupakan sejumlah pertanyaan yang memiliki jawaban benar atau salah. Secara lebih lengkap, Lee J. Cronbach (1970) menambahkan bahwa tes adalah “a systematic procedure for observing a person's behaviour and describing it with the aid of a numerical scale or a category system”[2].
Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa :
  1. Prosedur yang digunakan dalam penyusunan tes adalah sistematis. Prosedur yang sistematis itu sendiri bermakna ada aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi dalam penyusunan tes mencakup pengertian obyektif, standar dan syarat-syarat kualitas lainnya.
  2. Isi tes merupakan sample dari hal yang hendak diukur. Hal ini bermakna, tidak semua yang ingin diukur dapat tercakup dalam tes. Karenanya kelayakan sebuah tes ditentukan oleh sejauh mana butir-butir soal yang terdapat dalam tes tersebut mewakili kawasan (domain) yang hendak diukur.
  3. Hal yang ingin diukur oleh tes adalah prilaku. Hal ini bermakna bahwa butir-butir yang terdapat dalam tes bermaksud menunjukkan apa yang diketahui peserta tes. Jawaban peserta tes merupakan sumber utama untuk menemukan apa yang sebenarnya diinginkan oleh tes.

Sebagai salah satu alat ukur dalam bidang ilmu sosial khususnya pendidikan, tes merupakan alat untuk menaksir tingkat kemampuan seseorang secara tidak langsung melalui respon yang diberikannya atas soal-soal yang terdapat dalam tes. Hasil tes kemudian biasa digunakan untuk memantau perkembangan mutu pendidikan.

Dalam melaksanakan tes hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi/tes pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input, proses dan out put. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil tes tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan tes secara umum adalah sebagai berikut [3]:
  • Perencanaan (mengapa perlu tes, apa saja yang hendak tes, tujuan evaluasi, teknik apa yang hendak dipakai, siapa yang hendak tes, kapan, dimana, penyusunan instrument, data apa saja yang hendak digali, dsb).
  • Pengumpulan data ( tes, observasi, kuesioner, dan sebagainya sesuai dengan tujuan)
  • Verifikasi data (uji instrument, uji validitas, uji reliabilitas, dsb).
  • Pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul, kualitatif atau kuantitatif, apakah hendak di olah dengan statistik atau non statistik, apakah dengan parametrik atau non parametrik, apakah dengan manual atau dengan software.
  • Penafsiran data, ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji, diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima, jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu.

Penilain terhadap kemajuan murid merupakan salah satu masalah yang sulit. Kebanyakan guru belum mampunyai pengertian yang jelas tentang fungsi penilaian, tentang apa makna penilain itu, apakah pengaruh penilaian terhadap sikap anak, bagaimana cara menyusun pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan penilaian dan bagaimaana menafsirkan hasil-hasil penilaian.

Apakah fungsi penilaian terhadap kemajuan murid?
  1. Untuk memperlengkapi informasi mengenai kemajuan dan kemunduran murid, dapat pula berfungsi sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan kenaikan tingkat murid.
  2. Untuk memberi motifasi terhadap hal belajar murid-murid.
  3. Untuk menempatkan murid dalam suatu tingkat kemajuan tertentu.
  4. Untuk memperoleh data bagi pekerjaan guidance dan counseling.
  5. Untuk member informasi kepada guru, murid dan orang tua tentang apa dan sampai dimana hasil dan kemajuan yang dicapai murid-murid di sekolah.

Susunlah test-test itu sedemikian rupa, sehingga apabila anak (orang yang diuji) membuat kesalahan, kesalahan itu dibuatnya karena ia tidak mempunyai sesuatu yang diujikan itu. Janganlah kesalahan itu diperbuat oleh karena ia keliru menginterpretasi maksud si penguji atau sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh test itu.
            Sebaliknya apabila ia dapat mengerjakan sesuatu test dengan benar, hendaknya hal itu disebabkan ia memang benar-benar mengetahui bahan yang diujikan. Janganlah kesanggupan menjawab dengan tepat itu, hanya karena ia” menemukan sesuatu” dari test itu sendiriyang menjadi petunjuk baginya kepada jawaban yang tepat itu. Apabila sampai terjadi pada hal-hal yang demikian ini, sesungguhnya guru telah gagal untuk mendapatkan gambaran yang sebenarnya dari orang yang diujikan.

Kesimpulan
Dari saran dan teknik yang dipaparkan diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa dalam penyusunan tes, yang sangat perlu kita perhatikan adalah prosedur yang digunakan dalam penyusunan tes adalah sistematis. Dengan kata lain, dalam menyusun tes kita harus benar-benar mengatur dari berbagai segi, baik dari segi subyek atau obyeknya. Kemudian isi tes harus mempunyai landasan yang kuat, artinya sebuah tes harus disesuaikan dengan kemampuan siswa atau sampai batas yang telah ditentukan. Dan masih banyak lagi hal-hal yang dapat kita simpulkan dari makalah ini.

Referensi 
Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan, cetakan ketiga agustus 2001, PT RajaGrafindo





[1] Prof. Drs. Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, cetakan ketiga agustus 2001, PT RajaGrafindo, hlm. 93

0 Response to "Penyusunan Tes Dalam Evaluasi Pendidikan"

Post a Comment