Mengenang Tragedi Persemar Gontor

Hari ini, 47 tahun yang lalu. Gontor pernah diamuk para santri keblinger yang mengancam hendak mengganti Pak Kyai. Para santri itu berdemo, menuntut perbaikan lauk pauk. Kasur-kasur dibakar, lonceng dibunyikan, mereka menolak masuk kelas, menolak diajar, mereka bernyanyi-nyanyi seperti orang gila. Sebagian Guru ada yang memang jadi provokator bersama dengan anak-anak yang dari kelas experiment (intensif) yang duduk di kelas lima. Tuntutan yang mereka kaburkan, padahal tujuannya satu : Ingin menarik Gontor menjadi salah satu Pesantren yang berfiliasi dengan Partai yang mereka usung. Jargon Gontor yang berdiri diatas dan untuk semua golongan henadk mereka ganti menjadi satu golongan saja, dan satu-satunya yang bisa menjamin ini berjalan adalah dengan mengganti Kyai-nya. Pada masa-masa itu, pergolakan politik di Indonesia memang sudah menggila, sehingga dunia pendidikan juga hendak dimasukinya.
Rumah Pak Lurah (KH Rahmat Soekarto) mereka obrak-abrik, kambing beliau mereka ambil. Teriakan pak Zarkasyi dan Pak Sahal tidak mereka hiraukan. Mereka berteriak-teriak “Kyai Bohong…Kyai ngapusi…Kyai dusta…”, berhari-hari lamanya Gontor di cekam kondisi tidak menentu. Sehingga akhirnya Para Kyai memutuskan bahwa Gontor akan Libur Panjang dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Para santri dipersilahkan pulang, dan bagi yang tidak terlibat akan dipanggil kembali. Gontor lengang. Sepi tak berpenghuni. Para santri yang ikut-ikutan sekearang sadar, bahwa mereka itu tamu. Pak Kyai-lah yang punya pondok, Pak Kyai-lah yang memimpin Pondok, pak Kyai-lah yang punya ilmu. Mereka disini Cuma menumpang sementara, mohon untuk dididik dan dibina, diberikan ilmu yang bermanfaat. Tapi kenapa mereka sekarang justru ingin mengganti pemilik pondok ini. Siapa mereka? Siapa mereka?? Mereka kini sadar setelah Pondok memulangkan mereka. Fikrian Gila dari sebagian Bapak Guru dan kelas lima yang mempengaruhi mereka perlahan-lahan mulai luntur.
Itulah kenapa Khutbatul Arsy itu diadakan setiap tahun dengan tema yang sama. Bertahun-tahun ada pidato Pak Kyai dengan materi dan tema yang sama. Karena betul kata pak Kyai, menerangkan tentang Gontor itu harus seribu kali. Itu juga ada yang fahamnya 50%, 25%, atau bahkan ada yang Cuma 5%. Peristiwa itu pula yang mendasari keputusan bahwa OPPM itu pada awal pergantian pengurusnya haruslah diambil dari anak-anak santri yang minimum 3 tahun tinggal di Gontor. Santri Intensif belu, boleh masuk pada awal pergantian ini. Karena itulah sunnah, itulah aturan, itulah ketaatan. Saat itulah keluar kata-kata Pak Sahal yang terkenal sekali :
“Kalau Rumah saya atau lauk pauk dirumah saya lebih baik dan lebih enak dari Asrama dan Lauk pauk santri-santriku, maka kalian boleh memberontak kepada saya….”
Gontor, 19 Maret 1967

0 Response to "Mengenang Tragedi Persemar Gontor"

Post a Comment