Dekonstruksi Syari’ah ala Muhammad Syahrur

Isu tentang dekonstruksi syari’ah selalu menarik banyak kalangan, sehingga menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Yang membuat miris adalah, kaum yang pro terhadap dekonstruksi syari’ah bukan hanya berasal dari kalangan bawah tetapi juga para cendekiawan dan ulama yang sudah meraih seabrek gelar doctoral di berbagai universitas terkemuka di dunia, salah satunya adalah tikoh dan pemikir liberal asal Syiria Dr. Ir. Muhammad Syahrur yang terkenal dengan karyanya “Al-Kitaab wa Al-Qur’an” telah menghentakkan seluruh muslim di dunia dengan gagasan-gagasannya soal penafsiran al-Qur’an.
Sebelum kita melangkah lebih jauh lagi dalam pembicaraan dekonstruksi syari’ah ala Muhammad Syahrur, kiranya penting untuk dipahami lebih dahulu adalah makna dari dekonstruksi dan syari’ah itu sendiri. Secara etimologi, dekonstruksi (deconstruction) berarti pembongkaran atau pembubaran dan secara terminologi berarti –merunut pencetusnya- adalah melucuti suatu objek oleh subyek dengan tidak keseluruhan. Dan jika digabungkan arti dari dekonstruksi syari’ah berarti melucuti beberapa hal yang sudah disepakati para ulama terdahulu mengenai hal-hal yang terkait dengan syariat islam yang sudah mutlak.
Selanjutnya, sebelum kita membahas syariat apa saja yang sudah didekonstruksi oleh Muhammad Syahrur, alangkah lebih baiknya kita mengenal terlebih dahulu sosok fenomenal ini. Ia adalah seorang tokoh liberal asal Syiria. Ia menempuh studinya di Sekolah Dasar dan Mengenah di al-Midan di pinggiran Kota BG sebelah selatan Damaskus. Kemudian Ia dikirim ke Saratow, dekat Moskow, untuk belajar Teknik Sipil dan sepuluh tahun kemudian, di tahun 1968 dia dikirim kembali untuk belajar ke luar negeri, di University College di Dublin untuk memperoleh gelar M.A dan Ph.D di bidang Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi. Dia juga telah mengeluarkan karya-karyanya terkait Teknik Bangunan. Namun disamping itu, ia juga menulis buku-buku tentang Islam diantaranya: al-Kitaab wa al-Qur’an; Qira’ah Mu’asirah (1992); Dirasat Islamiyyah Mu’asirah fi ad-Dawlah wa al-Mujtama’ (Studi Islam Kontemporer tentang Negara dan Masyarakat); al-Islam wa al-Iman; Manzumat al-Qiyam (Islam dan Iman; Pilar-Pilar Utama); Nahwa Usul Jadidah fi al-Fiqh al-Islami pada tahun 2000.
Salah satu ideologi yang sering Muhammad Syahrur utarakan adalah mengenai konsep Hudud-nya yang banyak bertentangan dengan kesepakatan para ulama muslim. Ia berpendapat bahwa segala sesuatu hukum itu ada batas maksimal dan minimalnya. Sebagai contoh dalam masalah aurat wanita, sebenarnya pakaian yang dikenakan sebagian besar muslimah saat ini (hijab) adalah batas maksimal. Jika ada batas maksimal, tentu ada batas minimalnya. Menurutnya lagi, aurat wanita itu sebatas sebatas lubang yang ada di tubuh wanita, dan itulah batas minimal menutup aurat. Jadi, jika ada wanita hanya memakai pakaian pendek saja itulah batas minimal menutup aurat bagi mereka dan itu dibolehkan dalam Islam.

Karena ia lulusan teknik, maka tidak heran jika gagasan-gagasan gilanya dan metode penafsirannya dibumbui dengan alogaritma dan semacamnya yang berkaitan dengan teknik. Bagi orang yang berilmu dan beriman, tentu pemikiran liberalnya untuk mendekonstruksi syari’ah tidak akan dihiraukan karena merasa tidak ada gunanya. Dan hingga kini mulai bermunculan para ulama untuk membantah pemikiran Muhammad Syahrur yang sesat dan menyesatkan. Wallahua’lam.

0 Response to "Dekonstruksi Syari’ah ala Muhammad Syahrur"

Post a Comment