Pluralisme Keagamaan dalam Perdebatan

Penulis             : Dr. Biyanto, M.Ag.
Penerbit           : UMM Press
Cetakan           : Cetakan I, Maret 2009
Halaman          : 292 halaman
Buku ini merupakan hasil dari penelitian penulis terhadap fenomena keragaman pandangan kaum muda Muhammadiyah dalam merespon wacana pluralism keagamaan. Dikatakan pandangan karena memang di kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang setuju dan ada yang menolak wacana pluralisme agama tersebut. Dan tentunya perbedaan pandangan ini tidak datang sendirinya, tapi ada faktor-faktor yang menggiring mereka.
Sejak dulu, pemikiran kaum muda Muhammadiyah memang sudah sangat menonjol. Hal itu terlihat dari munculnya berbagai buku dan opini di media massa yang mereka tulis. Pada waktu yang bersamaa, kaum muda Muhammadiyah tersebut mulai mengenal nama Ma’arif Institute for Culture and Humanity dan Jaringan Intelektual Muda Muhammdiyah (JIMM). Warga Muhammadiyah juga mengenal Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), al-Ma’un Foundation, dan Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC). Oleh beberapa kalangan, aktivis di beberapa LSM berbasis kaum Muda Muhammadiyah ini dinamakan kelompok progresif-liberal. Selain mereka, ada juga kelompok lain yang dinamakan konservatif-literal. Kelompok yang kedua ini adalah kaum muda yang menunjukkan sikap menolak beberapa gagasan yang diusung oleh kelompok progresif-liberal. Kelompok ini adalah umumnya aktivis lembaga-lembaga dakwah, seperti Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) dan Korp Mubaligh Muhammadiyah. Mereka menunjukkan perlawanan untuk menjaga agar umat Islam pada umumnya dan warga Muhammadiyah khususnya tidak terpengaruh dengan kampanye sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Di kalangan mereka, tiga paham ini dinamakan “Sipilis”.
Salah satu tema yang diperdebatkan dua kelompok kaum muda Muhammadiyah tersebut adalah pluralism keagamaan. Bagi mereka yang setuju, pluralism merupakan keniscayaan dan sudah menjadi ketentuan Allah. Maka mereka berpendapat bahwa pluralism adalah sunnatullah. Mereka memahami paham ini dengan sikap positif, optimis dan terbuka. Dengan merujuk pada konsep Diana L. Eck, mereka memahami pluralism tidak terbatas pada pengertian pluralitas atau diversitas, toleransi dan relativisme. lebih dari itu, pluralism bagi mereka adalah paham yang mengajarkan agar setiap pemeluk agama mengakui kebenaran agama lain, dan kemudian mereka terlibat dalam banyak forum ilmiah, dialog untuk kegiatan sosial, sharing pengalaman keagamaan dan doa bersama.Sementara kelompok satunya lagi, yang menolak pluralism agama, mereka memahaminya sebagai paham yang sesat karena mengajarkan semua agama sama dan benar. Dan memahami paham ini dalam pengertian yang negative, pesimis dan terbatas pada pemahaman yang ebrsifat filosofis dan teologis. Mereka juga menolak pluralism berdasarkan pemahamannya terhadap pandangan yang dikemukakan oleh beberapa teolog Kristen, seperti John Hick, Wilfred Cantwell Smith, Huston Smith, dan Harvey Cox.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih dalam tentang wacana pluralism agama khususnya di Indonesia. Meski tidak menyeluruh, tapi fenomena yang terjadi pada kaum Muda Muhammadiyah di atas bisa menjadi contoh bagi kita untuk lebih berhati-hati dalam bergaul dan bertindak. Lebih dari itu, kita dapat mengetahui factor-faktor munculnya pemikiran-pemikiran pluralism agama yang saat ini semakin berkembang. Allahu musta’an

0 Response to "Pluralisme Keagamaan dalam Perdebatan"

Post a Comment