Agama Masa Depan

Judul Buku : Agama Masa Depan
Penulis : Komarudin Hidayat dan Muhamad Wahyu Nafis
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama Jakarta
Cetakan         : Cetakan I, Maret 2003
Halaman         : 248 halaman

Wacana pluralisme yang merupakan bagian dari filsafat perennial, merupakan wacana yang lagi hangat-hangatnya, mengingat banyak kekerasan yang mengatasnamakan agama, bahkan walaupun bukan atas nama agama. agama tetap menjadi korban atas kekerasan yang terjadi saat ini.Buku ini memaparkan apa yang digagas oleh penulisnya sebagai “agama masa depan”. Penulis dalam buku ini menggunakan perspektif pendekatan filsafat perenial dalam memahami agama-agama, sehingga buku ini jelas mengusung ide pluralisme agama, yang menyamakan agama-agama.

Pada awal buku penulis menyampaikan sekilas mengenai apa itu filsafat perennial dan mengapa bidang ilmu ini tepat digunakan untuk memahami agama. penulis buku juga mengutarakan bahwa sebenarnya Tuhan yang terdapat pada agama-agama yang ada, sejatinya adalah sama, hanya namanya saja yang berbeda. Menurut penulis, perbedaan nama yang ada, disebabkan oleh kenyataan bahwa bahasa manusia tidak akan mampu mengekspresikan wahyu tuhan secara sempurna, sehingga akan tetap ada jarak antara proposisi kognitif yang dibangun oleh nalar manusia, dan hakikat tuhan pun tak mungkin dijangkau.

Penulis buku pun menjelaskan setidaknya ada empat paham yang muncul dan menarik disimak, deisme atau biasa disebut faith without religion, gerakan falsafah kalam atau theo-philosopical movement, skriptualis-ideologis dan kebangkitan etno-religius. munculnya paham-paham ini menurut penulis, menandakan adanya perkembangan pemahaman manusia mengenai agama yang kemudian karena sifatnya yang berkembang secara statis maka agama disebut sebagai produk sejarah. akhirnya, penulis berkesimpulan bahwa agama masa depan memiliki banyak jalan untuk menuju kasih sayang dan kecintaan tuhan, dan tidak ada yang mampu mengklain agamanya adalah yang paling benar.

Berangkat dari penjelasan poin-poin di atas, terlihat jelas bahwa penulis tidak mempercayai adanya kebenaran satu agama mutlak, sehingga semua agama dapat mencapai kebenaran mutlak. Penulis pun terpengaruh dengan pola pikir Frithjof Schuon, maka tida heran bila landasan wacananya menjadi rancu dan meragukan abolutisme tuhan agama-agama, semua mnjadi relatif.

kesimpulannya, buku ini merupakan buku berbahaya untuk dibaca, terlebih bagi pembaca yang memiliki pengetahuan keagamaan yang sedikit. Hal ini desebabkan tidak lebih karena buku ini dapat menyesatkan pembacanya dengan pemahaman yang salah. Wallahu A’lam bissawab

0 Response to "Agama Masa Depan"

Post a Comment