Paham Materialisme

Oleh: Syamsi Wal Qomar

Pendahuluan
Akal merupakan kelebihan yang dimiliki manusia dibanding dengan makhluk yang lain. Dari akal pula muncul berbagai ilmu pengetahuan meskipun pemikiran yang dilakukan akal bersumber pula dari ilmu-ilmu yang telah ada. Dengan kemampuan rasio manusia dapat menjangkau jauh sesuatu dan menemukan  sebuah kebenaran filsafat. Dengan tingkat pemahaman manusia yang beragam menyebabkan perbedaan pendapat tentang kebenaran yang dianut. Hal ini menimbulkan berbagai aliran dalam dunia fisafat yang salah satunya adalah filsafat materialisme.
Pada sekitar abad 18 paham materialism ini tumbuh subur di Barat karena sudah banyak para filosof yang menganut paham tersebut. Meskipun demikian teori ini banyak ditentang oleh para tokoh agama karena paham ini dianggap tidak mengakui adanya Tuhan dan dianggap tidak dapat menggambarkan kenyataan.

Pengertian dan Sejarah Munculnya Materialisme
Kata materialisme terdiri dari kata materi dan isme. Materi dapat dipahami sebagai bahan, benda atau segala sesuatu yang tampak , sedangkan isme adalah kepercayaan berdasarkan politik, sosial atau ekonomi . Jadi materialisme dapat dipahami sebagai sebuah paham yang menyataka  segala sesuatu yang terjadi didunia disebabkan oleh (atau bersumber dari) benda atau pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra . Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialis . 

Hal senada juga dinyatakan oleh beberapa tokoh tentang makna materialisme. Seperti Keith Campbell yang menulis dalam bukunya , “Materialisme, in tis philosophical sense, is the view that all that exist is matter pr is wholly dependent upon matter for its existence” . Dalam pernyataan Campbell tersebut dijelaskan bahwa materialisme menyatakan bahwa dunia ini tiada lain terdiri dan tergantung kepada benda materi. Atau seperti Dagobert D. Runes juga menulis, “... that everything is strictly caused by material”,  caused by material” , yang mana dimaksudkan bahwa bagi materialisme seluruh kejadian dapat dijabarkan kepada materi dan proses material.

Kesimpulannya bahwa materialisme yang juga lazim disebut aliran serba zat yang merupakan bagian dari filsafat metafisika dan terutama ontologi. Materialisme mengarah kepada anggapan bahwa kenyataan yang sesungguhnya adalah benda atau materi, dan kenyataan ini diacukan untuk menjawab sejumlah soal yang berhubungan denga sifat dan wujud dari keberadaan. Karena persoalan roh dan jiwa dalam aliran ini dianggap bukan sebagai subtansi yang berdiri sendiri, tetapi dirumuskan sebagai akibat dari proses materi. Aspek rohani manusia dioandang sebagai produk sampingan dari jasmani. 

Sejarah munculnya paham materialisme terjadi pada abad ke-17 dan ke-18, tapi sebenarnya berakar dari zaman pertengahan yaitu ketika penemuan-penemuan baru dalam ilmu alam khususnya fisika dan astronomi. Namun pada zaman itu dominasi gereja sangat kuat sehingga selama kurun waktu yang panjang pemikiran mengenai materialisme  ditolak dan dikubur. Terbukti dengan adanya tindakan Gereja menutup sekolah-sekolah filsafat, seperti di Athena zaman Kaisar Flavius Anicius Justianus (483-565). Di samping itu memang dari kalangan Gereja muncul tokoh-tokoh kuat pambela filsafat Kristen (Patriarki), seperti Tertualianus (160-222) dan Agustinus (354-430). Baru pada abad ke-17 dan terutama pada abad ke-18 sesudah zaman Renaisance,yakni ketika pengaruh ilmu alam berkembang pesat, tendensi materialisme muncul kembali. 

Berikut adalah beberapa tokoh-tokoh penganut paham materialisme beserta pendapat mereka dalam mengusung paham materialisme, adalah sebagai berikut : 
  1. Anaximenes ( 585 -528), berpendapat bahwa unsur asal adalah udara
  2. Heraklitos (540-475 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah api
  3. Anaximandros ( 610 -545 SM), berpendapat bahwa unsur asal adalah apeiron, yaitu unsur yang tak terbatas
  4. Thales ( 625 -545 SM), berpendapat bahwa unsur asal adalah air
  5. Demokritos (kl.460 -545 SM), berpendapat bahwa hakikat alam adalah atom-atom yang amat banyak dan halus. Atom-atom itulah yang menjadi asal kejadian alam semesta
  6. Thomas Hobbes ( 1588 -1679), berpendapat bahwa manusia adalah sumber segalanya
  7. Lamettrie (1709 -1715), berpendapat bahwa jiwa tidak dapat dilepaskan dari ikatan-ikatan materi dan manusia sebagai mesin dapat diteliti seluk-beluknya seperti benda fisik lain dalam ilmu alam.
  8. Feuerbach (1804 -1877), berpendapat bahwa gejolak pokok realitas adalah alam atau materi dan di tempat ini ajarannya dipusatkan pada manusia karena manusia adalah makhluk alam
  9. Karl Marx (1818 -1883), berpendapat bahwa manusia dan alam adalah sumber dari segala materi. 
Aliran-Aliran dan Dasar-Dasar Paham Materialisme
Dalam sejarahnya paham materialisme terbagi dalam beberapa aliran pemahaman. Aliran-aliran dalam materialisme ini maksudnya adalah bahwa kaum materialisme tidak seluruhnya dari dulu sampai sekarang dalam satu konsep pendapat yang tetap. Adapun aliran-aliran dalam materialisme adalah  : 

1. Materialisme Mekanik
Materialisme mekanik adalah aliran filsafat yang pandangannya materialis sedangkan metodenya mekanis.Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak dan berubah, geraknya itu adalah gerakan yang mekanis artinya, gerak yang tetap selamanya atau gerak yang berulang-ulang (endless loop) seperti mesin yang tanpa perkembangan atau peningkatan secara kualitatif.

Materialisme mekanik tersistematis ketika ilmu tentang meknika mulai berkembang dengan pesat, tokoh-tokoh yang terkenal sebagai pengusung materialisme pada waktu itu ialah Demokritus (± 460-370 SM), Heraklitus (± 500 SM) kedua pemikir Yunanai ini berpendapat bahwa aktivitas psikik hanya merupakan gerakan atom-atom yang sangat lembut dan mudah bergerak. Mulai abad ke-4 sebelum masehi pandangan materialisme primitif ini mulai menurun pengaruhnya digantikan dengan pandangan idealisme yang diusung oleh Plato dan Aristoteles.

Sejak itu, ± 1700 tahun lamanya dunia filsafat dikuasai oleh filsafat idealisme. Baru pada akhir jaman feodal, sekitar abad ke-17 ketika kaum borjuis sebagai klas baru dengan cara produksinya yang baru, materialisme mekanik muncul dalam bentuk yang lebih modern karena ilmu pengetahuan telah maju sedemikian pesatnya. Pada waktu itu ilmu materialisme ini menjadi senjata moril/idiologis bagi perjuangan klas borjuis melawan klas feodal yang masih berkuasa ketika itu.Perkembangan materialisme ini meluas dengan adanya revolusi industri, di negeri-negeri Eropa.Wakil-wakil dari filsafat materialis pada abad ke-17 adalah Thomas Hobbes(1588-1679 M), Benedictus Spinoza (1632-1677 M) dan sebagainya.Aliran filsafat materialisme mekanik mencapai titik puncaknya ketika terjadi Revolusi Perancis pada abad ke-18 yang diwakili oleh Paul de Holbach (1723-1789 M), Lamettrie (1709-1751 M) yang disebut juga materialisme Perancis.

2. Materialisme metafisik
Materialisme metafisik mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap atau statis selamanya seandainya materi itu berubah maka perubahan tersebut terjadi karena faktor luar atau kekuatan dari luar.Gerak materi itu disebut gerak ekstern atau gerak luar.selanjutnya materi itu dalam keadaan terpisah-pisah atau tidak mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya.

Materialisme metafisik diwakili oleh Ludwig Feurbach, pandangan materialisme ini mengakui bahwa adanya “ide absolut” pra-dunia dari Hegel , adanya terlebih dahulu “kategori-kategori logis” sebelum dunia ada, adalah tidak lain sisa-sisa khayalan dari kepercayaan tentang adanya pencipta diluar dunia; bahwa dunia materiil yang dapat dirasakan oleh panca indera kita adalah satu-satunya realitet.

3. Materialisme dialektis
Materialisme dialektis adalah aliran filsafat yang bersandar pada matter (benda) dan metodenya dialektis.Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu mempunyai keterhubungan satu dengan lainnya, saling mempengaruhi dan saling bergantung satu dengan lainnya.Gerak materi itu adalah gerakan yang dialektis yaitu pergerakan atau perubahan menuju bentuk yang lebih tinggi atau lebih maju seperti spiral.Tokoh-tokoh pencetus filsafat ini adalah Karl Marx (1818-1883 M), Friedrich Engels (1820-1895 M).

4. Materialisme historis
Materialisme histori adalah penerapan pandangan materalis dan metode dialektis dari filsafat materialisme dialektik pada gejala sosial atau didalam masyarakat.Materialisme histori adalah materialisme dialektiknya sejarah, atau materialisme dialektik yang berlaku didalam keadaan sosial atau didalam masyarakat.Dalam materialisme historis manusia hanya dapat dipahami jika dia ditempatkan dalam konteks sejarah.Manusia pada hakekatnya adalah insan yang bersejarah.Setiap peristiwa – peristiwa bersejarah selalu berkaitan dengan manusia. Jadi manusia sebagai pemangku sejarah tidaklain adalah keseluruhan relasi–relasi masyarakat.

Salah satu tokoh yang mendukung aliran ini adalah Karl Marx.Dimana pandangan Karl Marx terhadap materialism historis yang merupakan dasar klaim Karl Marx bahwa sosialismenya adalah ilmiah. Marx merasa telah menghilangkan kebebasan kehendak manusia sebagai faktor-faktor penentu sejarah, karena ia menghilangkan kebebasan kehendak manusia sebagai factor perubahan masyarakat yang relevan.

Materialisme Historis Marx mengajarkan tentang: keadaan sosial menentukan kesadaran sosial, hukum umum perkembangan masyarakat, basis dan bangunan atas.Di sekitar abad ke delapan belas dan awal abad ke Sembilan belas, Marx menempatkan dirinya dalam romantisme di Eropa.Romantisme adalah gerakan yang mencitakan penolakan terhadap liberalism yang berlangsung di Eropa. Teori-teori ini dipopulerkan oleh tokoh semacam Jan Jaques Rosseau.

Adapun yang menjadi dasar-dasar dalam pemikiran paham ini adalah sebagai berikut :
  1. Bersifat empiris, yakni memahami sesuatu atas dasar akal dan indera saja
  2. Bersifat naturalisme, yakni semua adalah alamiah
  3. Alam merupakan semesta yang bersifat abadi dan sebagai keseluruhan tidak terarah secara lurus kepada satu tujuan tertentu
  4. Jiwa merupakan gejala dari materi
  5. Semua peruahan yang terjadi bersifat kepastian semata
  6. Subtansi-subtansi materi merupakan penyusun utama sebuah materi, dalam hal ini adalah atom. 
Kritik Terhadap Paham Materialisme
Pada abad pertama masehi faham Materialisme tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap faham Materialisme ini. Baru pada jaman Aufklarung (pencerahan), Materialisme mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropah Barat.
Pada abad ke-19 pertengahan, aliran Materialisme tumbuh subur di Barat. Faktir yang menyebabkannya adalah bahwa orang merasa dengan faham Materialisme mempunyai harapan-harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam. Selain itu, faham Materialisme ini praktis tidak memerlukan dalildalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang keras dan hebat dari kaum agama dimana-mana. Hal ini disebabkan bahwa faham Materialisme ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya Tuhan (atheis) yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat. Pada masa ini, kritikpun muncul di kalangan ulama-ulama barat yang menentang Materialisme. Adapun kritik yang dilontarkan adalah sebagai berikut :
  1. Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari khaos (kacau balau). Padahal kata Hegel. kacau balau yang mengatur bukan lagi kacau balau namanya
  2. Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam. padahal pada hakekatnya hukum alam ini adalah perbuatan rohani juga.
  3. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri. padahal dalil itu menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu Tuhan
  4. Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun.
Penutup
Untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, tentu kita membutuhkan berbagai bentuk materi, seperti uang. Maka tidak ada salahnya kita mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Hanya saja kita tidak boleh menomor-satukan materi dalam hidup kita, sehingga kita melupakan/mengabaikan Tuhan, agama maupun hati nurani kita sendiri. Karena semakin banyaknya materi yang kita miliki tidak bisa menjamin semakin bahagianya kita dalam hidup. Akan lebih baik materi yang kita dapatkan, dikelola dengan bijaksana dengan memberikan kelebihan harta yang kita miliki untuk menolong orang lain yang masih kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

REFERENSI
Heppy El Rais, Kamus Ilmiah Populer, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2012), Cet. 1
Keith Campbell, “Materiliasme : The Encyclopedia Philosphy” (New York : Macmillah Publishing, 1976)
Dagobert D. Runes, Dictionary of Philosophy, (New Jersey : A Littlefield, Adams, 1971)
Andi Muawiyah Ramly, Peta Pemikiran Karl Marx :Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis”, (Yogyakarta : LkiS, 2000)
Lorens Bagus, Kamus Filasafat, (Jakarta : Gramedia, 2005)
Roy Wood Sellars,dkk.(eds.),Philosophy for the Future (New York : Macmillan Co.,1949)

1 Response to "Paham Materialisme"

  1. AvaTrade is the most recommended forex broker for newbie and professional traders.

    ReplyDelete