Ponorogo, Kota Keduaku

Gapura perbatasan Ponorogo-Madiun
Ponorogo Kota Keduaku - Saya lahir di Kota Majalengka 26 tahun yang lalu. Bagi yang belum tahu, Majalengka berbatasan dengan Kota Cirebon, Kuningan, Indramayu, Sumedang dan Ciamis, Jawa Barat. Kota Majalengka terletak di tengah kota-kota tersebut. Maklum, Majalengka memang tidak setenar Kota Jakarta sebagai ibukota Indonesia. Juga tidak sekeren Bandung yang memiliki Walikota super beken (katanya). Tapi percayalah, sekali Anda berkunjung ke Majalengka, niscaya mata Anda akan terbelalak dengan panorama keindahan alam dan penghuninya. hehee

Tapi saudara sekalian, bukan Majalengka yang akan saya bicarakan sekarang. Meski demikian, tetap masih ada kaitannya sebagai kota kelahiran dan kota tercinta sepanjang masa.

Izinkan pada malam ini saya akan sedikit mengenalkan kepada para pembaca blog ini sebuah kota kecil tapi sangat bersejarah dalam hidup saya. Yes, Ponorogo, kota kecil terpencil yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. 

Sesuai judul postingan kali ini, saya menganggap Ponorogo sebagai kota keduaku. Kota paling bersejarah, kota tercinta, kota idaman, kota idola setelah kota kelahiranku Majalengka tentunya. Mengapa? Baik, dari sini saya mulai ceritanya.

Umur saya sekarang masuk 26 alhamdulillah. Sejak kecil saya tinggal di Majalengka dan beberapa tahun di Tangerang karena ikut orang tua bekerja di sana. Setelah lulus SD, saya melanjutkan studi ke pesantren tepatnya di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo (Kota Keduaku), Jawa Timur. Nah, sejak saat itulah saya jarang pulang ke Majalengka. Sebab, selain jarak antara Majalengka-Ponorogo jauh sekali, juga waktu liburan sangat terbatas. Setiap tahunnya, saya hanya pulang 2 kali saja. Liburan semester dan bulan ramadhan. Selebihnya, saya habiskan hidup saya di Pondok.

Karena jarang di rumah, jarang berkomunikasi lagi, ada sedikit efek yang saya rasakan dulu. Karena di Pondok dilarang berbahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah, ketika liburan kadang saya keceplosan bicara bahasa Arab dengan orang tua dan teman-teman. Dan agak sedikit lupa beberapa kosa kata bahasa Sunda.
Gedung Pemkab Ponorogo
Kalo saya ditanya daerah-daerah antara Majalengka dan Ponorogo, saya lebih tahu dan menguasai Ponorogo. hahhaaa....

Ponorogo, kota kecil terpencil tapi lengkap insha Allah. barang-barang pun relatif murah meriah dibanding kota lainnya.

Begitulah, hingga sekarang saya masih berdomisili di Ponorogo. Dan kalo dihitung-hitung, lebih dari setengah umur saya berada di Ponorogo. Hehee

Sudah ngantuk nih, lanjut curhatnya di lain kesempatan. Bagi yang belum pernah ke Ponorogo, silakan kunjungi dan mampir di kampus saya Universitas Darussalam :)

0 Response to "Ponorogo, Kota Keduaku"

Post a Comment