Fakhruddin Ar-Razi: Konsep Manusia Mulia

Oleh: Adnin Armas
“Manusia mulia adalah manusia yang mengutamakan Wahyu dan akalnya dibanding mengikuti hawa nafsunya,” demikian ungkap Fakhruddin ar-Razi dalam karyanya Kitab an-Nafs wa ar-Ruh wa as-Syarh Quwahuma (Buku Mengenai Jiwa dan Ruh dan Komentar Terhadap Kedua Potensinya). Menurut Fakhruddin ar-Razi, seorang ulama-intelek yang berwibawa (m. 610 H/ 1210 M) manusia memiliki hawa nafsu dan tabiat yang selalu menggiringnya untuk memiliki sifat-sifat yang buruk. Namun, jika manusia lebih mengutamakan Wahyu dan akal dibanding hawa nafsunya, maka sungguh manusia itu menjadi mulia.

Bahkan, manusia bisa lebih mulia dari malaikat. Koq bisa? Sebabnya, malaikat selalu bertasbih karena tidak memiliki hawa nafsu, sementara manusia harus berjuang melawan hawa nafsunya, demikian pendapat Fakhruddin ar-Razi.

JIWA YANG BAHAGIA LEBIH TINGGI DARI KENIKMATAN JASMANI
Bagi Fakhruddin ar-Razi, kebahagiaan jiwa atau kenikmatan ruhani lebih tinggi martabatnya dibanding kebahagiaan fisik atau kenikmatan jasmani, seperti kuliner, hubungan seks dan keinginan memiliki materi. Argumentasi Fakhruddin ar-Razi sebagai berikut:

Pertama, sekiranya kebahagiaan manusia itu terkait dengan hawa nafsu dan mengikuti amarah, maka hewan-hewan tertentu seperti singa yang lebih kuat nafsu amarahnya dan burung yang lebih kuat kemampuan hubungan seksnya dari manusia, maka hewan tersebut akan lebih tinggi martabatnya dibanding manusia. Namun, kenyataannya kan tidak demikian.

Kedua, sekiranya makan atau kuliner atau hubungan seks menjadi sebab bagi diraihnya kebahagiaan dan kesempurnaan, maka seseorang yang setiap hari terus menerus memperbanyak makan atau kuliner, maka orang tersebut akan menjadi manusia paling sempurna atau paling bahagia. Namun, jika seseorang setiap hari terus menerus makan dalam jumlah kuantitas yang banyak, justru akan membahayakan dirinya. Jadi, sebenarnya makan fungsinya sekadar untuk memenuhi kebutuhan jasmani, bukan menjadi penyebab kepada kebahagiaan ataupun kesempurnaan.

Ketiga, manusia sebagaimana hewan merasakan kenikmatan saat makan dan minum. Jika makan menjadi sebab kepada kebahagiaan, maka manusia tidak akan menjadi lebih tinggi derajatnya dibanding hewan. Bahkan manusia bisa lebih rendah dari hewan jika kebahagiaan manusia diidentikkan dengan kenikmatan jasmani. Sebabnya, manusia dengan akalnya menyadari jika kenikmatan jasmani tidaklah sempurna. Sedangkan hewan, tidak bisa menyadarinya karena hewan tidak bisa berfikir tatkala sedang dalam kenikmatan jasmani.

Keempat, kenikmatan jasmani sejatinya bukanlah kenikmatan yang sebenarnya. Seseorang yang sangat lapar, maka ia akan merasakan nikmat sekali jika bisa makan. Sebaliknya, seseorang yang sedikit laparnya, sedikit pula rasa nikmatnya ketika ia makan. Seseorang berpakaian karena pakaian tersebut menyelimutinya dari rasa dingin dan rasa panas. Jadi, kenikmatan jasmani seperti makan sejatinya adalah menghindari dari rasa lapar. Kenikmatan jasmani seperti berpakaian sejatinya adalah menghindar dari rasa dingin dan rasa panas. Jadi, kenikmatan jasmani bukanlah kenikmatan yang sesungguhnya. Kebahagiaan jiwa bukanlah kenikmatan jasmani.

Kelima, manusia layaknya hewan, makan, minum, tidur, melakukan hubungan seks, dan menyakiti yang lain. Namun, manusia lebih mulia dari hewan. Jika demikian, maka kesempurnaan dan kebahagiaan manusia mustahil sama dengan kenikmatan jasmani hewan.

Keenam, para malaikat lebih mulia dari hewan. Para malaikat tidak makan dan tidak minum. Kesempurnaan Allah, Sang Pencipta, juga tidak terletak sama sekali pada hal-hal yang terkait dengan kebutuhan jasmani. Kemuliaan Allah terletak bukan pada kebutuhan jasmani. Dalam hadis disebutkan supaya berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah. Tentunya memperbanyak kebajikan, memperbanyak kebijaksanaan akan menjadikan akhlak terpuji. Kemuliaan manusia bukan dengan memperbanyak makan dan minum.
Ketujuh, siapapun yang menyatakan kebahagiaan terletak pada kenikmatan jasmani, jika melihat orang yang berpuasa, menahan diri dari makan, minum dan hawa nafsu, maka orang yang berpuasa tersebut akan dinilai sebagai seorang yang memiliki aura spiritual yang tinggi. Namun sebaliknya, jika seseorang menyibukkan dirinya hanya dengan makanan, hubungan seks, dan mengabaikan ibadah, ilmu pengetahuan, maka ia akan dinilai sebagai orang yang rendah. Ini menunjukkan kenikmatan jasmani bukanlah kenikmatan yang mulian.

Kedelapan, jika segala sesuatu pada dirinya adalah kesempurnaan dan kebahagiaan, maka seseorang tidak akan malu untuk menunjukkannya. Orang tersebut justru bangga jika dapat merealisasikannya dan sukses mengerjakannya. Namun, kita tahu orang yang berilmu tidak akan bangga dengan makanannya, dan menceritakan kepada public hubungan seks yang dilakukannya, dan ia tidak akan bangga menghabiskan waktunya dengan hal-hal sedemikian. Ini sekali lagi menunjukkan kenikmatan jasmani bukanlah sesuatu yang menyebabkan kepada kebahagiaan dan kesempurnaan.

Kesembilan, hewan yang kerjanya hanya makan dan minum serta malas untuk berlatih, maka ia akan dijual murah. Sebaliknya, hewan yang makan dan minum serta mau berlatih keras, maka akan dijual dengan harga yang tinggi. Kuda yang ramping, berlari kencang, lebih malah dibanding kuda yang gemuk dan malas untuk berjalan. Jika kuda saja yang berlatih dihargai dengan yang lebih mahal, apalagi kepada makhluk hidup yang berakal jika ia berlatih, berkerja dan melakukan kebajikan?

Kesepuluh, penduduk yang tinggal sangat jauh dari keramaian, dari kemajuan zaman, dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka penduduk tersebut dianggap lebih rendah dari penduduk yang terbiasa dengan kemajuan sains dan teknologi. Ini menunjukkan jika kesempurnaan diraih bukan dengan makan, minum dan hubungan seksual, namun dengan ilmu pengetahuan dan memiliki sifat-sifat baik yang mulia.

KENIKMATAN JASMANI TERCELA
Setelah membahas panjang lebar tentang kenikmatan ruhani atau kebahagiaan jiwa lebih tinggi dari kenikmatan jasmani, Fakhruddin ar-Razi bahkan menunjukkan kenikmatan jasmani itu adalah tercela. Sebabnya, kenikmatan jasmani itu hakikatnya bukanlah kenikmatan yang sebenarnya. Makan nikmat karena menghilangkan lapar. Berpakaian nikmat karena menutupi tubuh dari rasa dingin dan panas. Kenikmatan jasmani hadir karena melindungi tubuh dari rasa lapar, dingin dan panas. Namun, kenikmatan jasmani yang bukan lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya, akan menjadi tercela jika berlebihan. Jika sesorang terus-menerus makan, maka justru ia merasa nyeri.

Begitu juga jika seseorang melakukan hubungan seks secara berterusan, maka ia akan merasakan kenyerian, bukan kenikmatan. Ini menunjukkan kenikmatan jasmani itu tidak mengandung kebaikan kecuali fungsinya hanya untuk memenuhi kebutuhan. Bagi Fakhruddin ar-Razi, kenikmatan jasmani bertentangan dengan esensi kemanusiaan. Jika manusia disibukkan hanya dengan kenikmatan jasmani, maka daya spiritualitas rendah dan intelektualitasnya menjadi tertutup. Dirinya akan tetap diliputi dengan nafsu kebinatangan, bukan dengan kemanusiaan. Padahal esensi kemanusiaan yang sebenarnya adalah menyibukkan dirinya kepada Allah, Yang Maha Agung, supaya ia menyembah-Nya, mencintai-Nya dengan sepnuh jiwa raganya.

Kesibukan dengan kenikmatan duniawi akan menghalanginya dari beribadah dan mengingat-Nya. Cinta kepada kenikmatan jasmani akan menghalanginya untuk meraih Cinta kepada Sang Khalik. Pemikiran Fakhruddin ar-Razi tentang konsep manusia yang mulia sungguh sangat inspiratif. Di tengah-tengah budaya kuliner, hedonis, materialis, pornoaksi dan pornografi, pemikirannya mengingatkan kita bahwa kenikmatan ruhani, kebahagiaan jiwa, meraih ilmu pengetahuan, melakukan ibadah, menjauhi kemaksiatan, melakukan kebajikan dan mencintai Allah dengan segenap jiwa dan raga, adalah esensi kemanusiaan. Sebaliknya, mengikuti hawa nafsu dengan memperbanyak kenikmatan jasmani sungguh akan menjauhi manusia dari Sang Pencipta-Nya. Pemikiran Fakhruddin ar-Razi sungguh menginspirasi kita untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupan yang fana ini.

4 Responses to "Fakhruddin Ar-Razi: Konsep Manusia Mulia"