Siap Memimpin dan Siap Dipimpin

Dahulu, saat saya masih nyantri, tiada hari tanpa perintah dari pembimbing asrama atau yang biasa dipanggil mudabbir. "Akhi, bersihkan selokannya!", "Akhi, jalan yang cepat jangan lambat!". Perintah dan teriakan itu sudah sangat terbiasa kami dengarkan di setiap gerak langkah kegiatan sehari-hari kami. Begitulah hari-hari kami lalui selama bertahun-tahun.

Kalau bukan nilai-nilai pondok yang selalu Pak Kyai tanamkan ke kami, mungkin sebagian besar dari kami akan pulang karena tak betah di pondok. "Siap memimpin dan siap dipimpin!" begitulah kalimat pamungkas yang selalu disampaikan berulang-ulang oleh kakak kelas, asatidz di kelas, sampai asatidz senior. Kami mencoba meresapi kalimat tersebut meski belum sepenuhnya mengerti.

Intinya, sekarang kami sedang dipimpin dan suatu saat nanti kami akan menjadi pemimpin. Begitulah kira-kira penjabaran singkat dari nilai pondok tersebut. Ya, saat itu kami memang tidak memiliki daya apapun. Status kami santri baru yang harus belajar memahami pondok terlebih dahulu. Ketika itu, kami belajar bagaimana kakak kelas bahkan guru kami menjadi pemimpin.

Sekarang, pepatah yang kami dengarkan bertahun-tahun lamanya itu terulang kami ucapkan dalam hati kami. Sebagian santri yang dulu dipimpin, perlahan dia menjadi pemimpin. Minimal pemimpin rumah tangga. Sahabat saya ada yang menjadi kepala sekolah, kyai, dosen, dan lain-lain.

Model kepemimpinan yang dulu kami saksikan akan kami tiru. Tentu yang baik-baiknya. Kami mencoba mengulang memori dahulu yang pernah kami rasakan saat dipimpin. Pelajaran yang sangat berharga. Siap memimpin dan siap dipimpin!

0 Response to "Siap Memimpin dan Siap Dipimpin"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel