Kristologi Qur’ani; Telaah Kontekstual Doktrin Kekristenan dalam Al-Qur’an

Penulis : Hassyim Muhammad, M.Ag.
Penerbit         : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan         : Cetakan II, Agustus 2005
Halaman        : 244 halaman

Buku ini merupakan studi tafsir tematis (maudlu’i) dengan menggunakan pendekatan kontekstual terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang terkait dengan tema kekristenan atau Kristologi. Misalnya tentang Yesus yang di dalam al-Qur’an disebut sebagai antara lain: Isa, Ibn Maryam, al-Masih, ‘abd, Rasul, nabi, ruh dan lain-lain. Diceritakan bagaimana ia terlahir tanpa ayah dan para mufassir menyebutnya sebagai mu’jizat. Al-Qur’an dengan tegas membantah klaim orang-orang Yahudi dan nasrani bahwa Yesus wafat di tiang salib, yang menurut iman Kristiani sebagai pengorbanan Yesus untuk menebus dosa umat manusia. Al-Qur’an juga menolak dan mengecam pandangan yang menyebut Yesus sebagai Tuhan atau salah satu oknum Tuhan. Yesus tidak laina adalah manusia biasa yang dipilih oleh Allah untuk menjadi nabi dan rasul-Nya. 

Muhammad sebagai seorang rasul berikutnya, juga mengemban misi yang sama dengan Yesus, yakni membenarkan ajaran Yesus, meluruskan penyimpangan yang terjadi terhadap ajaran Yesus dan mengajak para pengikut Yesus dan ahli kitab pada umumnya untuk kembali kepada ajaran yang benar, sebagaimana diajarkan oleh nabi-nabi sebelumnya, yakni ajaran Tauhid.

Dari uraian-uraian tersebut dapat diindikasikan adanya perbedaan antara stigma yang berkembang pada masyarakat Islam tentang Kristen dengan ide morang yang sesungguhnya dalam al-Qur’an, setidaknya menurut hasil penelitian penulis.

 Penulis buku ini berusaha menengahi antara Islam dan Kristen dengan cara mengkaji teks al-Qur’an tentang ayat-ayat kekristenan dan mendialogkannya dengan teks-teks kekristenan sendiri. Baik berupa al-Kitab maupun karya-karya teologis dari tokoh-tokoh Kristiani. Dalam buku ini juga diungkapkan bagaimana sebenarnya para murid Yesus merumuskan ketritunggalan ilahi dalam keesaan wujud-Nya yang nuzul firman-Nya sudah menjadi manusia dengan menisbahkan Allah, firman (Yesus) dan Roh Kudus dengan istilah-istilah teologis seperti ousia (jauhar atau dzat) dan hipostasia (sifat). Ungkapan tersebut berbunyi “Allahu wahid, wa huwa tsalasatu aqanim mutasawiyat fi al-jauhar” (Allah Yang Maha Esa memiliki tiga hypostasis yang sehakekat dalam jauhar atau dzat-Nya). Konsep inilah yang sebenarnya sama dengan konsep ketauhidan.

Buku ini sangat kaya nuansa kaitannya dengan dialog antar agama Islamd an Kristen, sehingga sangat cocok untuk dibaca oleh pembaca khususnya yang sedang memperdalam bidang studi tafsir.

0 Response to "Kristologi Qur’ani; Telaah Kontekstual Doktrin Kekristenan dalam Al-Qur’an"

Post a Comment