Paham Relativisme; Pengertian, Aliran dan Kritik


A.    Pendahuluan
Doktrin relativisme kini telah menjadi tantangan nyata dalam kehidupan. Paham ini telah memasuki bidang filsafat, akidah dan bahkan  metodologi studi keilmuan. Dalam bidang filsafat, doktrin relativisme menyentuh pembahasan epistemologi — sumber-sumber ilmu. Ia juga mendobrak dinding-dinding akidah. Sebab, mengajarkan bahwa keyakinan tiap-tiap agama dan kepercayaan itu relatif, tidak ada satu agama atau keyakinan yang absolut benar. Karena telah menyentuh bidang epistemologi, maka selanjutnya relativisme juga mempengaruhi metodologi studi keilmuan. Produk paling nyata adalah penggunaan metode hermeneutika untuk menafsirkan al-Qur’an dan teks-teks keislaman lainnya. Sikap ‘netral agama’ dalam studi perbandingan agama juga merupakan pengaruh dari relativisme. Dari paham inilah, lalu merambat ke virus-virus pemikiran lainnya seperti liberalisme, feminisme, pluralisme, sekularisme dan lain sebagainya.[1]
Maka, tulisan ini hadir untuk membahas secara singkat tentang pengertian relativisme, sejarah kemunculannya, aliran-alirannya, implikasinya dalam kehidupan dan kritik para tokoh muslim terhadap bahaya relativisme itu.
B.     Pengertian Relativisme
Sebelum melangkah ke pembahasan yang lebih mendalam, ada baiknya mengetahui dahulu arti relativisme secara bahasa dan istilah. Secara etimologis, relativisme yang dalam bahasa Inggrisnya relativism, relative berasal dari bahasa latin relativus (berhubungan dengan). Dalam penerapan epistemologisnya, ajaran ini menyatakan bahwa semua kebenaran adalah relatif. Penggagas utama paham ini adalah Protagoras, Pyrrho.[2]
Sedangkan secara terminologis, makna relativisme seperti yang tertera dalam Ensiklopedi Britannica adalah doktrin bahwa ilmu pengetahuan, kebenaran dan moralitas wujud dalam kaitannya dengan budaya, masyarakat maupun konteks sejarah, dan semua hal tersebut tidak bersifat mutlak. Lebih lanjut ensiklopedi ini menjelaskan bahwa dalam paham relativisme apa yang dikatakan benar atau salah; baik atau buruk tidak bersifat mutlak, tapi senantiasa berubah-ubah dan bersifat relatif tergantung pada individu, lingkungan maupun kondisi sosial[3].
C.    Sejarah Muncul Paham Relativisme dan Perkembangannya
Doktrin relativisme mulanya berasal dari Protagoras (490 SM-420 SM), tokoh Sophis Yunani[4] terkemuka abad 5 SM. Ia termasuk salah seorang sofis pertama dan juga yang paling terkenal.[5] Selain sebagai filsuf, ia juga dikenal sebagai orator dan pendebat ulung. Ditambah lagi, ia terkenal sebagai guru yang mengajar banyak pemuda pada zamannya. [6] Ia berprinsip bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu (man is the measure of all things). Manusia yang dimaksud di sini adalah manusia sebagai individu. Dengan demikian, pengenalan terhadap sesuatu bergantung pada individu yang merasakan sesuatu itu dengan panca indranya. Contohnya bagi orang sakit, angin terasa dingin. Sedangkan bagi orang sehat, angin itu terasa panas. Di sini kedua orang tersebut benar, sebab pengenalan terhadap angin berdasarkan keadaan fisik dan psikis orang-orang tersebut.[7]
Di zaman Barat postmodern doktrin ini dicetuskan oleh F. Nietzsche dengan doktrin yang disebut nihilisme yang intinya adalah relativisme.[8] Kemudian relativisme berkembang pada peradaban modern yang didasarkan atas dasar rasionalisme, materialisme, positivisme, evolusonisme dan hedonisme. Paham ini selalu terkait dengan masalah etika, agama dan kebudayaan. Pada abad ke-20 paham ini mendapat dukungan dari ahli-ahli antropologi dan pengajian kemanusiaan seperti Ruth Benedict, Edward Westermarck, Hans Reihenbach dan lain-lain.
Dalam bukunya Ethical Judgment, Edel memperinci beberapa faktor suburnya relativisme pada abad ke-20.[9] Pertama, pandangan bahwa peradaban dan kebudayaan, begitu pula agama, sebenarnya hanya buatan manusia. Dan manusia, menurut Darwin, adalah bagian daripada dunia hewan. Kebenaran tidak pernah diperoleh manusia dari Tuhan, kerana Tuhan itu tidak dikenali serta nun jauh di sana dan tidak pernah ada hubungannya dengan manusia.
Kedua, dalam kehidupan politik, manusia modern mengukur baik dan buruknya tindakan politik hanya berdasarkan ukuran dimilikinya kekuasaan. Cara pandang ini dipengaruhi oleh perkembangan ilmu politik itu sendiri. Sejak Machiavelli sampai Marx dan Lenin, terus hingga masa kini, yang dijadikan perhatian ialah bagaimana merebut dan meraih kekuasaan. Kekuasaan dijadikan tujuan dan dipergunakan sebagai sarana dalam upaya memahami perjuangan manusia di lapangan sosial.
Ketiga, Teori ekonomi dan pandangan psikologi modern juga tidak kurang pentingnya dalam ikut menyuburkan relativisme, seperti misalnya teori Pavlov, Karen Horney dan Abram Kardiner.
Keempat, Relativisme juga muncul kerana manusia tidak lagi mengetahui jalan yang bisa menghubungkan dirinya dengan sumber-sumber kebenaran, sedangkan citra dirinya dan hubungannya dengan sumber-sumber kebenaran telah dikaburkan oleh pandangan yang menempatkan dirinya tidak lebih tinggi dari hewan bahkan benda.
D.    Aliran-Aliran Relativisme
1.   Relativisme Etika
Relativisme etika merupakan paham atau aliran pemikiran filsafat yang secara tegas menolak pendapat yang mengatakan bahwa norma etika berlaku untuk semua orang di mana saja.[10]
Pengertian lain, Shomali telah memberikan definisi yang cukup mudah dipahami yaitu “Relativisme etika adalah pandangan bahwa tidak ada prinsip etika yang benar secara universal; kebenaran semua prinsip etika bersifat relatif terhadap budaya atau individu tertentu”. Sebagai contoh, membunuh itu bisa benar dan juga bisa salah tergantung apa tujuan orang melakukan pembunuhan.[11] Orang Callatia[12] memakan ayah mereka yang telah mati sebagai penghormatan dan kebanyakan dari tanggapan kita terhadap hal itu adalah tidak beretika. Tetapi bagi orang Callatia membakar atau mengubur orang mati adalah perbuatan menakutkan dan menjijikkan atau tidak beretika.[13]
Tidak sedikit filsuf yang menganut aliran ini. Protagoras, misalnya, mengatakan bahwa benar-salahnya sesuatu tergantung pada individu yang memberi penilaian. Engels menyatakan bahwa ‘penilaian moral’ (moral judgment) tergantung pada kelas sosial tertentu; sementara Hegel menegaskan bahwa negaralah yang menentukan penilaian mana yang benar dan yang salah.[14]
Kesimpulan dari paham ini adalah, tindakan yang dianggap tidak beretika di satu tempat, tidak bisa ditetapkan sebagai etika di tempat lain. Karena beda suku, budaya dan bahasa, maka beda pula standarisasi etikanya. Maka kebenaran atas etika suatu kaum adalah relatif.
2.   Relativisme Budaya
Relativisme budaya berbeda dengan relativisme etika. Relativisme etika berbicara tentang pengabaian prinsip dan tidak adanya rasa tangggung jawab dalam pengalaman hidup seseorang. Sebaliknya, relativisme budaya berbicara mengenai pegangan yang teguh pada prinsip, pengembangan prinsip tersebut, dan tanggung jawab penuh dalam kehidupan dan pengalaman seseorang.[15]
Jika perkembangan budaya antara satu wilayah budaya dengan wilayah budaya lainnya berbeda, maka standar kebenaran dan kebaikan yang ada tiap kelompok budaya akan berbeda satu dengan yang lainnya. Dari sinilah terbentuk nilai-nilai budaya yang sifatnya relatif. Meskipun demikian, adanya relativitas budaya secara konseptual dan sistematis dipopulerkan oleh Frans Boaz, seorang antropolog budaya berkebangsaan Amerika.
Relativisme budaya memandang bahwa tidak ada budaya yang lebih baik dari budaya lainya. Karenanya tidak ada kebenaran atau kesalahan yang bersifat internasional. Ia menolak pandangan bahwa terdapat kebenaran yang bersifat universal dari budaya-budaya tertentu. Relativitas budaya adalah suatu prinsip bahwa kepercayaan dan aktivitas individu harus difahami berdasarkan kebudayaannya. Prinsip ini didasarkan pada hasil penelitian Frans Boaz[16] dalam dekade awal abad ke 20 dan kemudian dipopulerkan oleh murid-muridnya. Boaz sendiri tidak menggunakan istilah itu, tetapi istilah tersebut menjadi umum antar ahli antropologi setelah kematian Boas tahun 1942. Istilah  tersebut pertama kali digunakan dalam jurnal Antropologi Amerika tahun 1948; yang isinya merepresentasikan bagaimana murid-murid Boas meringkas dari berbagai prinsip pemikiran Boas.
Sisi positif dari paham relativisme budaya ini adalah dapat menyesuaikan dirinya dengan budaya sekitarnya, dan tidak pernah menganggap bahwa budayanya adalah budaya yang terbaik. Sedangkan dampak negatifnya bisa dirasakan oleh suatu negara, misalkan, jika Indonesia sudah memiliki paham relativisme yang sangat kuat, namun ada imigran yang baru datang, maka secara otomatis pemerintah sangat sulit untuk memberi pengarahan kepada imigran tersebut.
3.   Relativisme Agama
Lain halnya dengan relativisme etika dan budaya, inilah ujung dari paham relativisme yang sangat mengkhawatirkan, yaitu relativisme agama. Paham ini mengajarkan ketidakyakinan atau keraguan umat beragama terhadap kebenaran agamanya sendiri. Inilah akar dari pemikiran Pluralisme Agama yang mengakui kebenaran relatif dari semua agama.[17]
Doktrin ini mengajarkan bahwa agama tidak lagi berhak mengklaim mempunyai kebenaran absolut, ia dipahami sama dengan persepsi manusia sendiri yang relatif itu. Manusia dikatakan tidak dapat mengetahui kebenaran absolut. Pemilik kebenaran hakiki hanya Tuhan. Implikasinya, penganut paham ini membedakan agama dari pemikiran keberagamaan. Frameworknya masih berkutat dikotomi absolut relatif. Agama itu absolut dan pemikiran keagamaan itu relatif. Akibat dari doktrin ini, tafsir yang merupakan pemahaman para ulama itu menjadi relatif, demikian pula pemahaman hukum para ulama juga relatif. Karena sifatnya relatif dan tidak absolut maka ilmu para ulama tidak dapat dijadikan rujukan, sehingga para ulama itu dianggap tidak memiliki otoritas dan tidak boleh memberi fatwa. Maka dari itu tidak heran jika para pelajar Muslim penganut paham liberalisme dan relativisme itu sangat anti kepada fatwa Majelis Ulama atau sejenisnya.[18]
Mengenai hal di atas, Allah berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:
“Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang-orang yang meyakini. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu. Tetapi mereka bermain-main dalam keraguan” (QS. Al-Dukhan: 7-9).
Ayat terakhir yang berbunyi “Bal hum fi syaqqin yal’abun”. Merupakan tepat untuk menggambarkan kaum relativis. Mereka meragukan terhadap kebenaran agama. Meragukan terhadap kepastian iman yang final. Keragua-raguan selamanya tidak akan menunjukkan kepada pengetahuan pasti, terlebih di dalam masalah keagamaan yang sifatnya fundamental.
E.     Kritik Terhadap Paham Relativisme
Dengan melihat dampak relativisme yang sudah dijelaskan di atas, ternyata paham relativisme ini sangat berbahaya bagi masyarakat awam. Terlebih relativisme agama. Untuk itu, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSIST) menjelaskan dan mengkritik secara tuntas logika paham relativisme agama tersebut. Ia menulis, “Pernyataan bahwa kita tidak dapat mengetahui kebenaran absolute, mempunyai banyak kerancuannya. Pertama, jika dikatakan bahwa manusia tidak mengetahui kebenaran absolute tentu tidak benar, sebab hitungan matematis 2×2=4 adalah absolute. Nabi Muhammad saw pernah hidup dan membawa risalah Islam kemudian wafat adalah pengetahuan absolute. Kedua, jika maksudnya adalah kita tidak mengetahui kebenaran absolute seperti yang dimaksud Tuhan, ini berarti ia tidak percaya kepada kenabian Muhammad saw, manusia yang dipercaya Allah dapat menyampaikan risalah. Mustahil Allah menurunkan wahyu yang tidak bisa difahami oleh Rasul-Nya sendiri.
Ketiga, seseorang yang menyatakan bahwa yang benar hanya Tuhan, maka orang tersebut mestinya telah mengetahui kebenaran yang diketahui Tuhan itu. Jika dia tidak tahu maka mustahil ia dapat menyatakan bahwa yang benar secara absolute hanya Tuhan. Jika dia tahu maka pengeteahuannya itu absolute. Jadi dengan demikian pemikiran dan pengetahuan manusia itu bisa relative dan bisa absolute.
Keempat, pernyataan bahwa “kebenaran itu relatif” sebenarnya juga kontradiktif (self-contradiction). Sebab jika demikian maka pernyataan itu sendiri juga termasuk relatif alias belum tentu benar. Karena pernyataan “kebenaran itu relative” belum tentu benar, maka dimungkinkan ada pernyataan lain yang berbunyi “kebenaran itu bisa absolute dan bisa juga relative”, dan pernyataan ini juga dapat dianggap benar.
Kelima, dari perspektif epistemologi Islam, pernyataan bahwa pemikiran manusia itu relatif yang absolut hanya Tuhan dapat diterima dalam perspektif ontologis dan tidak dapat dibawa ke dalam ranah epistemologis. Benar, secara ontologis Tuhan itu absolut dan manusia itu relatif. Namun secara epistemologis kebenaran dari Tuhan yang absolut itu telah diturunkan kepada manusia melalui Nabi dalam bentuk wahyu. Kebenaran wahyu yang absolut itu dipahami oleh Nabi dan disampaikan kepada manusia. Manusia yang memahami risalah Nabi itu dapat memahami yang absolut.[19]
Berkaitan dengan relativisme etika, tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa selain memiliki segi positif, aliran relativisme ini juga memiliki segi negatif. Hal negatif tersebut ialah tidak adanya suatu ukuran moral ideal yang dapat dijadikan pegangan yang berlaku bagi seluruh masyarakat.
Kaum relativis melihat kebenaran etika terdapat dalam setiap kebudayaan. Akibatnya dalam menilai kebenaran etika suatu perbuatan bisa dihasilkan begitu banyak pandangan yang berbeda-beda sehingga kebenaran yang dihasilkan tersebut tidak dapat dipercaya. Tanpa adanya suatu ukuran yang berlaku umum akan menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam melakukan hubungan kerja sama antara kebudayaan. Hal ini dikarenakan setiap kebudayaan tetap berpegang pada keyakinan mereka masing-masing. Karena ukuran tersebut sudah ada dan dipercaya sejak dahulu maka sulit untuk diadakan suatu perubahan-perubahan etika. Padahal mungkin saja keyakinan tersebut tidak sesuai lagi dengan konteks zaman saat ini. Oleh karena itu adanya suatu ukuran moral ideal yang bersifat universal bagi seluruh kebudayaan mutlak diperlukan.
F.     Penutup
Akar paham pluralisme-liberalisme ini berkutat dalam tiga aliran besarnya, relativisme etika, budaya dan agama. Tapi pada hakikatnya, relativisme agama lah yang paling berbahaya. Sebab paham ini tidak hanya dalam lingkup sosial, tapi sudah masuk ke ranah teologi dan mencabik-cabik akidah. Dengan jargonnya “Kebenaran yang mutlak itu hanya dari Tuhan, manusia hanya makhluk relatif”, sepintas terasa indah. Tapi sebenarnya mengandung paham pluralisme, bahkan ateisme yang tidak percaya adanya Tuhan.
Dalam Islam ada yang namanya relatif. Tapi tidak semua hal bersifat relatif. Penilaian manusia terhadap kebenaran sesuatu harus dilandasi dengan ilmu dan iman. Ilmu mengantarkan manusia pada pencapaian pengetahuan dan iman memantapkan keyakinan terhadap pengetahuan tersebut. Jadi, ilmu dan iman tidak dapat dipisahkan dalam memahami sesuatu. Wallahu a’lam bishshawab.

G.    Referensi
A.Mangunhardjana, Isme-Isme dalam Etika dari A sampai Z, (Jogjakarta: Kanisius, 1997)
Audi, Robert, "Sophist". In The Cambridge Dictionary of Philosophy. (Cambridge: Cambridge University Press, 1999).
Audi, Robert, The Cambridge Dictionary of Philosophy, (United Kingdom: Cambridge University Press, 1995)
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000)
Britannica, (Deluxe edition CD-ROM, 2001)
Daud, Wan Mohd Nor Wan, Epistemologi Islam dan Tantangan Pemikiran Umat dalam Jurnal Islamia Thn II No. 5 2005.
Edel, Abraham, Ethnical Judgment; The Use of Science in Ethnics, (Glencoe: Free Press, 1955)
J. Sudarminta, Etika Umum: kajian tentang beberapa masalah pokok dan teori etika normatif (Yogyakarta: Kanisius, 2013)
K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Yogyakarta: Kanisius, 1990)
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2000)
Mayers, Marvin K., Absolutism and Relativism, (Michigan: Zondervan Publishing House, 1974)
Shomali, A. Mohammad, Relativisme Etika, (Jakarta: Serambi, 2005)
Zarkasyi, Hamid Fahmy, Liberalisasi Pemikiran Islam, (CIOS-ISID-Gontor, 2010)




[1] Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan setidaknya ada lima agenda utama upaya liberalisasi pemikiran keagamaan di Indonesia, yaitu: a) Menyebarkan paham relativisme kebenaran, b) Melakukan kritik terhadap Al-Qur’a’n, c) Menyebarkan paham Pluralisme Agama, d) Wacana Dekonstruksi Syariah, e) Feminisme/Gender... Lihat: Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, (CIOS-ISID-Gontor, 2010), hal. 92 dst.
[2] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 949.
[3] The doctrine that knowledge, truth, and morality exist in relation to culture, society, or historical context, and are not absolute. what is right or wrong and good or bad is not absolute but variable and relative, depending on the person, circumstances, or social situation. The view is as ancient as Protagoras, a leading Greek Sophist of the 5th century BC, and as modern as the scientific approaches of sociology and anthropology. Lihat: Britannica, 2001, Deluxe edition.
[4] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Yogyakarta: Kanisius, 1990) hal. 69-72. Kaum Sopist dibagi menjadi tiga. Pertama, kelompok al-la adriyah (agnostik) yaitu orang yang selalu ragu-ragu tentang keberadaan sesuatu sehingga menolak kemungkinan seseorang meraih ilmu pengetahuan.  Kedua, al-‘indiyah yaitu mereka yang selalu bersikap subjektif. Mereka menolak tujuan ilmu pengetahuan dan kebenaran. Bagi mereka, tujuan ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah subjektif, bergantung kepada pendapat masing-masing. Ketiga, kelompok al-inadiyah, yaitu mereka yang keras kepala, yang menafikan realitas segala sesuatu dan menganggapnya sebagai fantasi dan khayalan semata-mata. Lihat, Wan Mohd Nor Wan Daud, Epistemologi Islam dan Tantangan Pemikiran Umat dalam Jurnal Islamia Thn II No. 5 2005, hal. 53-54.
[5] Robert Audi, "Sophist". In The Cambridge Dictionary of Philosophy. (Cambridge: Cambridge University Press, 1999). hal. 752.
[6] Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hal. 36.
[7] Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan…, hal. 37
[8] Hamid Fahmy Zarkasyi,Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan Bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis),(Ponorogo: CIOS-ISID, 2008), hal. 92.
[9] Abraham Edel, Ethnical Judgment; The Use of Science in Ethnics, (Glencoe: Free Press, 1955), hal. 36-37
[10] J. Sudarminta, Etika Umum: kajian tentang beberapa masalah pokok dan teori etika normatif (Yogyakarta: Kanisius, 2013), hal. 24.
[11] A. Mohammad Shomali, Relativisme Etika, (Jakarta: Serambi,2005), p. 33.
[12] Menurut data www.peakery.com, daerah Callatia merupakan daerah puncak gunung dengan ketinggian 5138 m yang terletak dekat Hacienda Huancane, Puno, Peru. Gunung itu adalah tertinggi ke 18 di Puno.
[13] Dalam bukunya berjudul Kisah-Kisah Sejarah, Herodotus menceritakan antara lain bagaimana Darius, raja Persia, dalam perjalanan penjelajahannya begitu terkesan oleh macam-macam perbedaan budaya bangsa-bangsa yang ia temui. Ia temukan misalnya bahwa bangsa Callatia (salah satu suku Indian) biasa memakan tubuh ayah mereka yang telah mati untuk mewarisi berkat dan kesaktiannya, sedangkan bangsa Yunani membakar (mengkre-masikan) tubuh setiap orang mati dan menganggap itu sebagai cara yang sesuai untuk melepas jiwa orang yang mati tersebut. Darius beranggapan bahwa pengertian yang memadai tentang dunia kita ini mesti menghargai perbedaan-perbedaan tersebut. Untuk mendidik rakyatnya, Suatu hari raja Darius memanggil dan bertanya kepada beberapa orang Yunani yang kebetulan hadir di istananya bagaimana reaksi mereka kalau ada bangsa yang memakan tubuh ayah mereka yang telah mati. Mereka menjawab bahwa hal itu tidak masuk akal bagi mereka. Suatu reaksi yang sudah diduga oleh Darius sebelumnya dan dibayar berapapun tak pernah mereka akan melakukan hal yang sekeji itu. Kemudian Darius memanggil orang-orang Callatia dan bertanya kepada mereka bagaimana reaksi mereka kalau ada bangsa yang membakar tubuh orangtua/ saudara mereka yang telah mati. Orang-orang Callatia menjawab bahwa itu tindakan yang amat keji, bahkan menyebutnya saja tidaklah pantas.
[14] David E. Cooper, Illusions of Equality, (London: Routledge & Kegan Paul,1980), hal. 147.
[15] Marvin K. Mayers , Absolutism and Relativism, (Michigan: Zondervan Publishing House, 1974), hal. 231-232.
[16] Emile Durkheim, The Division of Labor in Society, translated by George Simpson (New York: Free Press, 1964.
[17] Libertus Jehani, Paus Benediktus XVI, Palang Pintu Iman Katolik, (Jakarta: Sinondang Media, 2005), hal. 32.
[18] Hamid Fahmy Zarkasyi,Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan Bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis),(Ponorogo: CIOS-ISID, 2008), hal. 97.
[19] Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran …, hal. 91-93.

3 Responses to "Paham Relativisme; Pengertian, Aliran dan Kritik"

  1. aduh panjang -_- di bookmark aja dulu ah

    ReplyDelete
  2. pengarangnya anda sendiri atau ngutip dari buku mas?

    ReplyDelete