Islam dan Pluralisme Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan

0

Buku               : Islam dan Pluralisme Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan

Penulis             : Jalaluddin Rakhmat

Penerbit           : Serambi Ilmu Semesta, Jakarta

Cetakan           : Kedua, 2006

Tebal               : 277 halaman

Penulis : Hasbi Arijal, M.Ag.

Setidaknya sampai hari ini, ada dua tujuan dari wacana pluralism agama, pertama adalah mengenai keselamatan ahlu kitab, dan kedua menyuburkan benih toleransi antar ummat beragama. Para kaum pluralis berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh keselamatan dan masuk surge. Semua agama benar berdasarkan kriteria masing-masing (each one is valid within its particular culture). Bagaimana bisa manusia berkeyakinan bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan rahmat Tuhan itu begitu luas?. (p.20-21)

Menjawab pertanyaan diatas, kaum pluralis bersandarkan pada ayat-ayat pluralisme dalam al-Qur’an. Diantara ayat-ayatnya adalah, surat al-Baqarah ayat 62, al-Maidah: 69, dan Hajj: 17. Mereka menafsirkan ayat ini dengan “bahwa orang-orang kafirpun diterima amal sholehnya, karena ayat-ayat tersebut memang tidak menjelaskan semua agama benar atau semua kelompok agama sama. Tetapi, menegaskan semua golongan akan selamat selama mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh. (p.22-23)

Pluralisme terkadang diartikan sebagai satu sikap akan kemajemukan atau fakta pluralitas dimasyarakat. Pluralisme menjadi satu keharusan jika dilihat dari definisi ini. Pertanyaan logispun digulirkan oleh para penolak pluralisme, mereka bertanya apabila semua agama itu sama benarnya kenapa banyak agama dengan perbedaan-perbedaannya?. Menjawab pertanyaan tersebut, setidaknya ada tiga jawaban diberikan oleh kaum pluralis. Pertama, agama itu berbeda-beda dari segi aturan hidupnya (syari’at) dan pandangan hidupnya (aqidah). Dari sini pluralisme memang bukan berarti menyamakaratakan semua agama-agama. Perbedaan sudah menjadi kenyataan dan keniscayaan. Kedua, keragaman itu dimaksudkan Tuhan untuk menjadi ujian antara satu dan lainnya. Ujiannya adalah seberapa banyak kita memberikan kontribusi kebaikan kepada ummat manusia. Ketiga, semua agama itu baik yang Hindu, Kristen, Budha, dan Islam kembalinya kepada Allah yang Maha tunggal. Hanya Allah yang berhak dan boleh menyelesaikan perbedaan-perbedaan tersebut, sedangkan manusia jangan mengambil alih hak Tuhan tersebut. (p.34)

Setelah melihat dalil-dalil pluralisme agama dalam al-Qur’an. Permasalahan yang diajukan oleh kaum pluralis juga terkait tentang makna Islam atau din dalam al-Qur’an. Mereka menafsirkan bahwa Islam bukanlah agama khusus, melainkan melihat dari segi makna bahasanya berarti ketundukan dan kepasrahan kepada Allah. Dari sinilah kita tidak bisa menjustifikasi agama lain bukan termasuk kedalam agama Islam, karena semuanya juga bertunduk kepada Tuhan yang satu. (p.35-48)

Pada umumnya, pertikaian, permusuhan, dan perpecahan (skisma) terjadi karena ada banyak perbedaan dalam satu golongan, begitu juga dalam agama. Bisa kita ambil contoh skisma dalam tradisi Kristen adalah perpecahan antara Kristen Yunani dengan Kristen Roma. Terdapat beberapa perbedaan diantara tradisi keduanya yang pada akhirnya membuat kedua kubu tersebut terpecah belah dan tidak mendatangkan kerukunan. Hal demikian juga ternyata terjadi dalam Islam, walaupun kita tidak bisa menyebutnya sebagai skisme yang merupakan istilah khusus dan berkembang di tradisi Kristen. Contoh yang dapat dilihat adalah perpecahan antara golongan madzhab dalam Islam itu sendiri. Dari sekian perpecahan-perpecahan didalam tradisi keagamaan fakta menunjukan sebab utamanya bukanlah sebatas perbedaan ideologi semata, tetapi lebih bersifat politik atau terdapat unsur-unsur dan kepentingan poitik didalamnya. Ini dapat kita lihat melalui dua teori yang berbeda, pertama adalah teori sosioloantropologis, kedua teori pendekatan doktrinal. Berkenaan dengan skisme diatas terkhusus dalam agama Islam setidaknya ada tida hal yang akan menjadi solusi dari perpecahan tersebut. Pertama, sepakat pada yang qoth’i, siap berbeda dengan yang zhanni. Kedua, berpikir dengan prinsip tarjih dan beramal dengan prinsip silaturahim. Ketiga, ijtihad bagi para ulama, dan taqlid bagi yang awam. (p.66-98)

Para sufi yang ingin mengetahui Tuhan melalui pengabdian bukan pemikiran, melalui cinta bukan kata, melalui takwa bukan hawa. Mereka tidak ingin mendefinisikan Tuhan, mereka ingin menyaksikan Tuhan. (p.109)

Dengan menggunakan intelek, kita hanya akan mencapai pengetahuan yang dipenuhi keraguan dan kontroversi. Melalui mujahadah dan amal, kita dapat menyaksikan Tuhan dengan penuh keyakinan. (p.107)

 Menurut Ibn Arabi, pengetahuan tentang Tuhan hanya diperoleh bila intelek dihadapkan kepada hati dan mengambil pelajaran dari hati. (p.113)

Merujuk kepada Fazalur Rahman bahwa masyarakat Islam dibentuk karena ideologinya, Yaitu Islam. Ideologi merupakan pandangan hidup (worldview) yang akan menjelaskan realitas dan perspektif tertentu. Ia juga adalah cara dalam memandang realitas. (p.118)

Secara eksplesit al-Qur’an memandang (Qur’anic worldview) manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan sosial yang tidak terlepas dari lingkaran hukum berkenaan dengan ketiga aspek secara menyeluruh. Ada tiga term berkaitan dengan transletasi manusia dalam bahasa al-Qur’an, pertama adalah basyar, insan, dan al-Nas. Manusia sebagai basyar berkaitan unsur material, yang dilambangkan unsur tanah. Pada keadaan ini, manusia secara otomatis tunduk kepada taqdir Allah dialam semesta, seperti layaknya taatnya matahari, hewan, tumbuh-tumbuhan. Sedangkan, manusia sebagai insan dan al-Nas berkaitan erat dengan hembusan Ilahi. Pada artian ini, keduanya dikenakan aturan-aturan hukum namun tetap diberikuasa unutk taat atau ingkar. Maka pada artian ini ia disebut juga makhluk mukhayyar.

Ada dua komponen esensial yang membentuk hakikat manusia yang membedakannya dari binatang, yaitu potensi mengembangkan potensi iman dan ilmu. Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut amal soleh. Disinilah dapat ditarik kesimpulan bahwa hal dasar yang membedakan antara manusia dengan hewan dan mahkluk lainnya adalah ilmu dan iman tadi. Maka, makna hidup manusia dapat diukur dari sejauh mana ia berhasil sebaik-baiknya, yakni sejauh mana ia mengembangkan iman dan ilmunya. (p.118-138)

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)