Khutbah Jum'at: Indahnya Persatuan dan Buruknya Perpecahan

0
الحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَمَرَناَ باِلاِْعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ وَالإِبْتِعاَدِ
عَنِ العاَدَاتِ الجاَهِلِيَّةِ. وَالصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٌ
لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيَّ الرَحْمَةِ وَقُدْوَةَ الأُمَّةِ لِنَيْلِ
السَعَادَةِ فيِ الدُنْيَا وَالآخِرَةِ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ
آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ وَإِيّاَيَ بِتَقْوَى
اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Di
antara keistimewaan ajaran Islam adalah seruan kepada penganutnya untuk
mempertahankan persatuan di antara umat Islam (Ukhuwah Islamiah) dan cercaan
terhadap perpecahan yang terjadi di tengah umat ini. Sesuai dengan firman Allah
yang artinya, “Dan berpegang eratlah kalian semua dengan tali Allah dan
janganlah berpecah belah
“. (Ali Imran: 103). Maksud dari kata “tali
Allah
” adalah Al-Qur’an. Terdapat beberapa hadits yang menerangkan
tentang “berpegang erat dengan tali Allah” antara lain: Abu Sa’id
Al-Khudri berkata: Bersabda Rasulullah saw, “Kitabullah adalah tali
Allah yang memanjang dari langit hingga bumi
“. (HR. At-Tirmidzi, hasan
gharib).

Abu
Syuraih Al-Khuza’i berkata: Ketika Rasulullah saw berada di tengah-tengah kami,
beliau bersabda: “Kabar gembira buat kalian, apakah kalian bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku adalah utusanNya?

Para sahabat menjawab: “Benar“.
Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah
perantara (tali), salah satu ujung talinya berada di sisi Allah dan ujung
lainnya ada di tengah-tengah kalian, maka berpegang teguhlah padanya, sungguh
kalian tidak sesat dan binasa jika berpegang teguh padanya (Al-Qur’an).

(Shahih Ibnu Hibban, 12/165).

Zaid
bin Arqam berkata: Rasulullah saw bersabda, “Ketahuilah bahwa saya
meninggalkan bagi kalian dua hal yang berat, salah satunya adalah Kitabullah
dan itu adalah tali Allah, barangsiapa mengikutinya maka dia ada dalam petunjuk
Allah dan barangsiapa meninggalkannya maka ia dalam kesesatan.
” (HR.
Muslim).
Kalimat
jangan kalian berpecah belah” berarti peringatan Allah kepada
umat Islam untuk bersatu dalam persaudaraan Islam dan larangan untuk
bergolong-golongan yang menyebabkan lemahnya umat Islam di hadapan umat lain.
Terdapat beberapa hadits yang menerangkan perintah Allah kepada hambaNya untuk
menjaga persatuan umat Islam (Ukhuwah Islamiyah) antara lain:
Dari
Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai
tiga hal dan membenci tiga hal. Tiga hal yang disukai Allah adalah:
  1. Menyembah hanya kepada
    Allah dan tidak mempersekutukanNya dengan suatu apapun.
  2. Berpegang eratlah
    kalian semua dengan tali Allah (bersatu) dan jangan berpecah belah.
  3. Saling memberi nasihat
    terutama antara pemimpin dan rakyat.
Dan
tiga hal yang dimurkai Allah adalah:
  1. Mempercayai isu/berita
    yang tak jelas kebenarannya.
  2. Bertanya yang tidak
    pada tempatnya.
  3. Berbuat mubazir atau
    berfoya-foya.
    ” (Ibnu Katsir,
    2/83; Shahih Muslim; 1715).

Penjelasan
Para Ulama

Mari kita telusuri pendapat para imam Salaf dalam pembahasan ini.

Imam
Qurthubi:

Dalam memahami kalimat “berpegang teguhlah pada tali Allah
beliau mengatakan, ‘
Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk selalu
bersatu dan melarang kita untuk berpecah belah. Sungguh perpecahan itu adalah
suatu kehancuran, sebaliknya persatuan (ukhuwah Islamiyah) adalah keberhasilan
karena berpegang teguh pada tali Allah; maka berpegang teguhlah dengan taliNya
yang kuat (al-‘urwatul wutsqa) yaitu Kitabullah.
‘ Sementara itu kalimat
jangan kalian berpecah” maksudnya berpecah dalam agama kamu
sebagaimana berpecahnya orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam agama mereka. Bisa
juga arti berpecah di sini bergolong-golongan mengikuti hawa nafsu dengan
berbagai macam tujuan duniawi yang menyebabkan banyaknya golongan-golongan
dalam agama ini. Oleh karena itu, satu-satunya jalan menghindari bencana ini
adalah bersatunya umat Islam dalam satu ikatan Allah yaitu Kitabullah.
(Al-Qurthubi, 4/159).


Untuk
itulah Allah mewajibkan kita agar berpegang teguh pada KitabNya serta sunnah
RasulNya dan menjadikan keduanya sebagai rujukan (referensi) dalam hidup ini,
terutama ketika terjadi perselisihan di antara kita. Allah juga memerintahkan
kita untuk selalu berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai keyakinan
yang diamalkan. Inilah jalan menuju persatuan umat Islam untuk kebaikan dunia
akhirat. (Al-Qurthubi, 4/164).

Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah:

Dalam hal ini berkata: ” Para
pengikut sunnah Rasul ` (Ahlus Sunnah) adalah kelompok manusia terbesar yang
bersatu dan saling mengasihi. Sebaliknya golongan mutakallimin dan filsafat
adalah kelompok manusia terbesar dalam pertikaian dan perselisihan.”
Beliau tambahkan pula: “Sesungguhnya dalam golongan Mu’tazilah banyak
terjadi pertikaian dan perselisihan. Satu sama lain saling mengkafirkan, bahkan
ada seorang murid yang menganggap kafir gurunya karena berselisih faham. Hal
ini tak mungkin dan tak akan pernah terjadi pada umat yang mengikuti perilaku
Nabi saw yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jika terjadi perselisihan
pada umat Islam dan mengakibatkan pertikaian bahkan permusuhan maka ketahuilah
bahwa hawa nafsu telah berperan di sini dan bukan lagi kebenaran.


Para
imam mujtahid Islam telah memberi contoh pada kita, walaupun mereka berbeda
pendapat dan berselisih paham dalam masalah kaifiyat (cara) pelaksanaan ibadah
tetapi mereka tetap bersatu dan saling kasih dalam Ukhuwah Islamiyah.”
Ditambahkan pula oleh beliau: “Perpecahan yang terjadi pada umat Islam
disebabkan banyaknya pengikut umat ini yang melakukan bid’ah dalam agama
mereka. Sementara persatuan (ukhuwah Islamiyah) yang terjadi di tengah umat ini
karena mereka berpegang teguh pada ajaran Islam murni dan otentik yang
disampaikan oleh para Salafus Shalih dari umat ini. Untuk itu para pengikut
sunnah Rasulullah saw pasti bersatu dan ahli bid’ah pasti dalam perpecahan.

(Majmu’, 4/53).

Ibnu
Qutaibah:

Ketika berbicara tentang golongan Mu’tazilah, beliau mengatakan: “Bahwa
golongan ini adalah kelompok manusia terbesar yang selalu berselisih paham dan
akhirnya satu sama lain saling bermusuhan. Jika dua orang pemimpin dari
golongan ini bertemu pasti terjadi perselisihan di antara keduanya. Dan setiap
orang dari pemimpin Mu’tazilah pasti mempunyai golongan/aliran yang berbeda
dengan pemimpin lainnya. Sebaliknya para imam mujtahid Ahlus Sunnah walaupun
perselisihan selalu terjadi di antara para sahabat juga tabi’in dalam hal fiqih
dan nahwu tapi mereka tetap dalam satu ikatan dan saling kasih dalam
persaudaraan Islam (Ukhwah Islamiah) dalam beragama.
” (Lihat kitab
Ikhtilafuhum fil Ushul).





Imam
Abul Qasim Al-Isbahani:

Beliau berkata: “Kelompok yang selalu merujuk segala sesuatu kepada
Al-Qur’an dan Al-Hadits (Ahlus Sunnah) selalu menjaga persatuan (Ukhuwah
Islamiah). Karena mereka selalu menjadikan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai
rujukan (referensi) segala permasalahan dunia maupun akhirat. Sebaliknya mereka
yang mengerjakan ibadah dengan bersumber kepada pendapat dan logika saja
(pelaku bid’ah) maka kita akan dapatkan mereka selalu dalam perpecahan.
Artinya, orang Islam yang rujukan agamanya tepat dan benar, mereka selalu ada
dalam persaudaraan, walaupun ada perbedaan dalam memahami suatu Hadits yang berbeda
kata atau kalimatnya. Sebaliknya pula bagi mereka yang rujukan agamanya tidak
tepat, seperti memahami agama hanya dengan logika dan pendapat pribadi, kita
akan dapatkan mereka selalu ada dalam perpecahan; karena otak dari setiap
individu mem-punyai pandangan berbeda satu dengan lainnya.


Mari
kita kembali telusuri kehidupan para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para
mujtahid setelahnya, mereka tetap bersatu meski berbeda pendapat dalam masalah
bersuci, perdagangan, pernikahan, perceraian dan masalah-masalah lainnya yang
memang pintu untuk perbedaan itu terbuka lebar. Walaupun demikian mereka tetap
ada dalam suatu barisan untuk meninggikan kalimat Allah. Hal ini bisa terjadi
karena mereka tetap merujuk pada referensi yang tepat yaitu Al-Qur’an dan
Al-Hadits sebagai pedoman.

Perbedaan
pendapat seperti ini justru menjadikan kedudukan mereka mulia dan terhormat,
inilah rahmat Allah untuk umat Islam. Dalam berselisih mereka bersaudara dalam
perbedaan mereka tetap saling hormat, oleh karena itu tali persaudaraan mereka
semakin kokoh.

Bersabda
Nabi saw, artinya: “Janganlah kalian saling hasud/dengki, saling marah,
saling memutuskan (persaudaraan) dan janganlah kalian saling bermu-suhan, akan
tetapi jadilah hamba Allah yang bersau-dara.
” (HR. Muslim).
Demikianlah yang seharusnya terjadi sesama muslim dan bukan sebaliknya.

Penutup

Imam Abu Abdillah dalam bukunya Al-Ibanah berkata: “Ketahuilah wahai
saudaraku, Allah telah menunjukkan kepada kita kebaikan dan persatuan, dan
telah menghindarkan kita dari perpecahan melalui kisah-kisah tentang umat yang
terdahulu dalam Al-Qur’an. Perpecahan yang terjadi pada mereka mengakibatkan
mereka berani mengingkari Allah dengan berusaha melanggar ajaranNya yang dibawa
para rasul dengan merubah ajaran tersebut. Juga Allah mengajarkan kepada kita
bahwa rasa dengki terhadap sesama disebabkan ditinggalkannya Al-Qur’an sebagai
rujukan dan pedoman hidup dan akhirnya keluarlah mereka dari rel yang
ditetapkan Allah.
” (Al-Ibanah, 1/270).



Abdullah
bin Mas’ud selalu berdo’a dalam dakwahnya: “Ya Allah, perbaikilah sesama
kami dan tunjukkanlah kami jalan damai dan keluarkanlah kami dari kegelapan
menuju pada cahaya dan jauhkanlah kami dari kenistaan, baik yang tampak maupun
yang tidak. Dan berkahilah bagi kami pendengaran kami, penglihatan kami, hati
kami, isteri kami, keturunan kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha
Pengampun dan Maha Penyayang dan jadikanlah kami orang yang bersyukur atas
nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan sempurnakanlah anugerah
tersebut bagi kami.” (Shahihul Bukhari fil adabil mufrad, hal. 235).
(Farizal Tarmizi)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ
القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ
وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ الله فَلاَ مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَوَاتُ
اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى كُلِّ رَسُوْلٍ أَرْسَلَهُ.

وَاعْلَمُوْا أنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ ، أَمَرَكُمْ بِالصَلاَةِ وَالسَلاَمِ
عَلَى نَبِيِّهِ الكَرِيْمِ فَقَالَ الله ُتَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:


أعوذ بالله من
الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن
الرحيم
{إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا
أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا}
اللّـهُمَّ صَلّ على
سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى
ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا
بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.
اللّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَعْوَاتِ يَاقَضِيَ
الحَاجَاتِ، اللّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ
وَالمُشْرِكِيْنَ، اللّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي
قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الكُفْرَ وَالفُسُوْقَ وَالعِسْيَانَ
وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَاشِدِيْنَ، اللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هذِهِ
القُلُوْبَ قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَى مَحَبَّتِكَ وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ
وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ شَرِيْعَتِكَ
فَوَثِّقِ اللّهُمَّ رَابِطَتَهَا وَأَدِمْ وُدَّهَا وَاهْدِهَا سُبُلَهَا
وَامْلَأْهَا بِنُوْرِكَ الَّذِيْ لاَ يَخْبُو وَاشْرَحْ صُدُوْرَهَا بِفَيْضِ
الإِيْمَانِ بِكَ وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَأَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ
وَأَمِتْهَا عَلَى الشَهَادَةِ فِي سَبِيْلِكَ إِنَّكَ نِعْمَ المَوْلَى وَنِعْمَ
النَّصِيْرُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عبادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يأمرُ بالعَدْلِ
والإحسانِ وإيتاءِ ذِي القربى وينهى عَنِ الفحشاءِ والمنكرِ والبَغي ، يعظُكُمْ
لعلَّكُمْ تذَكَّرون. اذكُروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكُروهُ يزِدْكُمْ
واستغفروه يغفِرْ لكُمْ واتّقوهُ يجعلْ لكُمْ مِنْ أمرِكُمْ مخرَجًا. وَأَقِمِ الصلاة .
Sumber:
Ad-Da’wah ilal i’tilaf wadzammi ‘alal ikhtilaf, karya Hay Al-Hay.
Oleh : 

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)