8BmEg4v8P7uY0xxaFhXUJ46gPclAwvFkbC47Z6LN
Bookmark

Biografi Ibnu Jarir At-Thabari

A. Latar Belakang

Dalam ajaran Islam orang yang menuntut ilmu pengetahuan mendapatkan sisi yang sangat mulia, bahkan hadis Nabi banyak memberikan dorongan untuk selalu menuntut ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan, berawal dari rasa ingin tahu manusia untuk memahami berbagai macam benda serta proses kehidupan sekitarnya. Rasa ingin tahu akan pengetahuan tersebut menjadi faktor penting dalam kehidupan manusia, karena dengan memiliki ilmu pengetahuan mereka dapat memperbaiki diri untuk bisa menghadapi kebutuhan hidupnya, menciptakan suatu pengetahuan-pengetahuan baru serta dapat menambah wawasan yang lebih luas lagi (Karim, 2014). Sebenarnya banyak sekali sarjana-sarjana muslim yang tampil dalam panggung sejarah. Dalam kitab Uyūn al-Anbā’ fi Ṭabaqat al-Aṭibba’ karangan Ibn Abi Ushaybi’ah, seorang ahli kedokteran abad ketiga belas, dimuat informasi dan biografi lebih dari tiga ratus lima puluh ilmuwan muslim. Ada ahli kedokteran, ahli kimia, geometri, geologi, geografi, matematika, astronomi dan sebagainya. Namun kali ini kami akan membahas salah satu Ilmuan Muslim yaitu Ibnu Jarir At-Thabari berikut penjelasannya.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana riwayat kehidupan dari Ibnu Jarir At-Thabari?
  2. Apa sajakah yang termasuk dalam karya-karya Ibnu Jarir At-Thabari?
  3. Apakah Metode Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsirnya?

C. Tujuan Pembahasan

  1. Untuk mengetahui riwayat perjalan kehidupan dari Ibnu Jarir At-Thabari
  2. Untuk Mengetahui karya Ibnu Jarir At-Thabari
  3. Untuk mengetahui metode Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsirnya

Riwayat Kehidupan Ibnu Jarir At-Thabari

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Ibnu Jarir ibn Yazid ibn Katsir ibn Ghakib At-Thabari. Beliau biasa juga dipanggil dengan sebutan (kunyah) Abu Ja’far namun lebih dikenal sebagai Ibnu Jarir atau ath-Thabari. Beliau merupakan seorang sejarawan dan pemikir muslim dari Persia, yang lahir dari kawasan Amol, Taristan ( sebelah selatan Laut Kaspia) tepatnya lahir pada tahun 224 Hijriyah. Semasa hidupnya, beliau belajar di kota Ray, Baghdad, kemudian Syam dan juga di Mesri. Adapun para ahli menyebutkan bahwa beliau tidak menikah semasa hidupnya.

Mulai tahun ke dua belas dari umurnya beliau mulai mengembara mencari banyak ilmu. Beliau telah melintasi beberapa daerah untuk memenuhi dahaganya dalam mencari ilmu. Dari beberapa daerah tersebut adalah Baghdad dan menetap hingga akhirnya wafat ditahun 310 Hijriyah. Di Baghdad beliau mengambil Mazhab Syafi’i dan Hasan Za’farani, kemudian Basra, di sana beliau belajar dengan gurunya Abu Abdullah as-Shan’ani. Sedangkan di Kufah beliau belajar dengan Tsa’lab.

Selama hidupnya, At-Thabari dikenal sebagai salah seorang cendekiawan yang pendapatnya atau fatwanya selalu di rujuk. Ia merupakan seorang ulama yang dikatakan menguasai seluruh keilmuan yang tidak tertandingi di masanya. Seorang penghafal al-Qur’an dan Hadis yang lengkap dengan pengetahuan akan makna dan kandungan fiqhnya serta cabang-cabang keilmuan yang ada di dalamnya.

Hidup dilingkungan yang mendukung penuh karir intelektual al-Thabari, tidak heran jika di waktu usia 7 tahun sudah hafal Al-Quran. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh al-Thabari Aku telah menghafal al-Qur‘an ketika berusia tujuh tahun dan menjadi imam shalat ketika aku berusia delapan tahun serta mulai menulis hadis–hadis nabi pada usia sembilan tahun.

Dalam bidang sejarah dan Fiqih, al-Thabari berangkat menuju Baghdad untuk menemui Imam Ahmad bin Hambal, tetapi diketahui telah wafat sebelum Ibnu Jarir sampai di negeri tersebut, untuk itu perjalanan dialihkan menuju ke Kufah dan di negeri ini mendalami hadis dan ilmu-ilmu yang berkenaan dengannya. Kecerdasan dan kekuatan hafalannya telah membuat kagum ulama- ulama di negeri itu. Kemudian al-Thabari berangkat ke Baghdad di sana mendalami ilmu-ilmu al-Qur‘an dan fiqih Imam Syafi’i pada ulama-ulama terkemuka di negeri tersebut, selanjutnya berangkat ke Syam untuk mengetahui aliran-aliran fiqih dan pemikiran-pemikiran yang ada di sana

Kota Bagdad, menjadi domisili terakhir al-T{abari, sejumlah karya telah berhasil ia telurkan dan akhirnya wafat pada Senin, 27 Syawwal 310  H  bertepatan dengan 17 Februari 923M. Kematiannya dishalati oleh  masyarakat siang dan malam hari hingga beberapa waktu setelah wafatnya.8  Ia wafat pada usia 86 tahun, yaitu pada tahun 310 Hijriah.9 Imam At-Thabarijuga sangat terkenal di Barat, biografinya pertama kali diterbitkan di Laiden pada tahun 1879-1910. Julius Welhousen menempatkan itu ketika membicarakan zaman (660-750) dalam buku The Arab Kingdom and its Fall.

Yang lain, Ibn Khillikan berkata, la termasuk imam mujtahid dan tidak bertaklid kepada siapapun. Dan sebelum sampai ke tingkat mujtahid, tampaknya ia  pengikut madzhab Syafi’i. A1-Khathib berkata, la salah seorang ilmuwan terkemuka. Pendapatnya menjadi pendapat hukum dan menjadi rujukan karena pengetahuan dan keutamaannya. la telah menghimpun ilmu yang tiada duanya pada masanya.

Karya Al-Thabari

Dalam dunia ilmu pengetahuan, al-Thabari terkenal tekun mendalami bidang-bidang ilmu yang dimilikinya, juga gigih dalam menambah ilmu pengetahuan. Sehingga dengan itu, banyak bidang ilmu yang dikuasainya. Di samping itu, At-Thabari  mampu menuangkan ilmu-ilmu yang dikuasainya ke dalam bentuk tulisan. Kitab-kitab karangannya mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti: tafsir, hadis, fikih, tauhid, ushul fikih, dan ilmu-ilmu bahasa Arab, juga ilmu kedokteran. Kitab-kitab karya At-Thabariakan tetapi, tidak diperoleh informasi yang pasti berapa banyak buku yang pernah ditulisnya, Karena karya-karya al-Thabari tidak semuanya sampai ke tangan kita sekarang. Diperkirakan banyak karyanya yang berkaitan dengan hukum lenyap bersamaan dengan lenyapnya Madzhab Jaririyah Lewat karya tulisnya yang cukup banyak dan sebagian besar dalam  bentuk kumpulan riwayat hadis dengan bahasa yang sangat indah, al-Thabari bukan saja terkenal seorang ilmuwan yang agung melainkan juga sebagai orang yang dikagumi berbagai pihak. Semua karya ilmiah At-Thabari yang diwariskan kepada kita, sebagian diketemukan dan sebagian yang lain belum diketemukan.

Diantara karya-karyanya seperti; 

–  Adab al-Manasik,

– Tarikh al-Umam wa al-Muluk atau kitab Ikhbar ar-Rasul al-Muluk.34

– Jami‘ al-Bayan  An Ta‘wil Ay al-Qur‘an atau dikenal pula dengan Jami‘ al – Bayan  An Tafsir Ay al- Qur‘an

  Kitab ini dicetak menjadi 30 juz di Kairo  pada tahun 1312 H. oleh al-Mathba‘ah al-Maimunah, kemudian dicetak kembali yang lebih bagus oleh al-Mathba‘ah al-Umairiyah antara tahun 1322- 1330 H. sebagaimana yang diterbitkan oleh Dar al-Ma‘arif Mesir edisi terbayang ditahqiq oleh Muhammad Mahmud Syakir .menjadi 15 jilid/ – Ikhtilaf Ulama‘ al-Amsar fi Ahkam Syara‘i al-Islam. Manuskrip ini ditemukan diperpustakaan Berlin. Kitab tersebut telah disebarluaskan oleh Doktor Frederick  dan dicetak oleh percetakan al-Mausu‘at di Mesir pada tahun 1320  H / 1902 M dengan jusul Ikhtilaf Fuqaha‘. Dan berjumlah 3000 lembar.

– Tahdzib  al-Asar wa  Tafsil  al – Sabit  ‗ an  Rasulillah  min  al – Akbar,    yang dinamakan oleh al-Qathi  dengan Syarh al-Asar.

Abu Ja`far (Al-T{abari) adalah seorang ulama fiqih, hadits,  tafsir,  nahwu,  bahasa  dan  `arudh.  Dalam  semua  bidang  tersebut  dia melahirkan karya bernilai tinggi yang mengungguli karya para pengarang lain.

a. Tafsir Jami‘ al – Bayan  An Ta‘wil Ay al – Qur‘an )

1. Sejarah Penulisan  

Kitab tafsir karya At-Thabari adalah Jami al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an adalah nama yang lebih masyhur, sedangkan nama yang diberikan oleh   al-Thabari adalah Jami al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an, ditulis pada akhir kurun yang ketiga dan mulai mengajarkan kitab karangannya ini kepada para muridnya dari tahun 283 sampai tahun 290 hijriah.16 Tafsir ini terdiri dari 30 juz yang masing-masing berjilid tebal dan besar, Kitab karya At-Thabari ini kemudian dicetak untuk pertama kalinya ketika beliau berusia 60 tahun ( 284 H/899 M ). Dengan terbitnya tafsir at- Thabari ini terbukalah khazanah  ilmu tafsir.

Disebutkan bahwa  tafsir  Ibnu  Jarir  At-Thabari ini  merupakan  tafsir  yang  pertama di antara sekian banyak kitab-kitab tafsir pada abad-abad pertama, juga sebagai tafsir pertama pada waktu itu karena merupakan kitab tafsir yang  pertama yang diketahui, sedangkan kitab-kitab tafsir yang mungkin ada sebelumnya telah hilang ditelan peradaban waktu atau zaman.17 Syekh al-Islam Taqi ad-Din Ahmad bin Taimiyah pernah ditanya tentang tafsir yang manakah yang lebih dekat dengan al-Qur‘an dan As-Sunnah? Beliau menjawab bahwa di antara semua tafsir yang ada pada kita, tafsir Muhammad bin Jarir At-Thabarilah yang paling otentik.18  Seorang  pemikir  kontemporer  pun dari  Al-Jazair  M. Arkoun  dalam   buku Berbagai Pembacaan al-Qur’an mengatakan tafsir At-Thabariini telah mendapatkan kewenangan yang tiada tara baik di kalangan kaum muslimin maupun di kalangan Islamolog. At-Thabari telah mengumpulkan dalam sebuah karya monumental yang terdiri dari tiga puluh jilid, satu jumlah yang mengesankan dari Akhbar (sekaligus berita, cerita-cerita, tradisi-tradisi dan informasi-informasi) yang tersebar di timur tengah yang bersuasana Islam selama tiga abad hijriyah. Dokumen yang sangat penting bagi sejarah ini belum dijadikan obyek monografi apapun yang mengakhiri gambaran mengenai At-Thabari sebagai mufassir yang “rakus obyektif” dengan ketidak perduliaannya akan isi berita- berita yang diriwayatkannya. Bentuk/corak Penafsiran Tafsir al-Thabari, dikenal sebagai tafsir bi al-ma‘sur, yang mendasarkan penafsirannya pada riwayat-riwayat yang bersumber dari Nabi saw. para sahabatnya, tabi‘in, dan tabi‘ al-tabi‘in. Ibnu Jarir dalam tafsirnya telah mengkompromikan antara riwayat dan dirayat. Dalam periwayatan ia biasanya tidak memeriksa rantai periwayatannya, meskipun kerap memberikan kritik sanad dengan melakukan ta‘dil dan tarjih tentang hadis-hadis itu sendiri tanpa memberikan paksaan apapun kepada pembaca. Sekalipun demikian, untuk menentukan makna yang paling tepat terhadap sebuah lafadz, At-Thabarijuga menggunakan ra‘yu.

Metode

Adapun metode yang dipakai oleh At-Thabari untuk menyusun tafsirnya adalah dengan metode tahlili, secara runtut yang pertama-tama al-Thabari lakukan, adalah membeberkan makna-makna kata dalam terminologi bahasa Arab disertai struktur linguistiknya, dan (I‘rab) kalau diperlukan. Pada saat tidak menemukan rujukan riwayat dari hadis, ia akan melakukan pemaknaan terhadap kalimat, dan  ia kuatkan dengan untaian bait syair dan prosa kuno yang berfungsi sebagai syawahid dan alat penyelidik bagi ketepatan pemahamannya.  Dengan langkah- langkah ini, proses tafsir (takwil) pun terjadi. Berhadapan dengan ayat-ayat yang saling berhubungan (munasabah) mau tidak mau al-Thabari harus menggunakan logika  (mantiq).

Metode  semacam  ini  temasuk  dalam  kategori  Tafsir   Tahlili dengan orientasi penafsiran bi al-ma‘sur dan bi ar-ra‘yi yang merupakan sebuah terobosan baru di bidang tafsir atas tradisi penafsiran yang berjalan sebelumnya.

Metode ini memungkinkan terjadinya dialog antara pembaca dengan teks-teks al-Qur‘an dan diharapkan adanya kemampuan untuk menangkap pesan-pesan yang didasarkan atas konteks kesejarahan yang kuat. Itulah sebabnya tafsir ini memiliki karakteristik tersendiri dibanding dengan tafsir- tafsir lainnya. Paling tidak analisis bahasa yang sarat dengan syair dan prosa Arab kuno, variasi qira‘at, perdebatan isu-isu bidang kalam, dan diskusi seputar kasus- kasus hukum tanpa harus melakukan klaim kebenaran subyektifnya, sehingga At-Thabari tidak menunjukkan sikap fanatisme mazhab atau alirannya. Kekritisannya mengantarkan pada satu kesimpulan bahwa al-Thabari termasuk mufasir professional dan konsisten dengan bidang sejarah yang beliau kuasai.

Selain itu, disamping sebagai mufasir, beliau juga pakar sejarah yang mana dalam penafsirannya yang berkenaan dengan historis beliau jelaskan panjang lebar dengan dukungan cerita-cerita israiliyat. Dengan pendekatan sejarah yang beliau gunakan tampak kecenderungannya yang independen. Beliau menyatakan bahwa ada dua konsep sejarah menurutnya: pertama, menekankan esensi ketauhidan  dari misi kenabian dan yang kedua, pentingnya pengalaman pengalaman dari umat dan pengalaman konsisten sepanjang zaman.

Berikut juga merupakan cara yang digunakan oleh al-Thabari dalam membeberkan tafsirnya:

a. Menempuh jalan tafsir dan atau takwil. Menurut al-Dzahabi, ketika al-Thabari akan menafsirkan suatu ayat, al- Thabari  selalu  mengawali  dengan  kalimat  تعالى  قوله  تأويل  فى  القول.  Kemudian, barulah menafsirkan ayat tersebut.

b. Menafsirkan Alquran dengan sunah/hadis (bi al-ma‘tsur). Al-Dzahabi menyatakan bahwa At-Thabaridalam menafsirkan suatu ayat selalu

menyebutkan riwayat-riwayat dari para sahabat beserta sanadnya.

c. Melakukan kompromi antar pendapat bila dimungkinkan, sejauh tidak kontradiktif dari berbagai aspek termasuk kesepadanan kualitas sanad

d. Pemaparan ragam qiraat dalam rangka mengungkap makna ayat. Al-Dzahabi berpendapat bahwa At-Thabarijuga menyebutkan berbagai macam qiraat dan menjelaskan penafsiran dari masing-masing qiraat tersebut serta menjelaskan hujjah dari ulama qiraat tersebut.

e. Menggunakan cerita-cerita israiliyat untuk menjelaskan penafsirannya yang berkenaan dengan historis. Al-Dzahabi menerangkan bahwa al-Thabari dalam penafsirannya yang berkenaan dengan sejarah menggunakan cerita-cerita israiliyat yang diriwayatkan dari Ka‘ab al-Ahbar, Wahab ibn Munabbih, Ibn Juraij, dan lain- lain.

f. Menjelaskan perdebatan di bidang fiqih dan teori hukum Islam untuk kepentingan analisis dan istinbath (penggalian dan penetapan) hukum.

Menurut penjelasan al-Dzahabi, At-Thabariselalu menjelaskan perbedaan pendapat antar mazhab fiqih tanpa mentarjih salah satu pendapat dengan pendekatan ilmiah yang kritis.

g. Menjelaskan perdebatan di bidang akidah, Al-Dzahabi menuturkan bahwa dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah akidah alThabari menjelaskan perbedaan pendapat antar golongan.

Penjelasan di atas sedikit menggambarkan, bahwa At-Thabari dipandang sebagai tokoh penting dalam jajaran mufasir klasik setelah masa tabi‘in-tabi‘in, karena lewat karya monumentalnya Jami‘ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur‘An mampu memberikan inspirasi baru bagi mufasir sesudahnya. Struktur penafsiran yang selama ini monolitik sejak zaman sahabat sampai abad 3 Hijriyah. Kehadiran tafsir ini memberikan aroma dan corak baru dalam bidang tafsir. Eksplorasi dan kekayaan sumber yang beraneka ragam terutama dalam hal makna kata dan penggunaan bahasa Arab yang telah dikenal secara luas di kalangan masyarakat.

Di sisi lain, tafsir ini sangat kental dengan riwayat-riwayat sebagai sumber penafsiran (ma‘tsur) yang disandarkan pada pendapat dan pandangan para sahabat, tabi-tabiin melalui hadis yang mereka riwayatkan. Untuk melihat seberapa jauh karakteristik sebuah tafsir, dapat dilihat, paling tidak, pada aspek aspek yang berkaitan dengan gaya bahasa, laun (corak) penafsiran, akurasi dan sumber penafsiran, konsistensi metodologis, sistematika, daya kritis, kecenderungan aliran (mazhab) yang diikuti dan objektivitas penafsirnya. Tiga ilmu yang tidak terlepas dari al-Thabari, yaitu tafsir, tarikh, dan fiqih.  Ketiga ilmu inilah yang pada dasarnya mewarnai tafsirnya. Dari sisi linguistik (lugah), Ibnu Jarir sangat memperhatikan penggunaan bahasa Arab sebagai pegangan dengan bertumpu pada syari-syair Arab kuno dalam menjelaskan makna kosa kata, acuh terhadap aliran-aliran ilmu gramatika bahasa nahwu), dan penggunaan bahasa Arab yang telah dikenal secara luas di kalangan masyarakat.

Sementara itu, al-Thabari sangat kental dengan riwayat-riwayat sebagai sumber penafsiran, yang disandarkan pada pendapat dan pandangan para sahabat, tabi‘in dan tabi‘ al-tabi‘in melalui hadis yang mereka riwayatkan (bi al-Ma‘sur). Semua itu diharapkan menjadi detector bagi ketepatan pemahamannya mengenai suatu kata atau kalimat. la juga menempuh jalan istinbat ketika menghadapi sebagian kasus hukum dan pemberian isyarat terhadap kata-kata yang samar i‘rabnya Aspek penting lainnya di dalam kitab tersebut adalah pemaparan qira‘ah secara variatif, dan dianalisis dengan cara dihubungkan dengan makna yang berbeda-beda, kemudian menjatuhkan pilihan pada satu qira‘ah tertentu yang ia anggap paling kuat dan tepat.

Di sisi yang lain, al-Thabari sebagai seorang ilmuwan, tidak terjebak dalam belenggu taqlid, terutama dalam mendiskusikan persoalan-persoalan fiqih. At-Thabariselalu berusaha untuk menjelaskan ajaran- ajaran Islam (kandungan al-Qur‘an) tanpa melibatkan diri dalam perselisihan dan perbedaan paham yang dapat menimbulkan perpecahan. Secara tidak langsung, al-Thabari telah berpartisipasi dalam upaya menciptakan iklim akademika yang sehat di tengah-tengah masyarakat di mana ia berada, dan tentu saja bagi generasi berikutnya

Kesimpulan

  1. Nama lengkap Ath-Thabari adalah Muhammad bin Jarir bin Kholid bin Katsir Abu Ja’far Ath-Thabari.
  2. Kitabnya,yakni Jami’ Al-Bayan fi TafsirAl-Qur’anmerupakan tafsir yang paling besar dan utama serta menjadi rujukan penting bagi para mufasir bil-ma’surKitab tafsir Jami’ Al Bayan atau dikenal dengan nama tafsir Al-Thabari ini merupakan tafsir yang boleh dikatakan tafsir terlengkap di antara tafsir-tafsir yang lain hingga saat ini. Hal ini dapat kita pahami dari lengkapnya unsur-unsur yang digunakan dalam penafsiran dengan menyebutkan riwayat dan sanad yang begitu lengkap.

Daftar Pustaka

Abidu, Yunus Hasan. Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufassir. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007

Qaththan_(al), Manna Khalal. Studi Ilmu-ilmu Qur’an. Jakarta: Litera Antar Nusa, Tth.

Ghufron, Muhammad. Ulumul Qur’an Praktis dan Mudah.Yogjakarta: Penerbit Teras, 2003.

Thamem Ushama, Metodologi Tafsir al-Qur’an, (Jakarta: Rineka, 2000), 153

Salimuddin, Tafsir al-Jami’ah, (Bandung: Pustaka, 1990), 135.

Posting Komentar

Posting Komentar